Lewat Ditanggoeng Tida Loentoer, Arsip Menjadi Ruang Dialog Desain
Hermawan Tanzil tumbuh dengan praktik desain grafis dan hingga hari ini namanya tidak hanya dikenal sebagai pendiri studio desain LeBoYe dan Dia.lo.gue Artspace, tapi juga sebagai salah satu pionir di industri ini. Tiga dekade sudah perjalanan Hermawan Tanzil di dunia grafis, dan lebih lama dari itu, ia hidup berdekatan dengan pengarsipan karya cetak grafis dari masa ke masa. Tahun ini, lewat buku Ditanggoeng Tida Loentoer, Hermawan Tanzil menunjukkan bahwa praktik desain grafis tersebut telah hidup dan berkembang jauh sebelum industri, profesi, atau disiplin akademiknya.
“Desain sudah ada sebelum profesi desainer hadir. Praktik desain grafis telah hidup jauh sebelum pendidikan formal desain grafis berdiri di Indonesia,” tegas Hermawan Tanzil kepada Grafis Masa Kini ketika kami kunjungi di kantornya. Dalam buku Ditanggoeng Tida Loentoer, Hermawan mengumpulkan 500 artefak visual terkurasi dari 87 kota dan 20 provinsi di Indonesia sebagai bukti eksistensi praktik grafis dalam sejarah bangsa ini. Tercatat dalam buku ini, banyak identitas visual yang lahir dari kebutuhan sehari-hari masyarakat alih-alih dari institusi. “Pedagang, pemilik usaha, tukang cetak, ilustrator, pelukis, semua memainkan peran penting dalam pembentukan budaya visual Indonesia.” Karya grafis yang lahir dari berbagai ruang kehidupan masyarakat ini merekam bagaimana kita sebagai bangsa membangun identitas, mengomunikasikan gagasan, hingga menjadikan bahasa visual sebagai bayangan citra diri.
Berbicara soal kebutuhan sehari-hari masyarakat, Hermawan mengungkapkan bahwa sejarah desain tidak hanya ditemukan dalam karya-karya besar atau institusi resmi seperti yang selama ini kita pelajari. “Desain hidup dalam label, kemasan, merek dagang, kop surat, iklan, dan benda-benda keseharian.” Tak hanya menjadi catatan sejarah desain, visual-visual tersebut juga menjadi rekaman kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pada masanya. Selain itu, Hermawan percaya bahwa desain adalah cerminan masyarakatnya. “Setiap logo dan merek dagang mencerminkan nilai, aspirasi, dan imajinasi masyarakat.”
Ada bagian-bagian dalam buku Ditanggoeng Tida Loentoer yang memperlihatkan hubungan manusia dengan alam, binatang, tokoh pewayangan, kepercayaan, dan budaya lokal lainnya. “Desain menjadi cara masyarakat memaknai dunia di sekitar, dan Indonesia memiliki tradisi visual yang sangat kaya.”
Arsip-arsip grafis yang dikumpulkan Hermawan Tanzil dalam buku Ditanggoeng Tida Loentoer membuktikan keragaman visual dari berbagai kota dan daerah di Indonesia. Selama ini, yang kita pelajari adalah pengaruh Barat dalam desain grafis Indonesia. Padahal, bahasa visual Indonesia dibentuk oleh pengaruh tradisi lokal, Tionghoa, Arab, India, Melayu, dan Jepang – lebih beragam dari apa yang kita bayangkan. Setelah melakukan perjalanan ke berbagai tempat demi mencari arsip-arsip ini – “memulung”, istilah yang digunakan Hermawan – sang desainer menemukan bahwa keberagaman ini adalah kekuatan utama dari identitas visual Indonesia sebagai bangsa.
Temuan-temuan Hermawan yang diarsipkan dalam buku ini juga menunjukkan bahwa desain juga berlaku sebagai dokumen sejarah. “Arsip grafis tidak hanya berbicara tentang desain, ia merekam perubahan bahasa, teknologi, ekonomi, politik, dan budaya. Melalui desain, kita dapat membaca sejarah dari perspektif yang berbeda.” Dan lewat buku Ditanggoeng Tida Loentoer gagasan tersebut diperkuat – desain benar-benar diposisikan sebagai praktik sosial yang telah lama dijalankan oleh masyarakat. “Design without designer menjadi salah satu cara membaca periode ini,” kata Hermawan.
Dengan tujuan mengenalkan arsip desain ke masyarakat yang lebih luas lagi, tidak hanya lingkup desainer, Ditanggoeng Tida Loentoer juga hadir dalam bentuk instalasi yang dipamerkan di ARTJOG 2026. Di pameran megah yang sedang berlangsung di Jogja National Museum (JNM) hingga 30 Agustus ini, Hermawan Tanzil menampilkan arsip-arsip yang ada di dalam bukunya lewat berbagai medium seni lain. “Arsip menjadi titik awal, bukan tujuan akhir. Yang ingin ditampilkan adalah bagaimana arsip dapat dihidupkan kembali melalui pembacaan dan interpretasi baru,” kata Hermawan soal pameran ini.
Pada karya ini, Hermawan dan para kolaboratornya mengubah buku menjadi ruang pengalaman dengan menerjemahkan arsip ke dalam medium-medium spasial yang dapat dijelajahi publik. “Pengunjung tidak hanya melihat arsip, tapi masuk ke dalam dunia visual yang melahirkannya,” imbuh Hermawan.
Inspirasi utama dari instalasi Ditanggoeng Tida Loentoer di ARTJOG tahun ini adalah toko kelontong. Karena banyak identitas visual lahir dari pasar, toko, dan ruang perdagangan lainnya, instalasi ini meminjam bahasa visual tersebut – etalase, kemasan, papan nama, dan benda-benda keseharian. Hermawan menambahkan, “Toko menjadi metafora ruang tempat desain hidup dan beredar.” Karya ini juga tidak memperlakukan arsip sebagai benda mati, melainkan sebagai bahan baku untuk karya-karya baru – layaknya bibit yang terus tumbuh. Interpretasi karya dari arsip-arsip tersebut muncul dalam bentuk poster, objek grafis, merchandise, instalasi tiga dimensi, dan karya video digital.
Dalam terwujudnya instalasi Ditanggoeng Tida Loentoer, kolaborasi menjadi metode kerja. “Seperti praktik desain masa lalu yang sangat kolektif, proyek ini juga lahir melalui kolaborasi. Melibatkan desainer, seniman, ilustrator, pembuat objek, perajin, peneliti, dan pelaku disiplin lainnya,” cerita Hermawan. Ia juga menegaskan bahwa proses kolaboratif ini menjadi bagian penting dari karya itu sendiri.
Pada akhirnya, baik buku maupun instalasi Ditanggoeng Tida Loentoer memiliki tujuan untuk membuka dialog lintas generasi terkait perjalanan desain grafis di Indonesia. Dengan itu, kita bisa menghubungkan praktik visual masa lalu dengan industri kreatif hari ini. “Ditanggoeng Tida Loentoer ingin menunjukkan bahwa arsip bukannya nostalgia. Arsip adalah sumber inspirasi untuk masa depan dan identitas visual Indonesia adalah sesuatu yang terus hidup, berubah, dan diwariskan,” tutup Hermawan Tanzil.