Dongker Merespons Karya Agan Harahap dalam Visual “Melankolia Radikal”
Dongker baru-baru ini merilis album keduanya yang bertajuk Melankolia Radikal. Dalam album ini, alih-alih dilihat sebagai emosi sesaat, kesedihan diterjemahkan sebagai sesuatu yang tumbuh, menetap, dan mengakar dalam diri setiap manusia. Selain lewat sebelas lagu, cerita Melankolia Radikal juga disampaikan dalam bentuk visual yang kuat.
Sebelumnya, showcase “Melankolia di Kolong” di Taman Skateboard, kolong Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Pasupati), Bandung, mengawali perjalanan album kedua ini. Lewat lagu-lagunya, Dongker mengeksplorasi perasaan sedih yang mengakar dan tidak hanya lahir dari pengalaman pribadi, tetapi juga pengalaman kolektif – dari hubungan antarmanusia, dari relasi dengan keluarga, lingkungan, negara, hingga sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
“Ketika suatu kelompok manusia ditempatkan dalam kondisi yang sama, ada kesempatan bagi sebuah perasaan untuk tumbuh bersamaan, dialami dan dirasakan secara kolektif. Melankolia Radikal adalah kumpulan dari rasa sedih, kecewa, marah, yang saya rasa telah dirasakan secara kolektif belakangan ini oleh rakyat, sebagai reaksi atas ruang yang menghimpunnya, yaitu negara,” kata Dzikrie J. Arethusa, drummer Dongker.
Pertama bertemu di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Teknologi Bandung (ITB), Delpi Suhariyanto, Arno Zarror, dan Dzikrie J. Arethusa menghadirkan artwork album yang merupakan hasil interpretasi terhadap karya fenomenal Agan Harahap, I Was Punk Before You, yang menampilkan foto close-up Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo, dalam balutan gaya punk. Dalam artwork tersebut, maskot baru Dongker turut dihadirkan sebagai penanda identitas yang menyatukan keseluruhan narasi visual album.
“Hari ini realitas kita kabur oleh berbagai hal, internet, AI, informasi yang dibatasi oleh pejabat, himbauan-himbauan tolol dari pejabat publik, dan kami rasa cover art kami dapat menangkap fenomena tersebut.” jelas Delpi, vokalis dan gitaris Dongker, tentang artwork album Melankolia Radikal.
Maskot yang muncul dalam artwork tersebut diberi nama “Dollar”, bukan sebagai representasi mata uang, melainkan sebagai interpretasi lain dari perasaan sedih. Maskot ini kemudian hadir dalam berbagai medium, mulai dari action figure, kostum boneka, keychain, dan masih banyak lagi. Lewat berbagai bentuk tersebut, kita seolah diberi kendali penuh atas “Dollar”, bisa dinaikkan, dipeluk, dipajang, dilempar, digantung, bahkan dibuang.
“Kami merasakan kemuakkan dan kegilaan yang sama di ruang personal kami. Retaknya rumah tangga, hubungan yang tidak pernah berhasil, pajak yang tercerai-berai, mungkin ini bukan rangkuman yang sempurna, tapi Melankolia Radikal tercipta dengan kesadaran penuh sebagai warga negara Indonesia yang merasa negara telah gagal berdiri bersama rakyatnya,” tutup Delpi.
Album Melankolia Radikal kini telah tersedia dan dapat didengarkan di seluruh layanan digital streaming musik.