Evi O dan Masa Depan Desain Buku

oleh Dhanurendra Pandji

Sebuah email balasan mendarat di ponsel saya. Kurang lebih dua hari setelah permintaan wawancara saya kirimkan pada Evi O, ia memberikan tanggapan yang cukup antusias. Evi O adalah seorang pendiri biro desain Evi-O Studio, seniman, dan desainer yang telah berpengalaman memenangkan berbagai penghargaan selama lebih dari 15 tahun di industri. Tahun ini ia akan berperan sebagai salah satu dewan juri dalam ajang D&AD Awards 2025—-penghargaan global di bidang desain dan periklanan—untuk kategori desain buku bersama dengan beberapa nama-nama besar lainnya seperti Johanna Neurath, Sonja Haller, Billy Kiosoglou, Hikari Machiguchi, Yanrong Pan, dan Katrina Papanagiotou. Keterlibatannya mendirikan Australian Book Designers’ Associations pada 2014 dan bergabungnya Evi O sebagai anggota aktif Alliance Graphique Internationale sejak 2023 meneguhkan posisinya sebagai desainer grafis yang diperhitungkan dalam lanskap desain global. Dengan nada teks yang berbungah, ia mengungkapkan kesediaannya untuk berbagi proses kreatifnya dengan Grafis Masa Kini. 

“Ada sesuatu dalam sebuah buku yang cocok dengan sifat obsesif dan penasaranku,” terang desainer yang saat ini menetap di Sydney tersebut. Lahir di Surabaya pada tahun 1986, Evi O tumbuh dengan rasa ingin tahu yang besar terhadap seni dan desain. Pada usia 17 tahun, ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan desain di Sydney, Australia, sebuah langkah yang membuka jalannya dalam dunia kreatif. Di University of Technology, Sydney, ia mengeksplorasi berbagai bidang dalam desain visual dari digital, animasi, hingga fotografi. Meski demikian, ketertarikannya pada desain buku selalu menjadi yang utama. 

Setelah lulus pada tahun 2008, Evi memulai perjalanan kariernya di berbagai studio desain dan agensi periklanan. Kesempatan besar datang ketika ia mendapatkan pekerjaan paruh-waktu di Penguin Books Australia, yang kemudian berkembang menjadi pengalaman selama delapan tahun di penerbitan tersebut. Di sana, ia belajar semua seluk-beluk dalam produksi buku komersial. Namun, pada tahun 2016, penggabungan global antara Penguin dan Random House menyebabkan restrukturisasi perusahaan, yang membuat divisi tempatnya bekerja ditutup. Pada titik ini, ia baru saja menginjak usia 30 tahun dan mulai merasakan dorongan untuk membangun sesuatu sendiri. Dari sinilah Evi-O Studio (EOS) lahir, dengan visi membawa perspektif baru dalam industri penerbitan. Kini, setelah tujuh tahun berdiri, EOS telah berkembang menjadi studio yang berpengaruh dalam dunia desain buku.

zoom-1

Keberhasilan Evi dalam industri kreatif membawanya ke berbagai penghargaan dan pengakuan, termasuk undangan untuk menjadi juri dalam ajang D&AD. “Ini adalah peran yang sudah cukup lama tertunda. Semestinya aku menjadi juri D&AD tahun 2020, tahun di mana seluruh dunia mengalami perubahan,” terangnya. Ia baru menjalankan peran tersebut setelah 5 tahun tertunda akibat pandemi. Sebagai juri, ia menawarkan 3 elemen utama dalam menilai kelayakan sebuah desain buku dalam ajang penghargaan tersebut. Pertama adalah solusi desain secara keseluruhan dalam konteks buku. Kedua, perhatian desainer terhadap detail dan pemecahan masalah pada tingkat mikro. Dan yang ketiga adalah pengalaman taktil dari buku itu sendiri. Selain itu, pengalaman bekerja di lanskap komersial dan independen adalah sebuah poin bonus. Meskipun tentu saja tidak semua buku dirancang untuk menjadi produk komersial, tetapi buku yang berhasil memahami audiensnya memiliki nilai lebih. Evi sendiri mengajukan argumentasi lanjutan yang sering diperdebatkan dalam proses penjurian, “Dapatkah sebuah karya desain bebas dari konteks kapitalisnya dan diperlakukan sebagai bentuk ekspresi artistik? Mari kita diskusikan.”

Sebagai seorang desainer dan seniman, Evi memiliki gaya yang khas dalam karyanya. Ia cenderung menggunakan bentuk-bentuk abstrak, minimalis, dengan elemen-elemen geometri datar dan palet warna yang harmonis. Namun, di balik tampilan yang minimalis, proses kreatifnya kompleks. Ia selalu memulai dengan riset mendalam dan pemecahan masalah sebelum akhirnya menuangkan ide ke dalam bentuk visual. Menurutnya, desain yang baik bukan sekadar indah, tetapi juga harus berfungsi dengan baik dan memiliki kedalaman makna. Pendekatan ini juga berlaku dalam desain buku. Sebelum memulai sebuah proyek, ia terlebih dahulu menyerap isi buku secara menyeluruh dan merancang brief kreatif untuk dirinya sendiri. Setelah konsepnya matang, eksekusi desain pun mengalir secara alami. Meskipun grafiknya tampak sederhana, Evi selalu memastikan desainnya tetap berlapis dan mampu berinteraksi dengan pembaca. “Ketika mereduksi grafis aku harus menemukan keseimbangan antara estetika dan fungsi. Meski begitu aku selalu memastikan kemasan akhirnya masih berlapis-lapis,” jelasnya. “Tetapi ketika aku merenungkannya, reduksi grafis menghadirkan peluang interaksi interpretatif dengan audiens, sehingga, mungkin, itu yang membuat sebuah karya menjadi menarik.”

