Astro Ruby dan Eksperimen Artistiknya

Nibras, ilustrator muda asal Bandung yang dikenal dengan nama Astro Ruby, mencuri perhatian dengan gaya ilustrasinya yang khas—karakter perempuan dengan palet warna yang eksploratif namun tetap membumi. Dalam beberapa tahun terakhir ini, karya-karya Astro Ruby semakin dikenal luas, baik melalui kolaborasi dengan berbagai jenama besar maupun akun media sosialnya yang terus berkembang. Perjalanan Astro Ruby di dunia ilustrasi adalah kisah yang panjang dan penuh eksperimen. Kepada Grafis Masa Kini, Nibras berbagi soal perjalanan artistiknya.

Darah seni telah mengalir di tubuh Nibras. Ketertarikannya pada kegiatan menggambar terbentuk sejak usia dini. Ibu Nibras, yang memiliki latar belakang pendidikan seni, menjadi sosok yang pertama kali memperkenalkan seni visual dan desain kepadanya. "Kalau gambar-gambar, aku sudah gambar dari kecil ya. Ibuku kuliahnya sempat DKV (Desain Komunikasi Visual), jadi dari kecil udah diajarin gambar," kenang Nibras. Meski sudah terbiasa dengan menggambar sejak kecil, langkahnya menuju karier sebagai ilustrator dimulai saat ia menjalani homeschooling selama SMA. "Dulu aku homeschooling, temannya nggak banyak, dan kegiatannya membosankan. Jadi, aku gambar untuk melampiaskan hari-hari yang membosankan itu," ujar Nibras. Proses belajar mandiri di rumah tersebut ternyata memperdalam kecintaannya terhadap seni. Dengan waktu luang bersama diri sendiri, Nibras mulai menjelajahi kemampuan menggambar yang ia miliki dan mengasahnya secara intens. 

Kesempatan pertama yang membuka pintu dunia profesionalnya datang saat ia mendapatkan komisi pertama. "Komisi pertama kali dapat waktu SMA, kenalan keluarga kasih kesempatan untuk bikin cover bukunya," ujar Nibras. Sejak saat itu, ia mulai menerima berbagai peluang sebagai ilustrator dan terlibat dengan komunitas komik di Bandung sambil terus mengembangkan identitas visual yang kelak akan dikenal luas dengan nama Astro Ruby. Lucunya, nama Astro Ruby memiliki cerita unik. Sebagai seorang yang tertarik pada ilmu pengetahuan, khususnya astronomi, Nibras terinspirasi dari nama-nama astronot yang sering ia temui di internet. "Aku senang pelajaran matematika, fisika, astronomi, jadi obsesiku itu. Nama Astro Ruby ngikutin nama-nama astronot, terutama astronot Amerika yang pakai ‘astro’ di depan nama mereka," jelasnya. Sementara itu, "Ruby" diambil dari gemstone (batu mulia) yang diasosiasikan dengan Juli, bulan ketika akun Astro Ruby pertama kali dibuat.

Karakter khas Astro Ruby tidak lahir begitu saja sebagai identitas artistik ilustrator yang melanjutkan pendidikan seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini—semua berangkat dari eksperimen yang dipicu oleh pertanyaan Nibras: "Bisa nggak bikin satu karakter fiksi tapi orang menganggap karakternya nyata?". Pertanyaan ini melahirkan karakter perempuan khas Astro Ruby. Pada awalnya, Astro Ruby menggambar karakter laki-laki, namun seiring waktu, Nibras merasa karakter perempuan lebih cocok dengan narasi visual yang ingin ia kembangkan. "Aku mulai dengan membuat komik-komik sederhana di Instagram," kata Nibras. Eksperimen Nibras bisa dianggap sukses karena karakter perempuan Astro Ruby mulai dianggap nyata oleh pengikutnya di media sosial. Orang-orang percaya bahwa Astro Ruby adalah sosok perempuan dan karyanya merupakan gambaran dari identitas sang ilustrator, hingga tak jarang ada yang mengirim pesan pribadi, mengajak kenalan, bahkan berniat menjalin hubungan.


