Supermarket ala Pameran Tunggal Emte
Dalam pameran tunggalnya yang bertajuk EVERYTHING MUST GO, ilustrator Mohammad Taufiq, yang lebih dikenal dengan nama Emte, menciptakan sebuah ruang di mana seni dan kegiatan berbelanja di supermarket berbaur menjadi satu. Digelar di Rachel Gallery hingga 22 September, pameran ini menampilkan karya-karya yang dekat dengan keseharian dan merefleksikan eksplorasi medium yang telah dijalani Emte sepanjang perjalanan kekaryaannya. Kepada Grafis Masa Kini, Emte menceritakan gagasan dan cerita di balik EVERYTHING MUST GO.
Berbeda dari pameran grup yang selama ini Emte ikuti, pameran tunggalnya tidak berangkat dari satu tema tertentu, melainkan kumpulan ide dan hasil obrolan dengan orang-orang di sekitarnya. Selain itu, dengan berbagai macam gaya artistik dan medium yang ia eksplorasi selama bertahun-tahun, Emte merasa bahwa pameran ini adalah momen yang tepat untuk menggabungkan praktik-praktik artistiknya tersebut. Salah satu elemen yang penting dan menarik dari EVERYTHING MUST GO adalah penataan karya di ruang pamer yang menyerupai supermarket atau pasar swalayan. Setelah sembilan tahun tidak berpameran tunggal, EVERYTHING MUST GO menjadi kesempatan bagi Emte untuk “bermain” seliar mungkin dengan segala aspek dalam pamerannya. “Untuk pameran ini, aku pikir, aku terbiasa berkarya dengan macam-macam gaya dan medium, tidak pernah peduli dengan satu gaya tertentu. Bikin hitam-putih senang, berwarna senang; ukuran kecil senang, ukuran besar senang; di kertas senang, di kanvas juga senang. Jadi aku berpikir bentuk apa yang mengakomodir semua itu?” cerita Emte. Layaknya supermarket, pameran ini menawarkan dan menjual karya-karya Emte yang eksploratif, dengan narasi visual dan ruang yang dapat diakses oleh siapa saja. “Itu juga sebenarnya agak ‘menyindir’ pengalaman datang ke pameran di mana kita merasa ‘wah, ini karyanya eksklusif banget’, lalu kalau ingin tahu harga harus nanya dan kita merasa sungkan karena siapalah kita. Aku ingin menciptakan suasana pameran di mana orang merasa santai,” jelas Emte.
Dengan presentasi seperti supermarket, Emte menyampaikan bahwa seni seharusnya dapat diakses oleh siapa saja, sama seperti produk yang bisa dibeli di supermarket. Dengan dunia seni dan desain yang semakin terbuka, Emte juga melihat bahwa banyak ruang-ruang alternatif yang menawarkan ruang untuk pameran. Tak sedikit ilustrator yang memamerkan karyanya tak hanya di galeri komersil atau museum, tapi di ruang alternatif bahkan kedai kopi. Tak sedikit juga ilustrator yang kini berkolaborasi dengan brand yang sering kita temui di supermarket. “Bisa dibilang, supermarket sekarang juga seperti galeri di mana menjual banyak produk yang berkolaborasi dengan seniman. Proyek kolaborasi tersebut juga tidak menurunkan ‘derajat’ karyanya tapi memungkinkan masyarakat untuk menikmati karya yang bisa mereka beli dengan murah dan mudah. Pengalaman seperti itu yang ingin dihadirkan di pameran ini.” Kebebasan dalam merespons ruang juga diberikan oleh Rachel Gallery untuk pameran tunggal Emte.
Secara kekaryaan, Emte membuat karyanya lebih dekat dengan pengunjung pameran dengan sentuhan humor di banyak ilustrasinya. Seperti penempatan narasi visual Emte selama ini, karya-karya di pameran EVERYTHING MUST GO lahir dari observasi Emte terhadap kehidupan di sekelilingnya dan kesehariannya sendiri. “Sebagian besar karya yang aku bikin itu referensinya dari foto-foto yang aku kumpulkan waktu hunting, kayak ada tema-tema selfie, aku kumpulin capture-an selfie teman-teman di Instagram, lalu aku olah lagi di gambar. Jadi, kalau teman-teman datang langsung dan lihat gambarnya mungkin dia enggak akan sadar,” kata Emte sembari terkekeh.
Dalam hal medium, Emte terus mendorong batas-batas kreativitasnya. Salah satu medium yang ia eksplorasi dan menjadi ciri khasnya adalah cat air—yang menawarkan fleksibilitas dan hasil yang tidak dapat diprediksi. "Aku senang watercolor bukan karena watercolor-nya tapi karena hasilnya yang tidak bisa ditebak dan bisa bikin gradasi yang sangat fleksibel," katanya. Namun, secara tak terduga, ia juga menemukan bahwa akrilik cair yang ia gunakan menghasilkan efek yang serupa dengan cat air, terutama saat diaplikasikan di kanvas. Eksplorasi ini menunjukkan bahwa dalam praktiknya, Emte menitikberatkan pada efek yang dihasilkan oleh apapun itu mediumnya alih-alih bergantung pada satu medium tertentu.
EVERYTHING MUST GO mengabadikan gagasan Emte sebagai ilustrator yang selama ini tidak cukup tersampaikan di pameran-pameran grup yang ia ikuti. Tidak hanya itu, pameran ini juga menjadi penanda bagi perjalanan artistik Emte. Melalui 300 karya yang ia tampilkan, sebagian besar berukuran kecil sesuai dengan tema supermarket, Emte menekankan bahwa tidak ada salah atau benar dalam berkarya—sebuah pesan yang ia sampaikan kepada para pengunjung bahwa seni adalah bentuk ekspresi yang sangat terbuka. Setiap karya Emte di ruang pamer ini mengundang kita untuk melihat keseharian dengan perspektif yang berbeda—ringan namun penuh makna. Dengan eksplorasi medium yang beragam dan konsep supermarket yang menyenangkan, Emte berhasil menciptakan pengalaman yang hangat bagi siapa saja yang datang.