Bima Nurin & Jun Watanabe tentang Titik Temu Desain Grafis dan RC Cars


Ada sebuah tayangan televisi Jepang bernama Tamiya RC Channel yang dulu rutin menampilkan balapan buggy, mobil bigfoot, rally, sampai peluncuran varian kit baru. Bagi anak-anak yang menontonnya di awal 1990-an, tayangan itu menjadi semacam janji masa depan. Salah satu penontonnya adalah Bima Nurin, yang kala itu tinggal di Jepang bersama keluarganya karena sang ayah sedang menempuh studi master dan doktoral di Universitas Tokyo. Usianya baru sekitar dua sampai delapan tahun, tapi ingatan tentang mobil remote control (RC) sudah tertanam dan baru benar-benar terpanggil kembali puluhan tahun kemudian.

"Itu adalah memori inti bagi anak SD di masa itu yang akan selalu terpanggil saat dewasa ketika urusan finansial sudah tidak terlalu menjadi masalah," kenang Bima Nurin.

Bima adalah seorang desainer grafis. Latar belakangnya banyak berkutat di ranah visual, tapi ia mengaku selalu penasaran dengan hal-hal mekanikal, sesuatu yang bisa dioprek dan dikontrol geraknya. Pada tahun 2015, ia mulai serius mengoprek dunia RC. Waktu itu kit Tamiya belum banyak beredar di Indonesia, jadi ia mencari informasi lewat internet tentang dari mana bisa mendapatkan unit tersebut. Usahanya berbuah lewat lelang barang bekas daring dari Jepang, tempat ia berhasil mengakuisisi kit RC Tamiya HotShot. Kit bekas itu ia restorasi satu per satu sampai utuh kembali, dan dari sanalah memori masa kecilnya di depan televisi Jepang akhirnya terwujud dalam bentuk fisik.

Subkultur RC sebenarnya sudah lama ada di Indonesia. Menurut Bima, dunia ini sudah cukup ramai sejak 1990-an, meski segmennya sempit. Barangnya langka dan mahal, sehingga hanya digeluti kalangan dengan kondisi ekonomi di atas rata-rata.

Perubahan besar terjadi antara 2015 dan 2020-an. Pasar RC Tamiya di Indonesia mulai berkembang dan titik awalnya justru datang dari komunitas Tamiya Mini 4WD, varian mainan yang lebih sederhana dan berada di kelas di bawah RC. Komunitas Mini 4WD ini sangat aktif menggelar acara balap maupun kopi darat, dan aktivitas itulah yang perlahan membuka jalan bagi RC untuk dikenal lebih luas.

"Secara alami, tipikal orang Indonesia yang guyub dan komunal menjadi potensi yang besar bagi berkembangnya komunitas hobi di sini. Selama ketersediaan barangnya ada," kata Bima. Situasi sekarang jauh berbeda dari dua dekade lalu. Mencari produk atau kit RC apa pun di Indonesia sudah tidak sulit lagi.

Salah satu hal menarik dari perkembangan RC di Indonesia adalah kedekatannya dengan dunia desain grafis. Menurut Bima, ada alasan konkret di balik kedekatan itu. Mayoritas pemain RC saat ini lahir di rentang 1985 sampai 2000-an; generasi yang referensi mainannya kurang lebih sama. Ditambah lagi, sejak tahun 2000-an jurusan Desain Komunikasi Visual booming di berbagai kampus, sehingga banyak desainer grafis hari ini punya latar belakang memori yang hampir seragam dengan Bima.

Ada faktor lain di luar soal generasi. Tamiya, sebagai brand besar, memiliki sistem desain grafis yang diterapkan secara konsisten lintas generasi produk. Bima menjabarkannya begini, "Penggunaan ilustrasi yang khas, pemilihan tipografi yang dinamis, pemilihan warna kit yang eye-catching, serta kemungkinan untuk bisa dikustomisasi sebebas mungkin oleh pemiliknya menjadi faktor yang disukai oleh desainer. Aspek ini relevan dengan ilmu yang mereka kuasai, yaitu personal branding." Bagi mereka, kustomisasi RC adalah cara untuk mempraktikkan personal branding secara langsung.

