Januar Kristianto Berbincang dengan Saleh Husein soal Bagaimana Desain Ikut Membangun Komunitas Musik

Dari dulu hingga hari ini, desain dan musik selalu berjalan beriringan dan saling memengaruhi. Seiring semakin terbukanya ruang bagi berbagai genre, referensi, dan budaya, komunitas musik pun tumbuh semakin luas, melahirkan kebutuhan visual yang turut bergerak bersama iramanya. Di sisi lain, musik juga kerap menjadi sumber energi bagi praktik desain, membentuk bahasa visual yang lahir dari komunitas yang mengitarinya. 

Melalui edisi kedua Out of Brief, kami mempertemukan Saleh Husein, musisi (The Adams dan White Shoes and The Couples Company) sekaligus Art Director Synchronize Festival, dengan Januar Kristianto, musisi (ZIP) dan Co-Founder Krapela, untuk melihat lebih jauh bagaimana desain dan musik saling berkelindan serta ikut membangun komunitas dalam scene musik tetap hidup.

zoom-1

Saleh Husein:

Kita main perumpamaan ya, Jan. Kalau gue adalah desain dan musik, kayak apa visual dan musik gue? Bebas ya, boleh genre, boleh musisi.

Januar Kristianto:

Kalau desain menurut gue, lo itu Laszlo Moholy-Nagy. Ada komposisi geometrisnya, tapi abstrak juga. Rapi tapi ada punk-nya. Kalau musik, lo prog-rock, sih. Eksplorasi ke mana-mana, kayak nggak melimitasi diri.

Saleh Husein:

Nggak percaya sama time code, ya? Hahaha. Kalo lo ya, gue ngelihat lo itu kayak logo Black Flag, sih. Kalau gue Tuhan, nih, lihat logo Black Flag dan mau ciptain manusia dari logo itu, ya keluarnya Jan. Kalau musik, mungkin lebih groovy kali ya. 

Januar Kristianto:

Groovy, ya, hahaha. 

Oke, gue mulai ya. Le, lo kan seniman visual dan juga musisi. Menurut lo, gimana sih peran desain dalam ekosistem musik dan apa bedanya dulu dan sekarang?

Saleh Husein:

Kalau melihat perkembangannya, terutama kalau hubungannya langsung dengan musik, gue merasa dulu itu lebih punya nyawa dibanding sekarang karena masih ada human feel. Dulu banyak desain yang dikerjakan secara manual, banyak desainer yang praktiknya juga berlanjut ke grafis murni seperti sablon. Hal itu terasa banget di musik, misalnya dari merchandise dan cover album.

Gue sendiri pertama kali merasa cover album itu penting waktu lihat Dookie-nya Green Day. Waktu itu gue bahkan belum tahu musiknya seperti apa, tapi ilustrasinya yang playful dan chaos langsung bikin gue tertarik. Dari situ gue mulai merasa bahwa cover bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal musik.

Salah satu contoh yang menurut gue menarik juga si Raymond Pettibon. Dia banyak ngerjain karya dengan cara yang sederhana, misalnya pakai kuas hitam dan putih, tapi tetap punya sense of composition yang kuat. Karyanya juga sangat dekat dengan musik dan kultur punk, seperti Black Flag, karena visual, lettering, dan cara dia menggambar terasa menyatu dengan karakter musiknya. Buat gue, itu penting tu–ketika seorang seniman visual mengerjakan sesuatu untuk musik, bahasanya harus terasa cocok dengan musik yang dibawanya. Jadi visual perannya bukan cuma membuat visual yang bagus, tetapi gimana visual itu benar-benar punya hubungan dengan karakter dan energi musiknya.

Kalau dari lo gimana? Lo kan ada background desain grafis nih. Gimana peran desain di ekosistem musik menurut lo?

Januar Kristianto:

Pengalaman paling momentum waktu gue kuliah desain sih ketika terlibat di Jakarta 32. Waktu itu gue mulai punya kesempatan untuk membangun jaringan dan menemukan kultur yang berbeda di luar lingkungan kampus.

Ketika akhirnya punya kesempatan membangun Krapela, gue melihat itu–komunitas yang beragam, dengan latar belakang yang berbeda-beda. Menurut gue, akses teknologi dan informasi yang semakin terbuka justru membuat generasi sekarang bisa saling memengaruhi dengan generasi sebelumnya. Di tengah kejenuhan terhadap eksposur digital yang berlebihan, bahkan muncul kembali ketertarikan pada hal-hal yang manual dan sifatnya handmade. Buat gue, itu menunjukkan bahwa ekosistem musik dan desain terus berkembang lewat pertukaran referensi, pengalaman, dan pengaruh antar komunitas.

