Illustrated Ramadan Jakarta: Bahasa Visual Baru untuk Bulan Suci

Bulan Maret menandai masuknya Ramadan, yang dirayakan oleh umat Muslim sebagai bulan suci untuk berpuasa, mengenang, dan berefleksi. Di luar introspeksi pribadi, Ramadan juga telah berkembang menjadi bulan perayaan bersama, baik di dalam maupun di luar komunitas Muslim; non-Muslim turut berpartisipasi dalam puasa, berburu takjil, dan Buka Bersama telah menjadi perayaan umum yang mempertemukan keluarga, teman, serta rekan kerja dari berbagai latar belakang untuk berkumpul dan menikmati hidangan bersama. Dalam beberapa tahun terakhir, Ramadan telah berkembang menjadi sebuah ritual publik—yang dimiliki dan terbuka bagi semua orang.

Semangat keterbukaan ini menghadirkan lebih banyak hiruk-pikuk di seluruh Jakarta ketika orang-orang bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Restoran buka hingga pukul dua pagi untuk memfasilitasi mereka yang bersiap untuk sahur; kafe menyajikan hidangan penutup khusus dengan perpaduan rasa (misalnya kurma x matcha, dan lain-lain) yang mengingatkan pada bulan suci; dan berbagai acara terus memicu partisipasi publik. Di antara banyak kegiatan tersebut, JICAF (dikenal sebagai Jakarta Illustration and Creative Fair) menghadirkan kegembiraan tersendiri dengan membawa pendekatan kontemporer terhadap perayaan Ramadan.

Dari 6 hingga 15 Maret 2026, JICAF meluncurkan Illustrated Ramadan Jakarta di Ashta 8 District yang mempertemukan para ilustrator regional untuk merancang visi baru tentang Ramadan. Acara ini digagas sebagai respons atas ketidakpuasan mereka terhadap bahasa visual yang selama ini (dan cukup populer) dikaitkan dengan Ramadan, karena tim penyelenggara menilai bahwa “bahasa visual tersebut tetap repetitif, generik, dan tidak terhubung dengan cara hidup generasi muda Indonesia saat ini.” Melalui Illustrated Ramadan Jakarta, mereka berupaya membayangkan cahaya baru bagi bulan suci ini; sebuah pendekatan yang minimalis, ekspresif, kosmopolitan, sekaligus mengakar pada pengalaman mereka sendiri.


Didorong oleh pendekatan kuratorial yang menekankan kepedulian dan komunitas, Illustrated Ramadan Jakarta menghadirkan berbagai program: pameran ilustrasi kontemporer yang terinspirasi dari nilai-nilai Islam, marketplace terkurasi bagi mereka yang ingin menyiapkan hampers untuk hadiah Ramadan, rangkaian diskusi dan lokakarya yang intim, serta malam-malam kebersamaan untuk berbuka puasa.

Bertajuk “Light Upon Light”, pameran ini menjadi jawaban atas ambisi mereka untuk merancang ulang visual Ramadan, di mana sejumlah ilustrator akan menampilkan karya yang mengeksplorasi tema kesabaran, pembaruan, kemurahan hati, dan pencerahan—nilai-nilai yang sangat lekat dan dipupuk sepanjang bulan suci. Katalog pameran sebagian besar menampilkan komposisi modern dengan penggunaan warna yang lebih terbatas, mencerminkan preferensi gaya desain yang semakin berkembang di kalangan generasi muda Indonesia sekaligus menjadi penghormatan terhadap upaya menyeimbangkan unsur kontemplatif dan kontemporer. Seniman yang berpartisipasi antara lain Naime Pakniyat, Nugraha Pratama, Ceyza Amera, Ummi Damas, Eyalilut, Ria Ridwana, Maryam Nisa, dan banyak lagi.

JICAF juga melanjutkan konsep khas mereka, “supermarket of art”, yang memposisikan seni sebagai sesuatu yang dapat hidup bersama kita, bukan sekadar untuk diamati. Melalui Gifting Market, JICAF menawarkan pilihan cetakan karya, objek, edisi terbatas, kolaborasi, dan berbagai benda kecil yang dirancang khusus untuk pemberian hadiah selama bulan suci. Tujuannya adalah membawa serta membagikan keindahan dan makna melalui objek-objek tersebut, sehingga dapat diakses dan hadir di rumah siapa pun.

Dengan demikian, Illustrated Ramadan Jakarta menghadirkan bentuk baru perayaan Ramadan yang tidak hanya selaras dengan gaya hidup masyarakat Jakarta, tetapi juga tetap menghormati nilai-nilai penting dari bulan suci tersebut. Melalui cetakan seni dan diskusi, JICAF menempatkan makna yang mendalam dalam ekspresi kreatif.


web-14
web-15
web-16
web-17
web-18
web-19
About the Author

Sabrina Citra

Sabrina Citra is a researcher who is based in Jakarta. She is currently interested in the intersection of aesthetics, cultural studies and language/linguistics.