IQRO' Reimagined: Transformasi Visual demi Literasi yang Tak Lekang Zaman


Buku Iqro merupakan pemandangan yang lazim dalam masa kecil banyak orang di Indonesia. Sampul hitam dengan potret seorang kakek bersahaja dan tulisan Arab yang khas telah menjadi gerbang literasi Al-Qur'an selama puluhan tahun. Namun, pada pengujung tahun 2025, sebuah inisiatif berani muncul untuk memberikan wajah baru pada buku legendaris ini melalui proyek bertajuk IQRO' Reimagined. Proyek ini merupakan kolaborasi antara jenama perawatan pria Kahf, konsultan kreatif W Brand Consultant, serta IQRO' Center. Tujuannya tak lain untuk mendekatkan kembali metode belajar Al-Qur'an kepada generasi muda melalui pendekatan visual yang lebih segar dan kontekstual.

Lahirnya proyek ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Hubungan antara Kahf dan W Brand Consultant telah terbangun sejak tahun 2019, tepatnya saat proses pembuatan identitas jenama Kahf itu sendiri. W Brand Consultant adalah pihak yang ditunjuk oleh Paragon Corp untuk merancang strategi, identitas visual, dan pengalaman jenama bagi Kahf.

Kepercayaan yang telah terpupuk selama bertahun-tahun ini membuat komunikasi berjalan singkat. Pada Rabu, 24 Desember 2025, tim Kahf menyampaikan ide proyek redesain ini kepada W Brand Consultant. Ibnu Hafiz Fadhilah, Brand Designer dari W Brand Consultant, mengungkapkan bahwa timnya merasa sangat bersemangat karena memiliki visi yang sejalan dengan Kahf. Hanya berselang satu minggu, Kahf memperkenalkan tim desainer kepada IQRO' Center yang didampingi oleh Yayasan AMM Depot IQRO' bagian Litbang. Pertemuan daring tersebut menjadi titik tolak resmi dimulainya transformasi visual buku Iqro.

Dalam proses kreatifnya, W Brand Consultant melakukan riset mendalam mengenai dinamika tulisan Arab dan desain Islami di Indonesia. Mereka menemukan sebuah fenomena unik: di Indonesia, tulisan Arab memiliki kesakralan tersendiri yang menciptakan "halo effect". Meskipun buku Iqro bukan merupakan Al-Qur'an, keberadaan huruf-huruf Arab di dalamnya membuatnya ikut dianggap sakral oleh masyarakat.

Riset yang dilakukan sejak 2019 hingga 2026 ini menyoroti adanya stagnasi desain Islami di Tanah Air. Ibnu menjelaskan bahwa desain Al-Qur'an di Indonesia cenderung seragam dan tidak banyak berubah dari waktu ke waktu. Hal ini berbeda dengan sejarah yang menunjukkan bahwa desain Al-Qur'an sebenarnya sangat terbuka terhadap eksplorasi.

Ada tiga temuan utama dari studi mereka. Secara historis, Al-Qur'an memengaruhi desain Islami, namun perkembangan desain Islami juga sangat memengaruhi tampilan Al-Qur'an. Pengaruh timbal balik ini kontras dengan situasi di Indonesia saat ini, di mana desain Al-Qur'an justru mendominasi mayoritas desain Islami yang ada.

Selain itu, desain dekoratif yang dianggap standar saat ini, yaitu desain dengan Khat Riq'ah dan Diwani yang dikelilingi ornamen cahaya, sebenarnya adalah hasil eksplorasi dari masa Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) pada abad ke-14–17. Padahal, sebelum masa itu, desain Al-Qur'an jauh lebih beragam, bahkan ada yang minimalis seperti gaya Samarkand Kufic.

Saat ini, di Timur Tengah sendiri, desain Islami telah berkembang menjadi lebih kontemporer. Salah satu gerakan yang muncul adalah Hurufiyya, sebuah pendekatan seni yang mengolah huruf Arab sebagai bahasa visual modern yang abstrak, tidak sekadar tulisan yang dibaca secara harfiah.

Stagnasi desain yang hanya berkutat pada gaya Ottoman membuat desain Islami di Indonesia seolah terjebak di masa lalu dan kurang relevan bagi generasi yang menyukai kebaruan visual. Berangkat dari riset tersebut, tim desainer memutuskan untuk mengadopsi konsep "type as image" yang terinspirasi dari gerakan Hurufiyya. Mereka mendekonstruksi Khat asli Iqro yang sudah otentik untuk dijadikan elemen visual utama.

