Gion dalam Simulasi: Mengunjungi Ulang Sebuah Laku Gambar
Ketika kami memasuki ruang pameran Gion dalam Simulasi, yang pertama kami lihat bukanlah karya Gion, melainkan sebuah mesin plotter bergerak pelan di atas kertas. Di sebelahnya terpampang gambar-gambar digital bergaya 8bit yang digambar di atas kertas melalui mesin plotter tersebut. Karya itu milik Abi Rama. Ia menyingkirkan tangan dari proses menggambar dan membiarkan alat menggantikan gestur. Tidak ada goresan impulsif atau lekukan spontan. Semua tampak kaku, tapi justru di situlah refleksinya muncul. Karyanya semacam antitesis dari spontanitas, taktilitas, dan kebermainan ekspresi gambar vang dipraktikkan oleh Gion, seraya mengingatkan kembali perihal aspek kesederhanaan gambar.
Di sebelah karya Abi Rama terlihat semacam papan presentasi sekolah dengan potongan-potongan lukisan, goresan pensil warna, dan aneka ragam huruf yang bisa ditempelkan dengan magnet. Ipeh Nur menggantungkan gambar-gambarnya seperti barisan absen, berlapis-lapis dengan tulisan, potongan kertas, dan tempelan tak beraturan. Di balik setiap potong gambar, ada kegelisahan yang tersimpan. Ipeh menyebut ini sebagai upaya menyetel ulang cara ia menggambar. Ia tidak ingin hanya menghadirkan karya yang selesai, tapi juga menunjukkan laku, sebuah ritus kecil yang mungkin terkesan remeh. Fragmen gambar Mahabarata karya Gion yang berjudul Bukan Perang Hitam-Putih menjadi titik pantul baginya. Ipeh merespons perang batin personal dengan membuka kesempatan bagi publik untuk ikut membongkar, menyusun ulang, dan membentuk komposisi mereka sendiri. Kami melihat anak kecil menggambar dan menempelkan gambar-gambar di papan magnet itu. Tidak ada yang protes.
Ketika kami menengok ke arah kanan dan kiri, kami baru mendapati karya Gion, sosok kunci dari pameran ini. Di sebelah kanan kami terdapat mural bergambar sekelompok orang terikat dan terperangkap satu sama lain. Mural tersebut dibuat dari salah satu arsip gambar Gion sendiri. Sementara di sebelah kiri kami, terdapat arsip seri gambar beberapa adegan penting dari kisah epos Ramayana dan Mahabarata yang ia gambar pada tahun 1970-an. Melalui seri gambar ini Gion menghadirkan tafsir kritis atas alih wahana cerita wayang ke medium komik. Hal yang sebetulnya tak terhindarkan dalam komik sebagai medium populer, yakni reduksi nilai-nilai fundamental dan kesubtilan dari kisah asli wayang klasik. Gion untuk memulai seri gambar wayangnya dengan mengambil pendekatan berbeda dari penggambaran kisah wayang dalam komik Indonesia lainnya. Ia mengintervensi para tokoh pun latarnya sehingga seolah seperti kisah fiksi ilmiah. Figur-figur ini juga digambarkan selalu relevan dengan situasi sosial politik kontemporer.
Wagiono Sunarto, atau yang akrab disapa Gion, lahir pada 1949 dan wafat pada 2022. Ia dikenal sebagai seniman, akademisi, desainer grafis, dan pemikir visual yang menempatkan gambar sebagai inti dari praktik estetik dan intelektualnya. Sebagai salah satu tokoh penting dalam medan ilustrasi, kartun, dan komik di Indonesia, Gion turut mendirikan kelompok PERSEGI dan berkontribusi dalam proyek Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia. Melalui praktik Gion dan kawan-kawan PERSEGI, kita dapat merasakan kejujuran dan kesederhanaan seni gambar. Karya-karyanya juga memengamplifikasi potensi komunikatif, kegembiraan, dan kesehari-harian medium ini di tengah kejenuhan seni rupa Indonesia arus utama 1970-1980-an pada ekspresi dan gaya lirisisme abstrak pada seni lukis.
Pameran yang berlangsung pada 25 Mei sampai dengan 22 Juni 2025 di Rubanah Underground Hub ini tidak memajang Gion sebagai pusat. Ia justru terasa hadir sebagai lapisan yang membungkus cara berpikir seniman-seniman yang ada di dalamnya. Dari arsip-arsip lama PERSEGI hingga gambar wayang yang tidak diberi dialog, dari gagasan soal gambar sebagai tindakan ringan namun reflektif, hingga caranya memahami ilustrasi dan kartun sebagai cara intervensi budaya visual. Semuanya muncul kembali, disimulasikan ulang. Chabib Duta Hapsoro sebagai kurator dalam pameran ini menerangkan bahwa pameran ini tidak hanya menampilkan arsip-arsip karya Gion, tetapi juga menghadirkan interpretasi para seniman yang terlibat terhadap karya dan pemikiran Gion sendiri. Sebab, “Diskursus seni gambar masih belum banyak (di Indonesia). Padahal senirupa banyak didasarkan pada seni gambar.”
Langkah kami berlanjut ke instalasi Dika dan Lija. Di depan dinding putih terdapat sebuah meja dan kursi santai semacam ruang tamu kecil. Di sana terdapat potongan teks kuratorial yang dicetak kecil-kecil. Sebagian sudah dicoret. Beberapa ditambal dengan tulisan tangan pengunjung sebelumnya. Ada yang menambahkan sketsa kecil di sela paragraf. Di satu sudut, kami diberi spidol dan diminta ikut serta: mengubah, menghapus, atau menuliskan ulang. Dika dan Lija mengajak kita masuk, menjadikan tulisan yang biasanya disakralkan itu sebagai bahan yang cair, lentur, bisa diutak-atik. Mereka menggemakan kebiasaan Gion yang senang meninggalkan catatan dan coretan, kadang tidak selesai, kadang justru muncul kembali setelah terhapus.
Di satu ujung ruangan, layar proyeksi gelap menyala. Di dalamnya, Iman Anggoro dan Gina Adita mempersembahkan sebuah video musik. Tidak ada narasi yang jelas, hanya sekuens bentuk dan warna yang terus bergerak. Kadang spiral, kadang garis-garis pecah, kadang teks yang berubah-ubah. Gion mungkin tidak membayangkan video seperti ini, tapi struktur naratifnya terasa akrab. Ada awal, ketegangan, dan ledakan kecil di akhir. Visualnya tidak mencitrakan apa-apa secara langsung, tapi memberikan cukup ruang bagi penonton untuk menetapkan makna sendiri. Dalam senyap ruangan itu, kami membayangkan Gion duduk di pojok, mencatat sambil tersenyum.
Tidak semua pengunjung tampak membaca teks panjang atau memperhatikan referensi sejarah yang menyertainya. Tapi banyak yang berhenti cukup lama di depan karya. Beberapa bahkan ikut menggambar, menulis, atau menempelkan sesuatu. Simulasi bukan berarti pengulangan. Ia adalah pemicu. Seperti yang dikatakan Bambang Budjono dalam diskusi pameran ini: “Kita bisa melihat masa lalu dan masa kini dalam pameran ini.”