Budaya kustom ini terus berkembang menjadi merchandise personal bagi masing-masing pemilik. Sticker pack yang dibagikan gratis saat kopdar, kaos, totebag, sampai identitas visual yang dirancang serius untuk sebuah event balap RC, semuanya lahir dari dorongan yang sama. RC di Indonesia, dengan kata lain, sudah bergeser dari sekadar hobi menjadi ruang berekspresi visual yang dianggap serius oleh penggunanya.

Salah satu momen penting dalam perjalanan komunitas RC di Indonesia adalah event Bash The Grass. Event ini berhasil menghadirkan tokoh RC Tamiya langsung dari Jepang, yaitu Jun Watanabe, seorang desainer grafis, creative director, sekaligus fashion designer di balik brand Blockhead Motors.

Keberhasilan mendatangkan Jun Watanabe tidak datang begitu saja. "Keberhasilan ini sebenarnya bisa terjadi berkat kegigihan Mochammad Budi, Febriyan Tricahyo, dan kawan-kawan komunitas RC dalam menjalin komunikasi dengan Jun Watanabe pada kunjungan mereka ke Jepang sebelumnya," jelas Bima. Proses itu berjalan cukup lama sampai akhirnya Jun Watanabe mencocokkan jadwalnya untuk datang ke Bandung dan berbagi cerita tentang Blockhead Motors serta perjalanan karier desainnya kepada komunitas RC di Indonesia. Bima sendiri diajak menjadi narasumber dan pembicara bersama Jun Watanabe pada acara tersebut, menjembatani diskursus tentang RC sebagai hobi, budaya berkomunitas, dan budaya desainer yang bermain RC di Indonesia.


Jun Watanabe melihat hubungan desain dan mobil RC dari sudut yang berbeda, lebih personal dan kurang berkaitan dengan tren generasi. Baginya, RC adalah jawaban atas pencarian panjang soal gaya personalnya sebagai desainer.

Jun Watanabe mengenang dirinya sebagai anak yang pendiam dan introvert, lebih senang menggambar sendirian daripada bermain olahraga. Seiring bertambahnya usia, ia mulai terpikat pada musik dan band rock dan mulai bermimpi menjelajahi dunia lewat seni dan kreativitas. "Karena saya sudah menghabiskan begitu banyak waktu untuk menggambar, belajar desain tidak pernah terasa sulit bagi saya. Saya hanya memberi bentuk pada ide-ide yang sudah ada di kepala saya," katanya.

Ketika pertama kali belajar desain, ia diajari bahwa desain ada untuk menyelesaikan masalah, entah lewat iklan, kemasan, atau logo. Peran desain selalu berkutat pada mencari solusi. Kariernya dimulai di akhir 1990-an, saat batas antara desainer grafis komersial dan seniman grafis yang berekspresi lewat karyanya masih sangat kabur. Jun mengagumi keduanya dan sulit memilih salah satu, sampai akhirnya ia memutuskan ingin menjadi seseorang yang bisa mengekspresikan apa saja.

Keputusan itu membuatnya mengembangkan banyak keterampilan dan cara berekspresi, tapi ia tidak pernah menemukan gaya yang benar-benar terasa sebagai miliknya sendiri. Ia bergulat dengan pencarian itu selama bertahun-tahun, sampai akhirnya berhenti mencari gaya dan mulai mencari apa yang benar-benar ia cintai. Salah satu jawabannya adalah mobil RC. "Saya pikir ada titik ketika desain berhenti menjadi sekadar alat untuk menyelesaikan masalah. Ia menjadi cara bagi saya untuk memahami diri sendiri, dan cara untuk mengekspresikan hidup, nilai, dan identitas saya sendiri," kata Jun.