Kalau melihat scene musik sekarang, gue juga merasa semangat untuk bergerombol dan melakukan sesuatu bersama itu masih kuat. Misalnya muncul gerakan atau scene baru di kota-kota seperti Bogor. Semangatnya dari dulu tetap sama: orang-orang berkumpul, membuat sesuatu bersama, lalu saling memberikan pengaruh. Menurut gue, justru dari situ wave baru dalam ekosistem musik dan desain juga bisa terus muncul dan berkembang.

Nah, bicara soal komunitas, nih, gimana menurut lo desain itu bisa ikut merangkul banyak orang untuk merasa jadi bagian dari scene musik itu?

zoom-2

Saleh Husein:

Kalau menurut gue, sampai ke musik pun sebenarnya logikanya tetap logika desain. Ada pakem atau komposisi yang ingin kita tawarkan, dan pertanyaannya kemudian adalah bagaimana komposisi visual dan musik itu bisa ditawarkan secara bersamaan? Kalau bicara soal community, menurut gue keduanya memang bisa menjadi pintu masuk untuk membangun rasa memiliki. Kita bisa melihat bagaimana identitas visual tertentu akhirnya membentuk karakter sebuah komunitas atau scene.

Misalnya Aksara Bookstore dengan gaya desainnya yang banyak mengambil referensi Barat, tetapi tetap memasukkan unsur lokal. Atau Mas Hermawan Tanzil melalui LeBoYe, yang mengambil elemen lokal seperti batik tetapi kemudian mengolahnya dengan warna-warna yang lebih kontemporer. Ketika batik diberi warna yang sebelumnya mungkin tidak lazim, muncul interpretasi baru tentang seperti apa batik bagi generasi hari ini. 

Hal serupa juga bisa dilihat dari kolektif seperti Ruangrupa, yang nggak selalu mengikuti kaidah desain konvensional, tetapi menggunakan potongan-potongan gambar, kolase, dan berbagai latar belakang untuk membangun satu bahasa bersama. Menurut gue, dari situlah komunitas terbentuk: ketika orang-orang dengan latar belakang dan referensi yang berbeda ngumpul, saling memengaruhi, lalu menciptakan sesuatu yang akhirnya bisa mereka anggap sebagai milik bersama.

Januar Kristianto:

Gue setuju. Penting juga buat seorang desainer nih, mungkin dia bisa jadi lone wolf, tapi alangkah baiknya lo berkomunitas, bersekongkol.

Saleh Husein:

Bener. Bersekongkol dan bersiasat, ya. 

Jan, Krapela sendiri kan dekat sama komunitas musik lintas genre. Menurut lo sendiri, gimana desain bisa membangun rasa memiliki dalam sebuah komunitas musik, bukan cuma jadi alat promosi aja?

Januar Kristianto:

Kalau berkaca dari Krapela tuh ada, yang paling stand out sebenarnya ada IP yaitu Girlhood…is A Spectrum. Itu sebenarnya menangkap, apa ya, lebih kayak semangat tren musik zaman sekarang gitu. Artisnya kayak Mitski, Soccer Mommy, Lana Del Rey. Nah, di dalam situ emang ada fenomena internetnya. Jadi, secara bahasa visual tuh kayak, orang langsung kayak, oh, gitu, langsung kayak dapet lah. Ada template tersendiri, terus dari tim desain Krapela, mereka nanti mencari kombinasi visual yang berbeda setiap serinya gitu. Dari lihat visualnya, orang udah expect orang dengerin musik kayak apa. Ada karakter pop culture yang diangkat, kayak, tahu film Carrie, kan? Nah, karakter yang chaotic gitu. Kalau yang sekarang mungkin Niki (Obsession). Karakter-karakter ini mewakili IP ini. Bahasa visual itu nanti akan dibaca sama crowd-nya, dan mereka akan merasa memiliki juga kayak ini acara gue banget.

Nah, menurut lo, dari seluruh pergerakan atau movement musik di berbagai tempat di dunia, mana yang visualnya punya pengaruh besar ke musisi atau komunitas musik itu sendiri?

Saleh Husein:

Menurut gue, pengaruh visual itu sangat tergantung pada ketertarikan masing-masing orang terhadap musik atau subkultur tertentu. Kalau melihat ke belakang, banyak cover album yang akhirnya menjadi ikonis bukan hanya karena merekam era musiknya, tetapi juga karena berhasil “membekukan” bahasa visual dari masa tersebut. Misalnya ...And Justice for All atau The Black Album dari Metallica, yang secara visual sederhana tetapi justru jadi kuat dan mudah dikenali. Sekarang, pengaruh itu mungkin juga datang dari festival. Ketika sebuah festival membangun identitas visual tertentu, band dan komunitas yang terlibat di dalamnya secara tidak langsung ikut merepresentasikan bahasa visual tersebut dan membawanya ke ruang yang lebih luas.