Pada satu titik, Nibras harus mengungkapkan identitas sebenarnya dari Astro Ruby. Momen tersebut terjadi saat Nibras mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan proyek Google Doodle yang merayakan sosok legenda musik Indonesia, Chrisye. Proyek ini memberikan publisitas besar bagi Nibras, yang akhirnya membuat identitas dirinya sebagai ilustrator laki-laki terungkap di media. Tak sedikit pengikutnya yang merasa kecewa ketika mengetahui Astro Ruby bukan sosok perempuan. "Aku bikin postingan reveal identitas, dan akhirnya sekitar empat sampai lima ribu orang unfollow," kata Nibras. Meski demikian, momen tersebut menjadi titik balik dalam kariernya, di mana ia semakin mantap membawa Astro Ruby sebagai sebuah entitas yang lebih besar dari sekadar karakter fiksi.

Penikmat karya Astro Ruby sering mengungkapkan bahwa salah satu hal yang paling menonjol dari karya-karya Nibras adalah palet warna yang khas. Namun, ketika ditanya bagaimana ia menemukan identitas visualnya tersebut, Nibras mengaku prosesnya sangat alami. Dalam banyak hal, Nibras terinspirasi dari karya-karya yang ia lihat dan sukai, lalu mengadopsi elemen-elemen tertentu hingga akhirnya terbentuk gaya visualnya sendiri.

Dalam perjalanan kariernya sebagai ilustrator, Astro Ruby telah berkolaborasi dengan banyak brand dan proyek besar seperti Wardah, Marie Regal Biscuits, hingga Keraton Yogyakarta. Seperti yang sempat diceritakan Nibras, salah satu kolaborasi yang berkesan adalah ketika ia dipercaya untuk mengerjakan Google Doodle dalam rangka ulang tahun penyanyi legendaris Chrisye. "Kesempatan itu datang karena aku aktif upload karya di Behance. Ada editor Google Doodle yang lihat karyaku, dia langsung hubungin dan aku terima tawarannya," ungkap Nibras. Meskipun awalnya proyek tersebut direncanakan untuk merayakan 17 Agustus, editor Google Doodle merasa gaya gambar Astro Ruby dengan fokus pada figur manusia lebih cocok untuk menggambarkan Chrisye. Kolaborasi lainnya yang tidak kalah besar adalah proyek dengan Netflix untuk film Dear David. Dalam proyek ini, Astro Ruby bersama beberapa ilustrator lainnya diajak untuk merespons tema utama film tersebut dalam sebuah pameran seni.

Astro Ruby juga kembali dipanggil oleh Keraton Yogyakarta untuk ikut serta dalam pameran seni mereka di bulan Oktober mendatang, setelah sebelumnya berpartisipasi dalam acara yang sama tahun lalu. Karya Nibras untuk Keraton Yogyakarta yang kaya akan unsur budaya membawanya pada kolaborasi dengan ENDE, sebuah jenama mode yang terinspirasi dari tradisi. Ilustrasi karya Nibras dibordir pada produk tas ENDE yang mengangkat tema dua perempuan berpengaruh dalam sejarah Indonesia: Fatmawati dan Keumalahayati. “Prosesnya cukup cepat, cuma satu bulan kurang. Awalnya diajak karena mereka lihat kerjaanku di pameran Keraton Yogyakarta. Mereka tertarik karena ada unsur budayanya dan brand mereka berhubungan dengan budaya,” jelas Nibras. Proyek ini memberikan tantangan tersendiri bagi Nibras dalam proses riset dan pencarian referensi visual.

Perjalanan Nibras bersama Astro Ruby belum berhenti di sini.  Baginya, Astro Ruby tidak hanya sebatas proyek ilustrasi. Ia memiliki visi untuk mengembangkan Astro Ruby menjadi sebuah jenama yang lebih besar, terpisah dari dirinya sebagai seniman. "Aku pengen bawa Astro Ruby jadi kayak brand sendiri. Nggak cuma ilustrasi, aku ingin bikin karya lain seperti mainan," ungkapnya. Sebagai langkah awal, Nibras telah bereksperimen dengan paper toys dan mencoba membuat mainan 3D. Bahkan, tugas akhirnya di bangku kuliah pun berfokus pada mainan, menunjukkan bahwa karakter fiksinya tidak hanya berhenti pada karya dua dimensi.  Astro Ruby adalah bukti bahwa ilustrator muda mampu menciptakan karya khas yang diakui, dan di waktu yang bersamaan terus berkembang untuk mimpi yang lebih besar.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
Slide-9
Slide-10
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.