Perubahan signifikan terlihat pada format fisiknya. Desain baru ini mengusung format zine dengan accordion fold atau lipatan koner-tina. Pemilihan format ini bukan tanpa alasan teknis. Lipatan dua sisi sengaja dibuat untuk memisahkan konten huruf Latin dan huruf Arab. Hal ini menyesuaikan dengan arah baca: bahasa Latin dari kiri ke kanan, sementara bahasa Arab dari kanan ke kiri. Selain format lipatan, perubahan juga dilakukan pada ukuran buku, alur membaca, pilihan kertas, teknik cetak, hingga kategorisasi konten tanpa mengubah isi materinya. Visualnya dibuat lebih ekspresif dan dinamis untuk merespons selera generasi sekarang.


Meskipun tampilannya berubah drastis menjadi lebih kontemporer, tim desainer tetap mempertahankan tiga elemen kunci yang dianggap sebagai "jangkar identitas" buku Iqro. Elemen tersebut adalah simbol santri, foto K.H. As'ad Humam pada bagian belakang buku, dan tulisan asli "IQRO'" dalam huruf Arab. Ketiga elemen ini dinilai memiliki makna filosofis mendalam yang sudah melekat di benak jutaan orang.

Warna yang digunakan juga menjadi jembatan antara identitas Kahf dan spirit kebaruan. Palet warna didominasi oleh Nature Green dan Deep Blue khas Kahf yang dipadukan dengan sentuhan ekspresif khas zine. Tujuannya adalah menjaga kontinuitas desain agar selaras dengan jenama inisiatornya.

"Desain IQRO akan didorong ke arah yang lebih kontemporer dan Kahf yang biasanya minimalis akan merespons zine yang lebih ekspresif," ujar Ibnu Hafiz Fadhilah, menjelaskan tantangan teknis dalam memadukan dua karakter tersebut. “Ini menjadi tantangan tersendiri karena memadukan 2 reinterpretasi yang terjadi secara bersamaan, yaitu modernisasi IQRO yang tidak menghilangkan sisi otentiknya dan ekspresi desain Kahf yang kontekstual dalam merespons medium baru pada pengalaman brand-nya,” lanjutnya.

Dari sisi Kahf, proyek ini merupakan bagian dari kampanye "Bener Bareng" menyambut Ramadan 2026. Aldian Alfaridz dari tim Brand Building Kahf menjelaskan bahwa ide ini lahir dari refleksi terhadap tantangan literasi Al-Qur'an di masyarakat.

Ternyata, kebutuhan untuk belajar membaca Al-Qur'an dari dasar tidak hanya dialami oleh anak-anak, tetapi juga banyak orang dewasa. Masalahnya, banyak orang dewasa yang merasa ragu, malu, atau takut dianggap ketinggalan jika harus memulai kembali dari nol.

"Objektif utama kami adalah menghadirkan IQRO' dalam format yang lebih kontekstual bagi generasi muda, terutama mereka yang ingin kembali belajar membaca Al-Qur'an dari dasar tapi merasa sungkan atau takut dianggap ketinggalan," tutur Aldian.

IQRO' Center menyambut positif inisiatif ini. Saniko, selaku Creative Representative dari IQRO' Center, menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk perjuangan untuk melanjutkan semangat K.H. As'ad Humam dalam memberantas buta huruf Al-Qur'an. Pihak IQRO' Center memastikan bahwa meskipun tampilannya berubah, struktur pembelajaran dan kaidah bacaan tetap mengacu sepenuhnya pada metode orisinal sang maestro.

Proyek redesain ini tentu tidak lepas dari tantangan nonteknis, terutama terkait potensi pro-kontra dari masyarakat yang menganggap perubahan desain huruf Arab sebagai bentuk pertentangan terhadap kesakralan. Namun, tim pengembang percaya bahwa diversifikasi desain justru diperlukan untuk memenuhi kebutuhan belajar yang beragam.

Sinyal positif mulai terlihat dari tingginya minat masyarakat yang menanyakan cara membeli buku versi baru ini setelah melihat tampilannya. Saat ini, buku IQRO' Reimagined dicetak dalam jumlah terbatas sebagai bagian dari kampanye Ramadan. Terkait kemungkinan cetak massal, Kahf menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada pihak IQRO' Center sebagai pemegang warisan metode tersebut.

Harapannya, langkah ini dapat memicu lebih banyak praktisi desain untuk mengembangkan desain Islami di Indonesia. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Hafiz Fadhilah, modernisasi tidak seharusnya bertentangan dengan desain Islami, karena sejarah dan sisi otentik justru bisa menjadi sumber inspirasi yang tak terbatas dalam proses pembaruan tersebut. Melalui IQRO' Reimagined, buku yang selama ini menjadi simbol nostalgia masa kecil kini mencoba bertransformasi menjadi kawan belajar yang relevan bagi masa depan literasi Al-Qur'an di Indonesia.

web-12
web-13
web-14
web-11
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.