Menatap Seri Screen Time Karya Matthew Johnson


Di tengah kamar yang remang-remang, sebuah layar televisi menyala, memancarkan fluktuasi cahaya dari tayangan siaran langsung. Jutaan piksel bergerak bergantian menampilkan kilasan peristiwa, mulai dari gerakan anggun atlet dalam kompetisi olahraga global sampai kepulan asap dari konflik geopolitik di belahan dunia lain. Kebanyakan orang mengonsumsi kilasan ini sebagai aliran informasi yang lewat begitu saja; satu berita menggantikan berita lain sebelum sempat benar-benar diserap. Fotografer Matthew Johnson memilih untuk berhenti tepat pada detik yang biasanya terlewat tanpa disadari siapa pun.

Lewat seri fotografinya yang diberi judul Screen Time, Johnson mengarahkan kamera analog dan digitalnya langsung ke permukaan layar monitor dan televisi, memakai teknik long exposure untuk membekukan momen siaran langsung tersebut menjadi karya seni visual yang atmosferik.

Secara teknis, Screen Time beroperasi di atas sebuah paradoks visual: televisi dan layar monitor memancarkan gambar bergerak dengan frekuensi pemicu yang cepat, dirancang untuk mensimulasikan gerak nyata seolah mata kita sedang menyaksikan kejadian itu langsung tanpa perantara apa pun. Ketika Johnson menerapkan teknik long exposure terhadap siaran yang sedang berjalan, durasi rana (shutter) kameranya menangkap jejak waktu dari pergerakan objek di layar, memaksa sesuatu yang dirancang untuk bergerak cepat justru terekam dalam kondisi melambat dan meluruh.

Hasilnya jauh dari sekadar tangkapan layar digital yang kaku. Sapuan cahaya dari pergerakan gambar menciptakan efek kabur yang lembut, menyerupai lukisan cat air atau estetika ekspresionisme abstrak. Garis-garis pendaran layar, kisi-kisi piksel, dan pembiasan cahaya monitor menyatu dengan objek siaran, menciptakan artefak visual yang unik. Johnson juga secara eksplisit menegaskan bahwa seluruh karyanya adalah hasil eksperimen fotografi murni, tanpa rekayasa generasi akal imitasi (AI).

"Eksperimen ini adalah cara saya menikmati praktik seni. Saya tidak berusaha menipu siapa pun, melainkan menangkap bagaimana kita mengalami sebuah peristiwa lewat perantara layar," kata Matthew Johnson.

Proyek ini tidak lepas dari perdebatan hangat di kalangan komunitas seni visual dan fotografer. Sebagian kritikus dan netizen mempertanyakan keabsahan karya ini dengan argumen sederhana: apakah ini cuma memotret TV orang lain? Tapi jika diteliti lewat kacamata sejarah seni visual, pendekatan Johnson sebetulnya sejajar dengan disiplin virtual photography yang dilakukan Harry Guyaert sekaligus melanjutkan tradisi panjang Appropriation Art yang pernah dipelopori seniman seperti Richard Prince atau Andy Warhol.


Keunggulan Screen Time tidak terletak pada objek yang dipotret. Yang jadi kekuatan utama karya ini adalah bagaimana proses pengamatan itu sendiri diubah. Dari tempat tinggalnya, Johnson menunjukkan efisiensi daya cipta di mana ruang domestik bisa berubah jadi studio observasi visual global.

Ada beberapa alasan yang membuat pendekatan ini terasa kuat, yang pertama soal kompresi emosi dan tragedi. Ketika memotret siaran berita konflik, seperti ketegangan perang, rudal di langit malam, atau pengungsian, rana panjang Johnson meleburkan detail teknis militer menjadi pendaran cahaya yang mencekam. Efek kabur itu justru melipatgandakan bobot emosionalnya. Tragedi terasa jauh sekaligus sangat dekat, persis seperti perasaan masyarakat modern yang menyaksikan bencana dunia hanya dari balik kaca smartphone atau televisi mereka sendiri.

Alasan kedua berkaitan dengan kritik terhadap konsumsi media massa. Dalam kehidupan sehari-hari, kita terpapar doomscrolling dan banjir visual yang membuat sensitivitas kita menumpul; satu gambar tragis disusul gambar tragis lain sampai semuanya terasa datar dan seragam. Dengan membekukan siaran langsung menjadi sebuah bingkai statis yang puitis, Screen Time memaksa penonton untuk berhenti sejenak, menatap detail visual yang biasanya hilang dalam hitungan detik, dan merenungkan hubungan kita dengan layar yang selama ini kita anggap sebagai jendela netral menuju dunia.

Alasan ketiga adalah menyoal otentisitas humanis di era AI. Di masa ketika platform digital dipenuhi gambar sintetis hasil kecerdasan buatan yang serba mulus dan bebas cacat, eksperimen analog dan manual Johnson terhadap layar televisi memberikan kesegaran visual tersendiri. Karya ini membuktikan bahwa eksperimen atas keterbatasan medium teknis—sesuatu yang sederhana seperti kamera dan layar televisi di ruang tamu—masih mampu menghasilkan otentisitas yang menyentuh, tanpa perlu bergantung pada algoritma generatif apa pun.

Prosesnya sendiri bisa digambarkan sebagai rangkaian sederhana. Dari siaran televisi atau layar digital, Johnson menerapkan intervensi kamera melalui teknik long exposure, sampai gambar bergerak itu berubah menjadi abstraksi piktorial yang buram. Karya fotografi Matthew Johnson utamanya menjadi semacam dokumentasi atas realitas yang sudah dimediasi layar, bukan realitas itu sendiri.

web-14
web-18
web-19
web-15
web-20
web-17
web-21
web-22
web-16
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.