Atreyu Moniaga Project: Ruang Penuh Dukungan bagi Seniman Muda untuk Bertumbuh

Atreyu Moniaga dikenal dengan karya lukisannya yang detail, penuh simbolisme dengan makna mendalam tentang pencarian jati diri. Nama sang seniman sudah tak asing lagi di dunia kreatif. Karyanya pun selalu tampil di berbagai platform, mulai dari pameran hingga kolaborasi bersama jenama ternama. Selain sukses sebagai seniman visual, Atreyu Moniaga juga berbagi ilmunya dengan membina bakat-bakat muda dalam bidang ilustrasi dan fotografi. Lewat Atreyu Moniaga Project (AMP), sebuah inisiatif visioner, Atreyu Moniaga memberikan wadah pembinaan dan berkarya bagi seniman muda untuk memperluas keragaman ekspresi artistik mereka sejak 2013. Tahun ini, Atreyu Moniaga Project kembali dengan angkatan baru, yaitu Mixed Feelings Ad Maiora yang akan melaksanakan pameran  pada 12 Juli mendatang. Ad Maiora memperkenalkan 3 seniman perempuan; Clasutta, Zita Nuella, dan Tusita Mangalani yang sedang menggapai mimpinya untuk menjadi seniman profesional. Kepada Grafis Masa Kini, Clasutta, captain dari Atreyu Moniaga Project angkatan ke-12 - Mixed Feelings Ad Maiora, berbagi soal proyek ini dan bagaimana setiap prosesnya membuka kesempatan bagi para seniman muda.

Menurut penuturan Clasutta, Atreyu Moniaga Project merupakan langkah nyata yang diambil oleh Atreyu untuk membantu mengembangkan seniman muda sebelum terjun ke dunia kreatif yang profesional. “Dulu, selain berkarier sebagai seniman, Kak Atre juga bekerja sebagai dosen. Beliau berinisiasi untuk menciptakan program untuk nge-drive mahasiswanya agar dapat mengenal dan mampu berkarier di dunia profesional,” cerita Clasutta. Lebih lanjut, Clasutta menjelaskan bahwa Atreyu Moniaga Project memiliki dua fokus program yaitu fotografi, ST/ART, dan seni visual, Mixed Feelings. Pembinaan yang ada di dalam proyek ini di luar metode atau kurikulum yang ditemukan seniman muda di institusi pendidikan seni. “Karena dunia kuliah dan kerja itu kan dua hal yang berbeda, Kak Atre membantu kita siap untuk masuk ke dunia profesional,” imbuh Clasutta.

Zoom-1

Dalam perjalanannya bersama Atreyu Moniaga Project, seniman yang akrab disapa Sutta ini mengungkapkan bahwa Atreyu Moniaga selalu membimbing proses inkubasi para seniman. Dalam misinya, Atreyu Moniaga Project dari awal ingin mendampingi anak muda menuju perjalanan transformatif sebagai seniman. Tak hanya soal teknis kekaryaan, Atreyu Moniaga juga melatih pola pikir anak didiknya. Program Atreyu Moniaga Project ini juga menanamkan keterampilan wirausaha, penyusunan portofolio, hingga bagaimana tampil di depan publik. “Dari dulu aku selalu ingin menjadikan hobi gambarku sebagai karier utama. Kak Atre membimbing kami dengan kasih tahu how to-nya. Kita juga tidak hanya diasah secara karya, tapi juga secara pribadi dan persona kita sebagai seniman,” jelas Sutta. Di luar kekaryaan, Atreyu Moniaga mengasah anak didiknya dalam berjejaring dengan dunia kreatif; kurator, media, hingga sesama seniman. Untuk membangun persona yang cocok dengan karakteristik seniman dan karyanya, Atreyu juga memberikan masukan kepada anak didiknya untuk memilih gaya yang akan mereka implementasikan sesuai dengan pribadi masing-masing, hingga cara berinteraksi dengan orang lain. 

Lebih dari itu, Atreyu Moniaga Project juga menjadi wadah pengembangan karakter anak muda yang tertarik di dunia seni. Harapannya, seniman-seniman muda dapat tumbuh menjadi seniman yang memiliki ketahanan dalam menangani kritik dan penolakan, serta memupuk pikiran positif. Clasutta menambahkan bahwa Atreyu Moniaga percaya bahwa dalam dunia kreatif, bukan kekaryaan saja yang penting, melainkan karakter seniman yang dapat bertanggung jawab atas karyanya. Tak hanya Sutta, Tusita dan Zita pun merasakan perubahan pada karakter mereka sebagai seniman setelah mengikuti serangkaian pembelajaran dari Atreyu Moniaga. “Kita diajarkan berkarya tapi yang penting bukan hanya itu, kita juga networking, bangun self-management. Kak Atre benar-benar ubah mindset kita. Jadi, kita digembleng juga soal personality. Kita harus punya karakter untuk bisa thrive di dunia seni,” cerita Tusita.

Zoom-2

Target akhir dari Atreyu Moniaga Project ini adalah pameran seni dan artbook yang menandai kelulusan dari setiap angkatan. Para seniman muda akan membuat sebuah pameran dan merumuskan gagasannya sendiri. “Setelah dimentori langsung oleh Kak Atre selama kurang lebih satu tahun, kami dibekali untuk dapat membuat pameran sendiri. Setiap angkatan memiliki ceritanya masing-masing yang menjadi benang merah di antara rangers (partisipan Atreyu Moniaga Project),” tutur Sutta. Pameran yang menjadi “tugas akhir” ini penting karena seniman akan belajar mempresentasikan karyanya di hadapan publik, menjadi exposure, dan membuka jejaring lebih luas lagi.

Perjalanan seniman muda yang tergabung dalam Atreyu Moniaga Project angkatan tahun ini pun akan segera mencapai pameran akhirnya. Clasutta bersama Zita Nuella dan Tusita Mangalani anak menampilkan karya-karya mereka buah pembelajaran di Atreyu Moniaga Project. “Ad Maiora, nama angkatan kita artinya towards greater things. Kami sengaja pakai nama itu karena kami bertiga menuju hal yang lebih baik,” ungkap Zita. Dalam pameran ini, secara garis besar Tusita akan membicarakan soal painful experience dalam perjalanan hidup. Dengan mixed media, Tusita menceritakan pengalaman-pengalaman kelamnya lewat visual yang cantik—membuka perspektif lain dari sebuah kesedihan. Di lain sisi, Zita lewat goresan-goresan arangnya akan menceritakan perjalanan menemukan ketenangan dalam kesendirian. Berfokus pada ilustrasi, Clasutta akan memberikan sentuhan humor dan sarkas di visual tentang problematika keseharian. Pameran Mixed Feelings: Ad Maiora akan digelar pada 12 Juli mendatang.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.