A Guide to Measure Life in Points dan Cerita di Balik Wood Pencil D&AD 2025

Bulan lalu, riuh selebrasi memenuhi ruang-ruang komunitas desain grafis di Indonesia—kabar baik datang dari London, tepatnya dari D&AD Awards 2025 yang malam puncaknya digelar pada 22 Mei 2025. A Guide to Measure Life in Points: The Second Edition, sebuah buku rancangan Studio Woork berhasil membawa pulang penghargaan Wood Pencil untuk kategori Typography / Publications. D&AD Awards sendiri mendeskripsikan A Guide to Measure Life in Points: The Second Edition sebagai panduan sekaligus teman perjalanan yang membantu kita, baik desainer maupun publik, menavigasi tantangan dalam memilih ukuran poin yang tepat untuk medium yang tepat. 

Di tengah siang yang masih diwarnai perasaan bangga, Grafis Masa Kini berbincang dengan Io Woo (Art Director) dan Eugenius Krisna (Graphic Designer dan Typographer) untuk mendengarkan perjalanan di balik buku A Guide to Measure Life in Points: The Second Edition, serta kemenangannya di D&AD Awards 2025.

“Ini kan masih beberapa minggu yang lalu, masih enggak expect, sih,” seru Eugene, membuka perbincangan. Gelar pemenang Wood Pencil D&AD Awards 2025 masih terasa surreal bagi Eugene dan Io. Dari awal pendaftaran, ada banyak sekali tantangan—mulai dari persyaratan yang kompleks hingga mengetahui studio apa saja yang mendaftar. Maka, ketika pagi di mana kabar baik itu datang, tak terbayang betapa besar syukur dan bahagia yang dirasakan Io dan Eugene.

“D&AD Awards ini kan susah, terus, siapalah kami dari Indonesia. Tapi, semangat yang ingin kami bangun adalah menunjukkan bahwa Indonesia itu ada potensi-potensi yang berkembang dan bisa diterima di dunia desain internasional,” imbuh Io. Bagi Studio Woork, kemenangan ini merupakan pencapaian yang membuktikan bahwa yang “muda” juga mampu bersaing hingga ke kancah internasional. “Perlahan-lahan, semoga ini membuka banyak kemenangan bagi Indonesia di tahun-tahun berikutnya,” tutur Io.

zoom-1

Perjalanan Studio Woork menuju D&AD Awards bukan tanpa liku dan keraguan. Ketika ditanya bagaimana proses mereka memilih proyek ini untuk dikirimkan ke ajang bergengsi tersebut, Eugene tak menampik ada rasa tak percaya diri. “Aku sebenarnya minder,” ungkapnya, dilanjut dengan tawa. “Jadi pada saat pendaftaran, dari Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) juga mengkurasi. Ada sekitar sepuluh studio yang bakal di-support sama ADGI,” ungkapnya. Namun, melihat nama-nama studio lain yang turut mendaftar sempat membuatnya tak percaya diri. Apalagi, ini merupakan pertama kalinya Studio Woork mencoba peruntungan di D&AD.

Berbeda dengan Eugene, Io justru sejak awal memiliki keyakinan yang cukup kuat pada proyek ini. “Waktu submit si buku ini, pertimbangan kami adalah bagaimana objektif dari D&AD ini kan bicara soal desain yang berdampak. Dari semua proyek yang kita punya, yang paling bisa menolong banyak orang lewat desain ya buku ini,” jelasnya. Terlebih, edisi kedua A Guide to Measure Life in Points benar-benar digarap dari nol—mulai dari perancangan tipografi in-house hingga proses cetak yang penuh perhatian pada detail. “Merasa effort dan perjuangan di proyek ini tuh sepertinya patut dapat pengakuan,” tambah Io. Maka, meski ada keraguan di awal, keyakinan terhadap kualitas proyek menjadi alasan kuat mereka memilih buku ini untuk mewakili Studio Woork di D&AD Awards 2025.

Urgensi utama lahirnya buku A Guide to Measure Life in Points sejatinya berakar dari kebutuhan di ruang kerja Studio Woork sendiri. Io mengingat kembali bagaimana proyek ini bermula dari keresahan sederhana—setiap kali melakukan test print untuk keperluan signage atau material cetak lainnya, tumpukan kertas hasil percobaan justru berujung menjadi sampah.  “Bayangin kalau setahun tuh berapa banyak yang terbuang,” keluhnya. 

Pada edisi pertamanya, buku ini memang dirancang untuk kebutuhan internal, hingga kemudian berkembang menjadi produk publik lantaran tingginya minat dari komunitas desain. Proses tersebut membuka jalan bagi Studio Woork untuk mengembangkan edisi kedua dengan pendekatan yang lebih matang. “Kami banyak ngobrol sama desainer lain juga, apa saja sih kekurangan dari edisi pertama. Nah, dari situ kami coba lengkapi semua celahnya,” jelas Io. 

zoom-2

Salah satu pembaruan paling signifikan dari edisi kedua ini terletak pada tipografinya. Lewat perancangan Eugenius Krisna, Studio Woork memperkenalkan Apple & Worm Sans, sebuah jenis huruf baru yang secara khusus dirancang untuk kebutuhan cetak dalam skala besar. “Yang paling besar kami bikin sampai 600 poin. Itu sudah cukup banget buat kebutuhan signage, seperti wayfinding di kantor atau bahkan outdoor,” jelas Eugene. Perluasan ukuran ini menjadi unique selling point tersendiri, mengingat edisi pertama lebih berfokus pada kebutuhan cetak biasa seperti buku atau poster. Kini, A Guide to Measure Life in Points merambah ke ranah yang lebih luas—mengakomodasi kebutuhan para desainer terhadap signage dan wayfinding.

Lebih dari sekadar buku panduan untuk desainer profesional, Io dan Eugenius menegaskan bahwa proyek ini juga ditujukan bagi masyarakat yang masih awam terhadap tipografi. Studio Woork menyusun pembahasan khusus tentang dasar-dasar tipografi, mulai dari terminologi, anatomi huruf, hingga istilah-istilah yang kerap terdengar asing bagi orang di luar dunia desain. “Kami ingin buku ini tuh bisa dipahami siapa saja, bahkan yang cuma penasaran atau baru mau belajar tentang desain dan tipografi,” kata Eugene. Pendekatan ini membuktikan bahwa Studio Woork dalam proyek ini mengejar tidak hanya estetika, tetapi juga fungsi edukatif yang konkret.

Secara desain, buku ini pun mengedepankan prinsip straightforward—menghindari elemen visual berlebihan agar fokus pembaca tetap pada tipografi dan informasinya. “Estetikanya bersih, mudah dibaca, mudah dipahami,” jelas Io. Prinsip ini sejalan dengan semangat utama buku tersebut: efisiensi. Tidak hanya efisiensi waktu dan tenaga, tetapi juga efisiensi material.

Pencapaian A Guide to Measure Life in Points: The Second Edition patut dirayakan oleh komunitas desain grafis di Indonesia. Tak hanya karena gelar dan trofi bergengsi dari D&AD Awards, tapi juga posisi desain grafis Indonesia di kancah internasional yang semakin kuat dan menjanjikan—yang saat ini jalannya dibuka lebih luas oleh Studio Woork.

web-19
web-20
web-21
web-22
web-23
web-24
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.