Di Indonesia pun kita bisa melihat bagaimana visual tumbuh dari konteks scene-nya masing-masing. Misalnya The Upstairs, atau C'mon Lennon yang menggunakan pendekatan lebih playful dan drawing-like. Visual seperti itu mungkin secara nggak langsung merepresentasikan Jakarta pada masanya sebagai sebuah kota yang menjadi “taman bermain” bagi anak muda. Sama acara-acara punk atau komunitas kecil yang visualnya mungkin sejak awal nggak punya ambisi untuk menjadi ikonis. Mereka hanya membuat sesuatu berdasarkan karakter mereka sendiri, lalu justru audience yang kemudian memberi label ikonis. 

Menurut gue, hampir semua visual bisa dibaca kembali melalui konteks zaman, genre, dan subkultur yang melahirkannya. Dari situ kita bisa melihat bagaimana musik dan visual sebenarnya terus saling merekam dan memengaruhi satu sama lain.

Kalau menurut lo sendiri, gimana perkembangan subkultur, komunitas, atau scene yang semakin beragam hari ini memengaruhi praktik kreatif lo?

zoom-3

Januar Kristianto:

Kalau dalam praktik kreatif, mungkin paling terasa di Krapela karena gue terus-menerus ketemu banyak orang dengan latar belakang dan gagasan yang berbeda. Dari situ, praktik desain buat gue nggak selalu harus berbentuk karya visual, tapi juga bisa berupa dialog. Banyak orang datang untuk ngobrol, minta pendapat, atau mencari perspektif ketika mereka merasa bingung. Misalnya ada band yang tanya, “Kalau musik kita seperti ini, kira-kira referensi visualnya bisa dibawa ke mana?” Buat gue, itu juga bagian dari praktik desain–membantu mereka melihat karakter mereka sendiri dan menemukan pendekatan yang paling cocok.

Mungkin karena itu juga, tanpa sadar gue cukup sering terlibat dalam proses kreatif teman-teman di sekitar gue. Kadang tiba-tiba ada DM masuk, “Jan, cover album band hardcore gue gimana menurut lo?” dan akhirnya gue ikut ngobrolin visualnya. Gue biasanya nggak langsung memberikan jawaban atau menentukan harus seperti apa, tapi lebih banyak mengembalikan pertanyaannya ke mereka: “Karakter lo sebenarnya ke mana?” Karena pada akhirnya, referensi dan pendekatan visual yang paling kuat justru datang dari karakter musik dan komunitas itu sendiri.

Saleh Husein:

Tapi, praktik Krapela juga dekat dengan tren visual saat ini, dan tren kan sekarang cepat banget berganti. Gimana lo melihat pergantian tren visual itu di komunitas musik dan gimana pengaruhnya ke praktik kreatif Krapela?

Januar Kristianto:

Nggak semua tren kita adapt, sih. Ada proses kurasi juga, karena kalau benar-benar mengikuti semuanya, kita nggak akan bisa keep up. Sekarang akselerasi musik saja cepat banget. Genre semakin cair dan orang bisa mengambil elemen dari hip-hop, hyperpop, techno, dub, atau pop–kayak sekarang ada hyperpop. Kalau dulu masih ada pengkultusan terhadap band atau genre tertentu, sekarang mungkin lebih genre-agnostic. Orang bisa ngambil banyak referensi, mengekstraknya, terus memuntahkannya lagi jadi sesuatu yang baru. Menurut gue, itu juga yang membuat kita harus lebih bijak dalam memilih mana yang bisa diadaptasi ke dalam praktik desain. Apalagi perkembangan teknologi bikin perputaran tren visual semakin cepat. Dulu perubahan mungkin terasa lebih bertahap, sementara sekarang setiap detik ada konten atau teknologi baru yang muncul. Karena itu, di Krapela kita nggak bisa sekadar ngejar tren, tetapi perlu melihat momen dan konteksnya.

Kalau sebagai Art Director di Synchronize Fest, gimana proses lo merancang pengalaman visual untuk sebuah festival musik?

