Pameran Faithamins “Into The Light”: Jalan Menuju Pemulihan
Menjelang pertengahan Ramadan, sebuah ruang di Bandung berubah menjadi tempat untuk berhenti sejenak dari ritme dunia yang serba cepat. Di The Hallway Space, komunitas Faithamins menghadirkan Ramadan Remedy 2026 dengan tema Into The Light. Program ini berlangsung dari 28 Februari hingga 10 Maret 2026 dan menjadi bagian dari upaya Faithamins, komunitas yang berdiri di Bandung pada 2018, dalam menyediakan ruang tumbuh bagi pelaku industri kreatif untuk berkarya dengan landasan pengetahuan dan nilai keimanan.
Tema Into The Light berangkat dari pengalaman manusia yang hidup di tengah tekanan yang terus berlangsung. Teks kuratorial yang ditulis Aulia Akbar mengajak pengunjung memikirkan kembali sebuah pertanyaan sederhana, kapan terakhir kali kita mampu bersikap baik tanpa rasa lelah, marah, curiga, atau terancam. Pertanyaan ini muncul dari situasi yang kerap disebut sebagai permacrisis, keadaan ketika krisis ekonomi, konflik global, krisis iklim, dan arus informasi yang deras hadir bersamaan dan membentuk rasa tegang yang berkepanjangan dalam kehidupan sehari hari.
Dalam kondisi seperti ini, manusia tetap dituntut untuk terus bergerak dan bekerja. Di baliknya, tubuh dan pikiran menyimpan akumulasi tekanan yang jarang mendapat ruang untuk diolah. Paparan penderitaan yang berulang juga memunculkan compassion fatigue, keadaan ketika kepedulian perlahan melemah dan emosi mengeras. Kelelahan tersebut sering muncul dalam bentuk sikap kecil yang tampak biasa seperti sinisme, jarak emosional, atau kemarahan yang tersembunyi.
Melalui pameran ini, Ramadan dibaca sebagai momen untuk memperlambat ritme tersebut. Puasa menghadirkan batas, keheningan membuka ruang refleksi, dan pengulangan ritual memberi stabilitas dalam dunia yang tidak menentu. Proses ini menjadi jalan untuk mengolah emosi yang tersimpan dan memberi ruang bagi empati untuk pulih kembali.
Sebanyak 28 seniman terlibat dalam pameran ini dengan menghadirkan 28 karya yang menggambarkan perjalanan dari kelelahan menuju pemulihan. Cahaya dalam konteks pameran dipahami sebagai proses yang muncul perlahan, ketika seseorang memberi ruang bagi dirinya untuk berhenti, merasakan, dan mendengarkan.
Setiap karya dalam pameran dapat dikoleksi oleh publik. Melalui kerja sama dengan Explore! Humanity, hasil penjualan karya juga akan berkontribusi pada upaya pemulihan pasca bencana di Sumatra. Dengan demikian, pengalaman refleksi yang dihadirkan di ruang pamer terhubung langsung dengan aksi nyata di luar ruang tersebut.