Menggali Wawasan Desain di Pameran Harmonisasi oleh Nusaé

Desain yang baik seharusnya menjadi bagian dari keseharian. Prinsip itulah yang dipegang teguh biro desain Nusaé dalam berkarya. Dalam sepuluh tahun perjalanannya, studio desain grafis asal Bandung ini telah bekerja bersama badan pemerintah, biro arsitektur, hingga rumah mode. Karya-karya mereka hadir di museum, stasiun kereta api, bank negara, kedai kopi, hingga kota yang baru dikembangkan. Untuk menampilkan proses kreatif di balik kolaborasi antar disiplin yang telah dilakukannya, Nusaé mengundang publik untuk menghadiri pameran Harmonisasi yang dilangsungkan pada 31 Mei hingga 16 Juni di Galeri Emiria Soenassa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lokasi pameran ini sendiri memiliki arti spesial bagi Nusaé. Dalam proyek revitalisasi Taman Ismail Marzuki yang diluncurkan pada 2022 lalu, Nusaé terlibat sebagai perancang penunjuk arah di komplek pusat kebudayaan nasional ini. Pengunjung yang mengakses komplek TIM untuk menuju pameran dapat mengalami langsung karya Nusaé dalam konteks keseharian.

Nusaé sendiri adalah studio desain grafis yang berpraktik dalam bidang informasi visual yang meliput environmental graphic design, signage system, editorial design, user interface, dan branding. Dalam praktik profesionalnya, Nusaé selalu membawa nilai keselarasan dan harmonisasi yang dituangkan dalam beragam konteks proyek dan medium kekaryaan. Judul pameran Harmonisasi ini diambil dari nilai yang dipegang Nusaé dalam berpraktik—bahwa karya desain harus performatif namun selaras dengan konteks lingkungan tempat karya desain tersebut berada. Beberapa proyek yang hasil dan proses berpikirnya akan ditampilkan meliput citra kota Menuju Tubaba, pembaruan visual rumah mode Peggy Hartanto, juga karya instalasi Elevation oleh biro arsitek andramatin. Pameran Harmonisasi terbagi dalam lima bagian yang menunjukkan berbagai wujud keselarasan dalam desain.

Zoom-1

Bagian pertama adalah Subtle—strategi harmonisasi di mana desain yang dirancang oleh Nusaé harus berdampak tanpa berteriak. Pada bagian pameran ini, audiens dapat melihat penunjuk arah yang dirancang Nusaé untuk pengunjung karya instalasi Elevation. Karya ini ditampilkan biro desain andramatin di Venice Architecture Biennale tahun 2018, kemudian di Museum MACAN, Jakarta, pada 2019. Bagian kedua adalah Adapt—strategi harmonisasi ini merupakan pendekatan desain di mana Nusaé mengadaptasi atau meminjam bentuk atau unsur dari kebudayaan atau hal tertentu untuk diaplikasikan pada sebuah proyek secara selaras. Pendekatan ini digunakan pada proyek Lembur Urang. Nusaé merancang signage di area ini dengan mengadaptasi budaya kampung Cipta Gelar dari Sukabumi. Bagian ketiga adalah Contrast yaitu pendekatan desain yang secara intensional dibuat lebih mencolok dan dapat lebih mudah terlihat tanpa menjadi obstruktf bagi elemen-elemen terkait. Pendekatan ini dapat ditemukan pada proyek Taman Ismail Marzuki dengan keragaman bentuk bangunannya. 

Bagian keempat adalah Fusion yang merupakan strategi harmonisasi di mana Nusaé menghadirkan desain kolaboratf yang dihasilkan dari perkawinan berbagai perspektf, gagasan, dan peran. Sepert terlihat dalam proyek citra kota Menuju Tubaba, yang mendapat penghargaan Good Design Award di Jepang pada 2022. Bagian terakhir adalah Aptness—menunjukkan upaya Nusaé untuk mencari kemungkinan baru harmoni dalam desain. Nusaé telah menggagas inisiatif seperti media desain Saturasi, yang hadir sebagai

platform alternatif yang membahas topik-topik urban dari sudut pandang desain melalui medium zine yang didistribusikan ke beberapa kota di Indonesia.

Zoom-2

Selama periode pameran, pengunjung dapat mengikut tur pameran terjadwal bersama Andi Rahmat (Principal Designer & Director Nusaé), Andra Matin (arsitek), dan Rizki M. Supratman (kurator pameran Harmonisasi, pendiri biro arsitek Ragam). Tur ini diharapkan dapat membuka ruang diskusi yang inklusif antara praktisi yang terlibat dalam pameran ini, dengan peminat desain yang berkunjung ke pameran. Dalam usaha pertukaran wawasan desain dari perspektif lokal dan global, Nusaé mengadakan gelar wicara dengan tema Merawat Harmonisasi: Desain sebagai Wujud Kebudayaan Lintas Zaman. Tokoh desain senior asal Jepang, Taku Satoh (69) menyampaikan presentasi kunci. Satoh dikenal atas prinsip “desain secukupnya” yang didasarkan pada filosofi kuno Jepang yang disebut hodo-hodo. Sejak 1984, ia memimpin biro Taku Satoh Design Office. Karya desainnya yang paling dikenal termasuk seri kampanye Pleats Please dari rumah mode Issey Miyake dan logo 21st Century Museum of Contemporary Art, Kanazawa. Presentasi kunci Satoh akan dilanjutkan dengan diskusi bersama praktsi desain Andi Rahmat, Diaz Hensuk (SWG Design & Format), Stephanie Larassati (AT-LARS), dan Adjie Negara (Paragon Corp).

Andi Rahmat, Principal Designer & Director Nusaé, menjelaskan pemikiran di balik pameran: “Kami merancang pameran ini sebagai penanda jeda—sebuah momen untuk napak tilas pemikiran dan karya yang telah dihasilkan dari kolaborasi kami dengan berbagai disiplin yang bersinggungan dengan desain. Pameran ini bukan hanya ajang untuk menampilkan proyek-proyek di mana kami terlibat, namun dirancang sebagai kesempatan untuk memulai dialog tentang peran desain dalam kehidupan sehari-hari. Kami harap dapat mengajak audiens untuk membuka pikiran dan bertukar gagasan tentang desain yang berdampak bagi sebuah masyarakat.”

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-6
Slide-7
Slide-8
Slide-9
Slide-10
Slide-11
Slide-12
Slide-13
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.