Saleh Husein:

Di Synchronize, gue selalu berangkat dari beberapa pilar yang ingin dicapai, kayak sejarah, lingkungan atau sustainability, dan gagasan tentang kotanya itu sendiri. Waktu pertama masuk, gue ingin Synchronize Festival jadi ruang yang inklusif, tempat orang dengan latar belakang apa pun bisa datang dan nikmatin musik bersama karena kota Jakarta sendiri gue lihat sebagai kota yang hybrid, di mana identitasnya sudah cair.

Dari pilar lingkungan, misalnya, sustainability buat gue bukan hanya soal produk yang digunakan, tetapi juga bagaimana sebuah festival bisa terus beregenerasi. Itu sebabnya Synchronize punya ruang untuk emerging artist. Dari situ baru gue bekerja dengan seniman, desainer, ilustrator, atau visual artist yang menurut gue bisa menerjemahkan gagasan setiap tahunnya. Tahun ini, misalnya, gue memilih Marishka Soekarna karena karya-karyanya yang colorful tapi membawa rasa loneliness. Gue merasa karakter itu bisa merepresentasikan kondisi kita hari ini: tetap vibran dan merayakan, tetapi di baliknya ada kegelisahan. Jadi bukan sekadar soal warna atau komposisi, tetapi bagaimana visual bisa membawa gagasan yang lebih subtle.

Buat gue, ya Jan, desain itu sebenarnya ada di mana-mana. Kota, arsitektur, tanaman, jalan, sampai benda yang kita pakai sehari-hari semuanya sudah dirancang untuk mengarahkan cara kita bergerak dan mengalami sesuatu. Karena itu, desainer juga bisa menjadi “pembohong yang lihai”. Dalam konteks festival, desain adalah garda depan; orang pertama kali mengenal festival lewat poster, media sosial, undangan, atau materi promosinya. Kalau visualnya menjanjikan sesuatu yang vibrant dan menarik, tapi ketika datang ke festival pengalaman itu ternyata nggak ada, berarti desainnya nipu. 

Januar Kristianto:

Setuju. Pada akhirnya, desain jadi guidance. Tapi kadang ketika desain sudah terlihat oke secara digital, penerapannya di lapangan bisa berbeda dan perlu di-tweak lagi sesuai kondisi. Misalnya, venue-nya berada di gunung, berarti kita harus memikirkan tantangan seperti apa. Menurut gue, itu yang membuat desain fascinating, karena dia bisa adaptif dan terus morphing mengikuti environment.

Saleh Husein:

Dan ngejagain semua elemen desainnya itu juga jadi tantangan lagi. Mungkin itu juga yang membuat gue tertarik masuk ke dunia festival musik. Gue sering melihat desain yang di layar terlihat keren, tetapi begitu sampai di lapangan, hasilnya jauh beda; warnanya turun, eksekusinya nggak dijaga, tapi tetap dibiarin. Padahal visual adalah salah satu elemen paling in your face dalam sebuah festival, selain audio dan suasananya. 

Nah, Jan, berarti menurut lo, kalau sekarang ada desainer muda yang mau berkontribusi untuk komunitas musik, aspek apa yang penting untuk diketahui dan dimiliki oleh desainer-desainer tersebut?

zoom-4

Januar Kristianto:

Menurut gue, salah satunya adalah memahami muatan historis. Sebuah subkultur atau scene biasanya nggak muncul begitu saja; selalu ada momentum, gagasan, atau pemantik yang melatarbelakanginya. Kalau kita melihat berbagai movement musik dari era ’60-an, ’80-an, sampai ’90-an, gagasan yang muncul dari kondisi sosial dan budaya pada masanya kemudian tercermin dalam musik dan visualnya. Karena itu, menurut gue penting untuk memperbanyak referensi dan mengonsumsi apa saja; film, musik, desain, fashion. Jangan cuma membaca satu pola, karena makin banyak referensi yang kita konsumsi, makin terasah juga kemampuan kita untuk melihat perspektif baru.

Saleh Husein:

Gue mungkin menambahkan satu hal: jangan trying too hard untuk menjadi relevan. Sekarang semua orang sibuk mikirin apakah karya yang mereka keluarkan cukup relevan dengan zaman. Menurut gue, ketika lo tahu apa yang lo lakukan, jujur dengan proses dan cara lo membaca konteks, lo nggak perlu terlalu memaksakan relevansi. Karena pada akhirnya, relevansi bukan sesuatu yang harus kita klaim sendiri. Justru orang yang menikmati karya tersebut yang akan membacanya dan menentukan apakah karya itu relevan bagi mereka. Kalau berangkat dari self-expression yang jujur, menurut gue, tanpa harus bilang “ini relevan”, karya itu sendiri akan menemukan relevansinya.

About the Author

GMK Team

Collaborative articles written by multiple writers of the Grafis Masa Kini editorial team.