Catatan Eric Widjaja dari Meja Penjurian Tipografi D&AD Awards 2025

Eric Widjaja, Design Principal dari Thinking*Room, dipercaya sebagai salah satu juri dalam kategori Typography di D&AD Awards tahun ini—bersama deretan nama desainer tersohor seperti Samar Maakaroun (Partner & Creative Director Pentagram), Matt Baxter (Founder & Creative Director Baxter & Bailey), Simon Chong (Senior Creative Director Wolff Olins), dan masih banyak lagi. Sejak kabar ini tiba, kami bangga dan tak heran, mengingat jejak karya Eric Widjaja dan kontribusinya di lanskap desain grafis Indonesia. Lulus dari Academy of Art University, San Francisco, Eric telah menekuni desain grafis selama lebih dari 15 tahun—sebuah perjalanan yang membawanya pada kesadaran bahwa desain adalah bentuk lain dari bahasa. Dengan segudang pengalaman, menjadi juri di ajang desain sebesar D&AD tentu merupakan prestasi tersendiri. Kepada Grafis Masa Kini, Eric Widjaja membagikan catatan perjalanannya.

Hiruk pikuk kota London seketika tak terdengar dari ruang penjurian yang begitu intim dan membangun. Perjalanan Eric Widjaja hingga duduk di ruang itu pun tak singkat, ada proses yang harus dilaluinya dari pertama menerima undangan sebagai juri. Sesi demi sesi dilakukan secara daring demi pemahaman alur kurasi yang maksimal—dan semua proses itu, kata Eric, berlangsung dengan rapi nan apik. “D&AD Awards punya tim internal yang terlebih dahulu menyaring ratusan entri. Kami (juri) jadinya tidak kewalahan,” ucap Eric, membuka cerita. Sekitar sebulan sebelum hari penjurian, Eric bersama para juri lainnya diberi akses untuk melakukan seleksi awal secara daring–menandai karya dengan “yes” atau “no”. Hasil seleksi inilah yang kemudian membentuk shortlist yang dibahas lebih dalam saat proses penjurian luring berlangsung.

Di hadapan meja penjurian yang bertebar karya-karya tipografi luar biasa dari berbagai penjuru dunia, Eric menyadari bahwa ini merupakan pengalaman yang penuh tanggung jawab dan setiap keputusan memang harus dapat dipertanggungjawabkan karena menyangkut reputasi global ajang ini. Dibandingkan dengan pengalamannya menjadi juri di ajang lainnya, tekanan di D&AD terasa jauh lebih besar—terutama menentukan apakah semua karya layak meraih penghargaan. “Beratnya buat gue itu lebih ke apakah pilihan kita tepat. Begitu juga dengan juri-juri lainnya. Makanya, kami cukup kritis dalam memilih siapa yang berhak mendapatkan penghargaan pensil,” ungkapnya. Penjurian di D&AD, terutama di kategori Typography, menekankan pada tiga aspek utama: apakah karya tersebut terasa segar dan orisinal, sejauh mana kualitas craftsmanship-nya, serta ketepatan pengaplikasian media tipografinya. “Apakah karya-karya ini membuat kita ‘wah’ dan tidak pernah dilihat sebelumnya? Apakah craftmanship-nya itu sangat matang? Apakah pengaplikasian medianya itu tepat? Ketiga faktor ini kami pertimbangkan saat menilai hingga mengerucut pada apakah karya ini patut dijadikan benchmark untuk tahun berikutnya?”

zoom-1

Terkait tren, Eric mencatat bahwa tahun ini karya yang masuk sangat beragam—begitu berwarna dan tidak repetitif. Namun, ia mengamati banyaknya entri yang menggunakan digital type tools untuk medium digital. “Masih banyak banget yang bermain dengan digital type. Kalau tren secara signifikan, gue gak melihat yang sangat baru. Tapi, saat diskusi dengan Samar Maakaroun, dia merasa sekarang tren tipografi lebih ke taktil karena orang-orang kembali lagi ke manual,” jelas Eric. Sejalan dengan penjelasan tersebut, di tengah gempuran digital, karya-karya yang akhirnya meraih penghargaan pensil justru kebanyakan memiliki pendekatan craft-based dan taktil. Lebih lanjut, Eric menceritakan bahwa Tameko, yang memenangkan Yellow Pencil dalam kategori ini, adalah karya digital yang tampak sangat sederhana dan taktil—hanya menggunakan satu elemen seperti typewriter font—namun dieksekusi dengan sangat efektif dan terlihat effortless. Tameko sendiri merupakan perusahaan tekstil baru asal Denmark yang mengkhususkan diri pada kain untuk meja, tempat tidur, dan kebutuhan rumah. Terinspirasi dari seni mesin ketik, Tameko merancang identitas tipografi yang meniru karakter kain itu sendiri. Sungguh, sebuah karya yang memang mengutamakan craftmanship alih-alih digital seperti sebelum-sebelumnya; untuk itu, Eric pun percaya bahwa tren adalah sesuatu yang silih berganti. “Gue percaya tren itu selalu berputar. Mungkin sekarang, kita sudah mulai jenuh dengan yang namanya digital, akhirnya balik lagi ke sesuatu yang terasa lebih manual.”