Ketika ditanya proyek desain tersulit yang pernah ia kerjakan, Jun langsung menjawab dengan tegas: Blockhead Motors. "Ketika saya memulai Blockhead Motors, hampir tidak ada brand yang menampilkan mobil RC sebagai fashion atau gaya hidup. Sangat sedikit yang bisa saya jadikan referensi. Dengan kata lain, tidak ada peta," tuturnya.

Orang butuh waktu untuk memahami sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. "Jadi ketika Tamiya merilis Hornet bermotif polkadot rancangan Jun Watanabe pada 2012, saya rasa banyak orang kaget. Mereka mungkin bertanya-tanya, apa yang sedang orang ini coba lakukan," katanya. Jun tidak menyerah. Ia terus menghadirkan gagasan yang sama berulang kali selama bertahun-tahun.

"Bagian tersulit adalah menciptakan cara berpikir yang sepenuhnya baru dan menetapkannya sebagai sebuah brand, jauh lebih berat dibanding mendesain produk satu per satu. Ini soal menyambungkan titik-titik yang tercipta sampai menjadi gambar yang utuh," jelas Jun. Menurutnya, tantangan itu masih berlanjut sampai hari ini.

Bagi Jun, desain punya kekuatan untuk mengubah cara berpikir yang sudah ada. "Banyak orang berpikir desain sekadar soal menciptakan warna, bentuk, atau visual yang indah. Saya melihatnya berbeda. Bagi saya, desain juga soal mengubah cara orang memandang sesuatu, menciptakan cara baru untuk menikmati sesuatu, bahkan melahirkan budaya baru," katanya.

Di Blockhead Motors, ia mengaku tidak mengubah mobil RC itu sendiri. "Saya mengubah cara orang melihat dan mengalami mobil RC. Itulah kenapa, bagi saya, desain adalah tindakan menciptakan nilai baru," ujarnya. Ia merasa apa yang ia kerjakan mungkin sudah melampaui peran tradisional seorang desainer grafis, bergeser dari sekadar membuat grafis menuju merancang pengalaman orang dengan dunia itu sendiri.

Ia juga menyinggung soal AI yang kini bisa menghasilkan visual indah dengan mudah. Menurutnya, kondisi ini justru akan membuat peran desainer terus berkembang, dan definisi desain sendiri akan berubah secara signifikan.

Ketertarikan Jun pada mobil RC juga bermula sejak kecil. Di Jepang, RC buggy off-road sangat populer pada dekade 1980-an. Ayahnya juga menyukai RC, sehingga tidak sulit bagi Jun untuk membujuknya untuk membelikan satu unit. "Tentu saja saya menyukai mobil RC, tapi saya juga menyukai membangun model plastik dan menggambar, kurang lebih sama besarnya. Simpelnya, saya suka membuat sesuatu," katanya.


Blockhead Motors lahir sebagai proyek pribadi. Pada masanya, mobil RC hanya dipandang sebagai mainan anak-anak atau hobi kelompok kecil penggemar, jauh dari dianggap sebagai bagian dari gaya hidup atau budaya. "Tapi saya percaya, jika mobil RC bisa mengembangkan budaya seperti yang dimiliki fashion atau skateboard, ia bisa menjadi jauh lebih menarik. Saya melihat ruang kosong yang besar, sebuah peluang yang belum diisi siapa pun, dan saya memutuskan untuk mulai mengisinya," tutur Jun.

Saat meluncurkan Blockhead Motors, Jun sudah menghabiskan hampir dua puluh tahun berkarier sebagai desainer di bidang branding, fashion, dan grafis. Semua yang ia pelajari sepanjang kariernya ia tuangkan ke kanvas bernama mobil RC. "Saya tidak benar-benar menganggap Blockhead Motors sebagai brand RC. Saya melihatnya sebagai proyek yang mendesain budaya lewat mobil RC," ujarnya.

Kolaborasi Jun dengan Tamiya lewat lini Tamiya by Jun Watanabe adalah momen yang ia sebut sebagai mimpi jadi nyata, mengingat Tamiya adalah perusahaan yang ia kagumi sejak kecil. Kolaborasi pertama mereka berupa kaos, dan sejak itu berkembang mencakup apparel, tas, dan berbagai produk gaya hidup lainnya.

