Di Balik Lukisan Talitha Nashtiti untuk Billboard Pocari Sweat Indonesia
Pocari Sweat Indonesia meluncurkan desain baru untuk kemasan kaleng mereka yang terinspirasi dari warna biru bumi. Bertajuk “Blue Planet Can”, kampanye tampilan baru ini juga selaras dengan komitmen Pocari Sweat dalam menjaga lingkungan hidup. Bersamaan dengan peluncuran kemasan tersebut, Pocari Sweat menggandeng seniman visual yang karyanya tak asing lagi, Talitha Nashtiti Maranila, dalam menghadirkan lukisan cat minyak di atas kemasan kaleng Pocari Sweat daur ulang yang ditampilkan di atas papan reklame raksasa dengan ukuran 30 kali 15 meter. Menyelesaikan karya megah dengan goresan kuas menjadi pengalaman baru yang berarti bagi Talitha—mendorongnya melampaui batas medium berkarya. Grafis Masa Kini berkesempatan untuk berbincang dengan Talitha soal proses di balik karya lukisnya tersebut.
Kolaborasi Talitha dengan Pocari Sweat Indonesia berawal ketika sang seniman dihubungi oleh Good Reason Agency yang mengatakan bahwa merek minuman isotonik tersebut sudah lama mencari seniman untuk proyek terbaru mereka. Pocari Sweat Indonesia mendambakan seorang seniman yang mampu menuangkan warna biru ke dalam karya yang sesuai dengan visi warna biru Pocari Sweat. Sebagai seniman visual, Talitha telah lama bermain dengan warna biru, hal tersebut tentu mendorong keyakinan tim Pocari Sweat Indonesia bahwa Talitha adalah seniman yang mereka cari selama ini. “Karya-karya gue khas dengan kedalaman warna biru yang spesifik, ini membuat mereka (Pocari Sweat Indonesia) tertarik untuk berkolaborasi,” ungkap Talitha.
Setelah masing-masing pihak menyetujui kolaborasi proyek ini, proses kreatif untuk lukisan reklame besar pun berjalan dengan dua bagian yang harus dieksekusi oleh Talitha yaitu melukis langsung di atas vinil papan reklame atau billboard dan membuat recycled can sculpture dari lima ribu kaleng bekas kemasan Pocari Sweat. Menurut penuturan sang seniman, kedua bagian tersebut harus diselesaikan dalam rentang waktu yang sudah ditentukan oleh pihak Pocari Sweat. “Gue dikasih waktu less than a week untuk menyelesaikan bagian lukisan dan delapan hari untuk menyelesaikan the recycled can sclupture.” Talitha memutuskan untuk menggunakan medium cat minyak dengan Liquin yang mempercepat pengeringan catnya. Keputusan tersebut dirasa sang seniman visual cukup menantang dengan waktu pengerjaan yang terbatas. “Agak gila sebenarnya gue decide untuk memakai medium oil di waktu yang mepet dengan pertimbangan durability dan pigmen warna yang lebih kuat, apalagi untuk di atas billboard yang pasti akan terkena panas terik dan hujan,” jelas Talitha.
Dengan nada bergurau Talitha mengatakan bahwa sebenarnya penggunaan cat akrilik akan lebih mempermudah hidupnya. Namun, Talitha mempertimbangkan lebih dari “kemudahan”, melainkan daya tahan dan eksekusi optimal yang tidak akan dicapai dengan menggunakan cat akrilik. “Gue pribadi merasa dengan oil paint proses ketika melukisnya lebih ‘nyemplung’ dibandingkan dengan akrilik,” imbuhnya. Berbeda dengan proses pengerjaan lukisan, kaleng daur ulang dibuat dengan memanfaatkan ribuan kaleng yang dikirimkan oleh pihak Pocari Sweat Indonesia ke studio Talitha. Setiap waktunya, kaleng tersebut disortir satu per satu karena tidak semua kaleng sempurna. Talitha menemukan beberapa kaleng yang tidak bisa dipakai. Namun, kaleng-kaleng dengan kerusakan minor masih bisa Talitha perbaiki dan akhirnya dimanfaatkan untuk instalasinya. Setelah dipilih dengan sangat hati-hati, kaleng-kaleng tersebut dibersihkan sebelum dilanjutkan dengan proses yang lebih detail yaitu merakit ribuan kaleng tersebut menjadi satu kesatuan.
Setelah melewati proses panjang, lukisan Talitha yang menjadi instalasi untuk billboard proyek Pocari Sweat: “Blue Planet Can” ini akhirnya dapat menunjukkan taringnya di jalan utama DKI Jakarta, Senayan. Teknik cat minyak dan sapuan kuas Talitha dengan warna biru layaknya ombak di lautan berhasil menghipnotis banyak orang—menyampaikan pesan yang selaras dengan visi Pocari Sweat Indonesia sebagai perusahaan dan gerakan. Menurut penuturan Talitha, lukisan berwarna biru tersebut merupakan simbol dari keluasan dan kebesaran yang berkontinuitas dan saling terhubung. “Apa yang ada di langit maupun di laut,” imbuh Talitha. Sang seniman kemudian menjelaskan bahwa bumi tempat kita tinggal ini merupakan semesta kecil di alam fisik manusia dan adalah bagian dari diri kita—sebagaimana manusia dan alam semesta tidak akan pernah bisa terpisahkan. Maka itu, lukisan ini mengajak publik untuk lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap keutuhan dan kelestarian alam semesta. “Apa yang ada di luar diri kita di alam ini merupakan cerminan kita. Maka, dunia ini merupakan tanggung jawab dari masing-masing manusia yang berjalan di atasnya. Jadi, sudah sepantasnya kita semua lebih aware dalam menjaga keseimbangannya,” tegas Talitha.
Melukis di medium “gigantis” dengan tenggat waktu tertentu bukanlah hal yang sederhana bagi seorang seniman visual. Untungnya, Talitha adalah tipe orang yang menyukai tantangan dan selalu mencoba untuk keluar dari zona nyaman. Proyek ini menandakan karya pertama Talitha dalam bentuk instalasi papan reklame. Tak heran, dalam prosesnya, Talitha banyak mendapatkan wawasan dan pelajaran terkait praktik kekaryaan yang ternyata dibutuhkan oleh seorang seniman visual untuk terus bertumbuh ke depan. “Salah satu (pelajaran) yang gue dapatkan adalah bagaimana memproduksi (karya) dengan efisiensi waktu dan dengan perhitungan karena hal-hal tidak terduga pasti bisa terjadi,” ceritanya. Selain itu, proyek kolaborasi dengan Pocari Sweat Indonesia ini juga mendorong Talitha untuk mengasah kemampuannya dalam seni visual. Ketegangan yang Talitha rasakan selama proses pengerjaan karya membuatnya terkejut saat mendapatkan respons positif dari publik yang telah menyaksikan karyanya. “Cukup surprise dengan respons positif publik, maybe because they didn’t see this coming too,” tuturnya. Menutup obrolan, Talitha berharap karya lukisnya dapat menyalurkan energi baik yang besar—seperti mediumnya—bagi semua orang yang menyaksikannya.