Kohort ke-13 AMP Melangkah Maju dengan “AARO”
Berlangsung dari 17 April hingga 11 Mei 2026, Atreyu Moniaga Project (AMP) merayakan iterasi ke-13 dengan pembukaan pameran bertajuk “AARO” di CAN’S Gallery. Nama tersebut merupakan singkatan dari empat seniman — Ada Khansa, Ansn Martin, Red Maerra, dan Oddyendry — yang menjadi bagian dari angkatan ke-13 program AMP yang dimulai sejak September 2024.
Didirikan pada tahun 2013, AMP Project merupakan program inkubasi intensif yang dirancang untuk melatih seniman muda, mulai dari mengembangkan portofolio dan jaringan, memproduksi pameran, hingga mendapatkan arahan dan mentorship untuk membangun karier mereka.
Inisiator sekaligus Mentor Utama, Atreyu Moniaga, membentuk program ini untuk membenamkan para pesertanya langsung ke dalam dunia seni, dan memperkenalkan mereka pada berbagai macam proses untuk bertahan di industri seni rupa: “Kita sering lupa bahwa menjadi seniman terlihat seperti kehidupan yang glamor dan tanpa beban seperti berkarya dengan penuh gairah, berpesta, menghadiri acara keren, dan selalu tampil stylish. Kita sering mengabaikan sisi lainnya, bagian yang membosankan, melelahkan, bahkan menyakitkan seperti revisi, tenggat waktu, konflik dengan tim sendiri, serta segala carut marut dalam produksi pameran.”
Atreyu juga mengungkapkan rasa bangganya terhadap AARO, yang tetap solid dan menunjukkan kegigihan sepanjang program berlangsung. Para seniman ini mewujudkan etos bersama mereka ke dalam judul pameran, dengan menyatakan bahwa AARO juga merepresentasikan istilah yang berarti “tangguh seperti gunung.” Kerja keras mereka menghasilkan tubuh karya yang ekstensif, dengan masing-masing seniman menghadirkan 10–15 lukisan yang merespons tema coming-of-age, dimana setiap karya menjadi perenungan mereka tentang identitas dan masa muda.
Ada Khansa menghadirkan ‘Sandbox’, di mana ia menggambarkan pergulatan masa kecilnya dan jejaknya yang terus melekat hingga dewasa. Sementara itu, Ansn Martin merefleksikan kerapuhan diri melalui ‘WOY!’. Red Maerra mengulas paradoks keterasingan dalam keterhubungan dunia masa kini lewat ‘ASLPLS’. Oddyendry mengurai perjalanan pulangnya dalam ‘Tungkal’, di mana karya-karyanya menggambarkan titik penerimaan masa lalunya.
Melalui rangkaian seri individual tersebut, setiap seniman menegaskan gaya khas mereka, sekaligus meresmikan kehadiran publik mereka sebagai sebuah kolektif. “Menarik sekali melihat kedekatan mereka satu sama lain,” ujar Manajer Program CAN’S Gallery, Ajeng Martia Saputri, saat ditanya mengenai kolektif ini.
“Mereka membawa energi yang segar. Saya jarang melihat sekelompok seniman yang mampu menyatukan identitas publik mereka dengan karya-karyanya. Mereka juga membawa diri dengan sangat baik, dan karena itu mereka berhasil menarik audiens yang serupa — yang membawa energi yang berani dan eklektik,” lanjutnya.
Seiring AARO terbentang di dinding CAN’S Gallery, pameran ini menjadi penanda ketahanan, kebersamaan, dan kerja panjang di balik pertumbuhan artistik kolektif ini. Dalam banyak hal, pameran ini mencerminkan etos yang ingin ditanamkan oleh Atreyu Moniaga: bahwa menjadi seniman bukanlah perjalanan soliter yang ditentukan oleh momen inspirasi sesaat, melainkan komitmen berkelanjutan terhadap proses, ketekunan, dan komunitas. AARO mewarisi keyakinan tersebut, membentuk individualitas sebagai praktik sekaligus identitas bersama.
Seiring berakhirnya iterasi ke-13 program ini, AARO bukanlah sebuah titik akhir, melainkan ambang baru bagi para seniman muda ini. Bagi Ada Khansa, Ansn Martin, Red Maerra, dan Oddyendry, pameran ini menandai awal dari perjalanan mereka yang terus berkembang — berakar kuat pada pondasi yang telah mereka bangun bersama, sekaligus terbuka pada berbagai kemungkinan yang tak terduga di masa depan.