Dari karya-karya yang masuk, Eric menekankan bahwa juri tidak hanya menilai dari eksekusi visual, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana karya tersebut mampu meninggalkan dampak dan menggerakkan emosi. “Gue ambil contoh dari karya Studio Woork kemarin yang menang Wood Pencil. Ketika baca konsepnya, salah satu juri bilang ‘it moves me’, secara emosional, dia tergerak. Gue sendiri ada teori lain yang gue sampaikan juga ke juri-juri; ketika gue lihat karya, harus ada rasa ‘kenapa bukan gue ya yang bikin karya ini?’. Jadi, ada elemen enviousness—kayaknya adanya perasaan itu bikin gue lebih mudah dalam menilai,” cerita Eric. 

Setelah prestasi yang diraih Studio Woork, Eric melihat ada potensi besar bagi desainer Indonesia untuk melebarkan sayapnya hingga ke D&AD. Ada beberapa poin yang Eric dapatkan dari pengalamannya sebagai juri yang dapat dibagikan ke desainer Indonesia yang ingin mengirimkan karya ke D&AD. “Narasi itu pasti penting karena juri kan tidak melihat langsung proses desainnya. Siapkan narasi konsep, cultural background, hingga eksekusi.” Selain itu, Eric juga mendorong desainer Indonesia untuk memikirkan dampak proyeknya untuk kehidupan sekitar karena itu menjadi faktor yang cukup penting saat penjurian. “Kalau karya bagus tapi tidak sampai ke masyarakat, tidak punya impact sosial, mungkin tidak terlalu dilihat, karena dampak menjadi salah satu elemen terpenting.”

D&AD juga memiliki sistem yang cukup ketat terkait etika konten. Terdapat fitur alert untuk menandai karya yang mengandung unsur SARA atau pornografi yang tidak pantas. Eric mengingat satu kasus karya yang secara teknis menarik, tetapi dianggap tidak etis secara visual dan tidak menyampaikan pesan apapun—akhirnya dieliminasi dari penjurian.

Dalam refleksinya, Eric melihat partisipasi dalam ajang seperti D&AD bukan hanya soal prestise, tapi juga sebagai momen untuk merefleksikan apakah karya kita benar-benar diakui di luar sana. Ia mengajak desainer Indonesia untuk lebih percaya diri dan berani menunjukkan karya mereka ke panggung global. “Menurut gue, penting bagi kita, sebagai desainer Indonesia, untuk berani step further,” tegas Eric. Ia juga mengangkat diskursus menarik seputar karya yang terlalu sarat muatan budaya lokal. Dalam diskusi dengan perwakilan ADGI, Eric menyimpulkan bahwa D&AD tidak secara eksplisit mencari karya yang sangat "Indonesia", tetapi lebih pada karya yang memiliki dampak dan nilai yang kuat. “Buat karya yang berdampak, berkarya sebagus-bagusnya, semaksimal mungkin. Once kita yakin dengan apa yang kita buat, dan kita happy dengan itu, submit aja, setidaknya kita sudah mencoba dan tidak ada yang salah dari itu.”

Menutup obrolan, Eric mengungkapkan bahwa menjadi juri D&AD mengingatkannya pada masa kuliah, ketika kritik terhadap desain menjadi bagian penting dari proses belajar. Diskusi antarjuri di D&AD terasa sangat produktif—tidak hanya soal suka atau tidak, tapi juga alasan dan pembelaan terhadap setiap pilihan, dan melihat desain dari kacamata yang lebih tajam. 

Pengalaman Eric Widjaja sebagai juri D&AD bukan hanya validasi atas perjalanannya selama ini, tetapi juga pengingat bahwa desainer Indonesia memiliki ruang untuk didengar di panggung global. Desain tak hanya menitikberatkan pada hasil akhir tapi juga keberanian untuk memulai, menyampaikan gagasan dengan jujur, relevan, dan bermakna. Di tengah dinamika desain yang terus bergulir, satu hal yang tetap menjadi kunci: desain yang jujur dan berdampak akan selalu menemukan tempatnya.

Photo Credit: D&AD & Scott Little Photography

About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.