Clasutta: Dari Potret Keseharian ke Panggung Seni Global

Di tengah riuh pasar seni Asia yang semakin kompetitif, nama Clasutta, atau yang akrab disapa Sutta, muncul sebagai salah satu sosok seniman Indonesia yang karya-karyanya terus menjadi sorotan. Kini langkahnya semakin terang setelah ia resmi menandatangani kontrak eksklusif dengan Whitestone Gallery, salah satu galeri bergengsi yang berakar di Jepang dan memiliki cabang di beberapa pusat seni Asia, termasuk Singapura. Langkah ini menandai sebuah babak baru bagi seniman muda Indonesia untuk mulai menembus sirkuit seni internasional secara lebih terstruktur. Merayakan prestasi ini, Grafis Masa Kini berbincang dengan Clasutta di siang hari yang cerah—membicarakan perjalanan dan kemungkinan kariernya di medan seni rupa global.

Whitestone Gallery sendiri bukan nama asing dalam peta seni global. Didirikan di Tokyo pada 1967, galeri ini telah lama dikenal sebagai pionir dalam mempromosikan seniman Jepang ke panggung dunia. Dalam perjalanannya, Whitestone memperluas jangkauan hingga Karuizawa, Hong Kong, Taipei, dan Singapura—membuka ruang bagi keragaman praktik seni kontemporer Asia Timur. Dengan rekam jejak yang solid dan jejaring kolektor internasional, kontrak dengan Whitestone merupakan pencapaian yang tidak bisa dianggap remeh. Terlebih, Sutta menjadi seniman Indonesia pertama yang masuk ke dalam lingkup galeri tersebut.

Pencapaian ini tentu bukan sesuatu yang datang secara instan seperti membalikkan telapak tangan. Sebelum memutuskan untuk menempuh jalur penuh waktu sebagai seniman, Sutta justru memiliki latar belakang pendidikan dan karier sebagai arsitek. Dunia arsitektur memang membekalinya dengan sensitivitas ruang, proporsi, serta keteraturan komposisi visual, namun perlahan ia menyadari ada sesuatu yang belum sepenuhnya terpenuhi. “Selama ini aku berkecimpung di arsitektur, tapi makin ke sini aku sadar ada hal yang ingin aku cari lebih dalam lagi. Pas terjun ke fine art, seperti menemukan apa yang ternyata dicari selama ini,” ujarnya dengan penuh semangat—dan Clasutta, selalu ceria dan membara seperti itu.

zoom-1

Pencarian tujuan dalam hidupnya tersebut menemukan jalannya melalui AMP—Atreyu Moniaga Project, program inkubasi seniman yang berbasis di Jakarta yang konsisten mendukung perkembangan talenta-talenta baru di dunia seni. Menjadi peserta sekaligus project leader dalam AMP Batch #12 pada 2024 membuka pintu bagi Sutta untuk memperkenalkan karyanya secara lebih serius ke publik. Setelah lulus dari program tersebut, melalui pameran perdananya dengan AMP x D Gallerie, ia benar-benar terjun penuh ke dunia seni rupa.

Ciri khas karya-karya Sutta terletak pada kemampuannya mengubah peristiwa sehari-hari yang pahit menjadi narasi visual yang satir, penuh warna, dan menggelitik. Menggunakan media utama cat minyak di atas kanvas, lukisannya berisi karakter-karakter jenaka yang seolah menertawakan absurditas hidup, terutama kegelisahan yang kerap dirasakan oleh generasi urban masa kini—menyoal pekerjaan, keluarga, pencarian makna, hingga obsesi terhadap penampilan. Salah satu karya terbarunya yang dipamerkan di Mango Art Festival, Bangkok, misalnya, mengangkat isu standar kecantikan dan praktik operasi plastik.

Ketertarikan Whitestone Gallery terhadap karya Sutta bermula dari pertemuan tak terduga di Art Jakarta 2024 dengan salah satu manajer galeri, Priscilla Quek. Hal tersebut menjadi pintu masuk ajakan berpameran di Art SG 2025. “Semuanya terjadi cukup spontan. Aku diajak pameran di Singapura, ternyata responsnya positif. Gak lama setelah itu, mereka nawarin kontrak karena aku belum punya gallery representative. Aku langsung iya-in, soalnya rasanya pas banget!”

Keterikatan dengan galeri internasional seperti Whitestone mendorongnya untuk  mempertahankan ritme berkarya yang lebih intens dan konsisten. Jadwal yang lebih padat membuat proses kreatifnya lebih terstruktur, meski tidak menutup kemungkinan munculnya rasa gugup. “Sebenarnya cukup deg-degan juga, rasanya seperti masih dalam mimpi,” kata Sutta, setengah tertawa. Meski begitu, bekerja dengan Whitestone memberi peluang besar: ada kepastian program, dukungan logistik, serta kemungkinan untuk menggelar pameran tunggal di masa mendatang. Kontrak jangka panjang ini juga membuka jalan bagi Sutta untuk mewujudkan impiannya ke depan.

zoom-2

Namun di balik capaian ini, Sutta menyadari bahwa dunia seni rupa bukan hanya perkara idealisme dan kreativitas. Ada dinamika pasar, ekspektasi publik, hingga konsistensi produksi yang harus dijalani. Meski demikian, ia tetap setia pada gagasan awal yang menjadi landasan praktik seninya: membuat cerita harian yang dekat. Dalam perjalanan ini, setiap interaksi dengan orang lain selalu menjadi sumber ide baru. “Paling seru sih kalau ketemu dan ngobrol sama orang, jadi dapet cerita baru,” tambahnya.

Perjalanan artistiknya memang baru seumur jagung, tetapi perkembangan karya Sutta sudah menunjukkan transformasi yang signifikan. Ia menyebut bahwa setelah AMP, karakternya semakin kuat, ceritanya semakin beresonansi dengan audiens, dan secara teknis pun terjadi evolusi yang konsisten. Dari pameran pertama hingga yang terkini, ia merasa masih terus mengeksplorasi medium cat minyak, mencoba menemukan bahasa visual yang paling sesuai dengan kisah yang ingin disampaikan.

Di akhir percakapan, Sutta menyadari bahwa jalan yang ia tempuh masih panjang. Ada banyak mimpi yang belum tergapai, banyak eksperimen yang menunggu untuk dikerjakan. Namun satu hal yang pasti, bagi Sutta, seni bukan sekadar medium ekspresi personal, melainkan cara untuk mengajak orang lain berpikir, merasakan, dan—paling tidak—tertawa di tengah absurditas hidup. Dengan dukungan dari Whitestone Gallery, langkahnya menuju panggung seni global tampaknya baru saja dimulai.

web-20
web-21
web-22
web-23
web-24
web-25
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.