"Yang selalu saya utamakan adalah menghormati apa yang membuat Tamiya unik. Pertama dan yang paling penting, saya adalah penggemar Tamiya, dan saya rasa saya memahami dengan dalam brand ini beserta filosofinya," kata Jun. Karena itu, ia selalu berusaha menjaga nilai-nilai penting mereka sembari mencari cara untuk memperkuatnya lewat karyanya.

Ia membedakan proyek ini dengan Blockhead Motors, dan menyebutnya lebih dekat dengan pekerjaan klien. Meski begitu, berkolaborasi sebagai orang dewasa dengan brand yang ia kagumi sejak kecil tetap punya makna khusus baginya.

Ketika ditanya soal visi masa depannya sebagai desainer grafis sekaligus pendiri Blockhead Motors, Jun menjawab bahwa yang paling penting baginya sekarang adalah seperti apa hidup yang ia jalani, lebih dari sekadar apa yang ia buat. Ia kembali menyinggung kekagumannya pada band rock yang membangun dunia mereka sendiri dari nol, tanpa peta yang bisa diikuti, sehingga mereka terpaksa membuat jalan sendiri-sendiri. "Saya yakin mereka juga tidak punya peta. Justru itulah kenapa mereka harus mengukir jalan mereka sendiri, dan saya selalu merasa sangat terhubung dengan sikap itu," katanya.

"Saya rasa saya tidak sekadar membuat mobil RC. Saya percaya saya sedang memberi bentuk pada hidup dan nilai-nilai saya sendiri lewat mobil RC. Saya sejujurnya tidak tahu apa yang akan saya ciptakan selanjutnya. Tapi satu hal yang saya tahu, suatu hari saya berharap bisa meninggalkan karya yang lewatnya orang bisa merasakan hidup yang telah saya jalani, tempat-tempat yang telah saya lihat, dan cara pandang yang cuma saya miliki," tutur Jun menutup jawabannya.

Soal masa depan subkultur RC, Jun percaya potensinya masih sangat besar. "Tapi itu tidak selalu berarti saya cuma ingin lebih banyak orang mengambil RC sebagai hobi. Yang benar-benar menarik minat saya adalah membantu menciptakan budaya di mana orang bisa sangat menggemari sesuatu dan menjalani hidup yang terasa jujur bagi diri mereka sendiri," katanya.

"Hal lain yang selalu saya coba lakukan adalah mempertanyakan asumsi yang sudah ada. Tanpa sadar, kita cenderung mendefinisikan mobil RC dengan cara bilang, ini yang namanya mobil RC. Padahal terkadang, sekadar mengubah sudut pandang bisa mengubah total sesuatu dan memberinya nilai yang sama sekali baru," jelasnya. Hal ini berlaku juga untuk musik, desain, fashion, dan bidang kreatif lainnya, tidak cuma untuk mobil RC.

"Yang selalu saya perhatikan adalah dari sudut mana kita memilih untuk melihat sesuatu. Saya berharap bisa terus mendesain cara berpikir baru dan bentuk budaya baru. Dan jika hasilnya bisa membuat hidup seseorang sedikit lebih kaya atau mendorong mereka untuk mencoba hal baru, itu akan menjadi hadiah terbesar bagi saya," tutup Jun Watanabe.

Cerita Bima dan Jun pada akhirnya bertemu di titik yang sama. Keduanya berangkat dari ingatan masa kecil yang sederhana, sebuah mainan yang bergerak lewat remote control, dan membawanya jauh melampaui fungsi awalnya. Bagi Bima, RC menjadi jembatan antara hobi, komunitas, dan identitas visual generasi desainer Indonesia. Bagi Jun, RC menjadi medium untuk mendefinisikan ulang apa itu desain, dan bagaimana desain bisa menjadi cara hidup, lebih dari sekadar profesi.

web-22
web-21
web-24
web-26
web-25
web-23
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.