Dalam mendesain buku, ia banyak belajar dari para desainer buku komersial yang ia temukan selama bekerja Penguin Book seperti Irma Boom, Peter Mendelsund, Jenny Grigg, Mark Gowing, Sandy Cull, David Pearson, Suzanne Dean, Jon Gray, dan Tadanori Yokoo. Meski demikian, Evi mengungkapkan bahwa ia justru lebih banyak menarik inspirasi dari sumber-sumber di luar buku. “Aku cenderung menjauh dari industri desain buku dan lebih banyak menemukan sumber inspirasi serta pengaruh inovatif dari alam, seni, musik, dan fesyen—baik secara visual maupun filosofis”, ungkapnya. 

zoom-2-(klo-perlu)

Setiap proyek desain buku memiliki tantangannya sendiri, baik dari segi skala, aspek komersial, maupun proses kolaboratif dengan berbagai pihak seperti penerbit, penulis, editor, hingga penjual buku. Tantangan terbesar, menurut Evi, adalah “menyelaraskan visi dari semua pemangku kepentingan agar hasil akhirnya sesuai dengan harapan bersama.” Beberapa proyek EOS yang paling berkesan baginya adalah Cao Fei: My City is Yours, seri Japaneasy, dan Seeing Stars. Ketiga buku tersebut merupakan buku dengan subjek yang berbeda-beda. Sebagai contoh, dalam Cao Fei: My City is Yours,, Evi berhasil menerjemahkan eksperimen artistik seniman asal Beijing, Cao Fei, yang mengeksplorasi hubungan mendalam antara Tiongkok dan Australia, sekaligus mengaburkan batas antara desain cetak dan digital. Dalam seri Japaneasy, ia menyalurkan kekagumannya bersama sang penulis buku masak terhadap berbagai aspek budaya Jepang, menggabungkan unsur pop culture dan narasi tradisional melalui ilustrasi yang melengkapi resep-resep di dalamnya. Sementara itu, Seeing Stars—seri buku bertema zodiak—menjadi upaya yang sukses secara komersial dan berpengaruh dalam mendefinisikan kembali genre penerbitan paranormal bagi generasi masa kini. Masing-masing proyek ini berhasil menjawab tantangan desain dengan solusi yang unik dan inovatif.

Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri ini, Evi melihat bahwa meskipun era keemasan buku cetak telah berlalu, ada kerinduan akan pengalaman taktil yang hanya bisa diberikan oleh buku fisik, terutama di kalangan generasi muda. “Ada sesuatu yang sangat instingtif dan mewujud ketika kamu berinteraksi dengan informasi dalam bentuk buku,” katanya. Dengan bercanda ia kemudian menambahkan “Hal itu menggerakan otakmu dengan cara tertentu yang hanya manusia purbakala yang akan paham.” Di era internet sekarang, para ‘manusia purba’ ini mengalami betapa berbedanya pengalaman membalikkan halaman buku dibandingkan dengan menggulir layar ponsel. Baginya, kekuatan dari buku fisik adalah kemampuannya menghadirkan kita sebuah dunia secara lebih mendalam. Namun Evi menolak terjebak dalam nostalgia kosong. Sebab, kehadiran internet dan dunia digital pun menurutnya telah memengaruhi desain dan format buku kontemporer sehingga kian berlapis dan kompleks. Ia menegaskan, “Tantangan buat para desainer buku kontemporer adalah bagaimana menyadari dan menggabungkan kedua jenis pengalaman antara bentuk buku tradisional dan trajektori kedepannya. Ragam format buku itu memukau.”

Bagi para desainer muda yang ingin berkecimpung dalam dunia desain buku, Evi memberikan tiga prinsip utama. Pertama, kuasai aspek teknisnya—pahami sejarah desain buku, prinsip grid, dan cara menyederhanakan kompleksitas dalam bentuk yang efektif. Kedua, pahami bagaimana mengekspresikan visi penulis, bukan sekadar gaya pribadi desainer. Ini mencakup sensitivitas terhadap tipografi, tata letak, komposisi, dan desain konten. Terakhir, pahami konteks dunia tempat sebuah buku akan hadir. Siapa pembacanya? Bagaimana mereka akan berinteraksi dengan desain tersebut? 

Di tengah perkembangan industri, satu hal yang tetap pasti: buku akan selalu memiliki daya tariknya sendiri, selama masih ada desainer yang mampu menghidupkannya dengan kreativitas dan visi yang tajam. 

gallery-1
gallery-2
gallery-3
gallery-4
gallery-5
gallery-6
gallery-7
gallery-8
About the Author

Guest Writer

Brilliant minds in the creative industry invited to contribute their thoughts revolving the arts field.