Perjalanan Lutfi Aufar Temukan Identitas Karya Ilustrasinya

Garis yang tegas, warna yang berani, hingga tekstur kuas semprot merupakan ciri dari karya ilustrasi Lutfi Aufar, seorang seniman muda yang kini bekerja sebagai salah satu desainer di ILOVEDUST, sebuah agensi desain ternama di Brighton dan Hove, Inggris. Karya Lutfi Aufar kini sangat mudah untuk dikenali, menjadikannya salah satu seniman yang memiliki kekhasan sendiri. Perjalanan Lutfi di industri kreatif lokal hingga internasional tentu ada pasang surutnya. Bahkan, awalnya tidak mudah bagi Lutfi untuk menemukan identitas karya yang kini menjadi keunikan tersendiri darinya. Lutfi Aufar mengatakan bahwa ia harus melalui proses yang cukup panjang untuk menemukan ciri karya ilustrasinya.

Saat pertama terjun ke dunia kreatif, Lutfi Aufar sempat mencoba berbagai gaya ilustrasi yang lebih sederhana dari karyanya sekarang. Beragam referensi ia pelajari demi menemukan gaya artistik yang paling cocok, mulai dari ilustrasi-ilustrasi yang ditemukan di Pinterest hingga karya seniman ternama yang ia temukan di internet. Akhirnya, Lutfi Aufar menemukan satu gaya ilustrasi kuas semprot atau airbrush yang populer di dekade 80-an. Berdasarkan arsip Tate UK, teknik airbrush sendiri ditemukan pada akhir abad ke-19, namun baru pada pertengahan abad ke-20 airbrush menjadi alat yang sering digunakan seniman untuk melukis.

Pelopor airbrushing adalah ilustrator grafis George Petty dan Alberto Vargas (atau Varga) pada tahun 1930-an dan 1940-an. Pada dekade selanjutnya, seniman pop art James Rosenquist menggunakannya untuk membangkitkan industri periklanan. Pada awal tahun 1980-an, program komputer airbrushing menjadi populer. Dalam format digital, teknik airbrushing tersebut dapat menciptakan efek serupa dengan format tradisional. Elemen dari gaya artistik airbrushing tersebut memantik rasa penasaran Lutfi untuk mencobanya.

“Saya jadi tertarik dengan style airbrush 80-an karena terkesan lebih lepas, dinamis dan ekspresif,” ungkap Lutfi.

Lutfi menceritakan bahwa ia pertama kali mencoba gaya ilustrasi airbrush 80-an pada 2018 silam dengan menggunakan basis vektor. Setelah mempelajari gaya tersebut lebih dalam dan menemukan ketertarikan yang kuat, Lutfi Aufar pun semakin menggeluti airbrushing dan menjadikan gaya tersebut sebagai ciri khas dari ilustrasinya. Menurut Lutfi, dengan gaya ilustrasi tersebut, ia merasa lebih mampu menyampaikan pesan yang ingin ia suarakan lewat karya-karyanya. Dalam pembuatan karya dengan gaya ilustrasi airbrush 80-an, Lutfi membutuhkan kesabaran karena detail-detail yang harus diperhatikan. Namun, Lutfi menikmati setiap proses yang membuat karya-karyanya lebih bermakna.

Selain keunikan teknis, Lutfi Aufar juga dikenal dengan ilustrasi bertema sepak bola. Banyak dari karya Lutfi yang mengilustrasikan pemain sepak bola ternama seperti Erling Haaland dan Kylian Mbappé, klub bola seperti Chelsea F.C., serta seri Premier League yang menghadirkan ilustrasi simbol klub yang terlibat di dalamnya, mulai dari Arsenal, Spurs, hingga Manchester City. Lutfi Aufar sendiri telah menyukai sepak bola dan mengikuti berbagai pertandingannya sedari kecil. Maka, Lutfi melihat sepak bola menjadi salah satu tema menarik untuk diangkat dalam karya visualnya. Sorak sorai pendukung sepak bola di stadion saat pertandingan menjadi memori yang melekat bagi Lutfi Aufar. Euforia para pecinta bola tersebut menjadi perasaan yang ingin sang ilustrator sampaikan di karya-karyanya yang membahas soal sepak bola.

“Saya merasa terinspirasi oleh koreo atau banner suporter yang saya tonton di banyak pertandingan sepak bola. Feeling tersebutlah yang sebenarnya ingin coba saya bawa ke beberapa karya saya yang bertema sepak bola.” ungkap Lutfi Aufar.

Zoom

Membuat karya yang bertemakan sepak bola ternyata menjadi salah satu cara Lutfi Aufar “memancing” dorongan untuk terus produktif dalam berkarya. Sebagai seniman, tuntutan untuk terus melahirkan karya tentu tidak dapat dihindari. Ditambah, industri kreatif yang terus berkembang dan berinovasi ini mendorong setiap seniman untuk terus berpikir kreatif dan mengeksplorasi kemampuan diri sendiri. Lutfi Aufar merasa dengan menciptakan suatu karya dari hal yang disukainya mampu menumbuhkan rasa nikmat dalam proses pembuatan karyanya, baik yang ia rasa mudah maupun yang penuh tantangan.

“Saya rasa menikmati proses berkarya adalah hal yang penting,” tegas Lutfi Aufar.

Dalam pembuatan karya sehari-hari, tentu Lutfi pernah merasa kehabisan ide atau mengalami creative block yang membuatnya memutuskan untuk rehat sejenak dari depan layar. Lutfi memilih untuk mengistirahatkan pikirannya dengan berolahraga, beribadah, dan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Walau begitu, bagi Lutfi, kehabisan ide merupakan bagian dari proses berkarya yang harus dinikmati oleh seniman.

Perjalanan panjang Lutfi Aufar di industri kreatif berawal saat ia magang di FULLFILL Studio sebagai salah satu program kuliahnya. Lutfi menceritakan bahwa saat itu ia tidak memiliki gambaran sama sekali seperti apa bekerja di sebuah studio desain. Setelah berhasil mendapatkan gelar sarjana dan berbekal pengalaman kerja saat magang, Lutfi Aufar akhirnya bekerja di VISIOUS Studio. Di tempat yang sama, Lutfi Aufar pertama kali diperkenalkan dengan ILOVEDUST, tempat bekerjanya sekarang.

“Saya ingat waktu hari pertama bekerja, direktur saya waktu itu menunjukkan Instagram ILOVEDUST ke saya. Keren banget, apa lagi mereka banyak mengerjakan klien-klien sepak bola. Saya jadi termotivasi oleh karya-karya mereka dan sedikit demi sedikit lebih memahami dunia desain dan ilustrasi,” cerita Lutfi.

Lutfi pun semakin giat untuk belajar dan mengulik ilmu baru terkait desain dan ilustrasi. Ia mengaku mendapatkan banak referensi dan ide dari teman-teman di VISIOUS hingga akhirnya perlahan-lahan undangan proyek freelance dan pameran mulai datang. Saat itulah, Lutfi juga mulai belajar membangun identitasnya sebagai seniman lewat kesempatan-kesempatan tersebut.

Pengalaman dan pengetahuan yang Lutfi telah dapatkan selama berkarya di berbagai studio desain di Indonesia akhirnya membawanya ke Britania Raya saat ia mendapatkan tawaran sebagai desainer lepas di SHOTOPOP, sebuah studio desain dan ilustrasi. Selama dua minggu, Lutfi merasakan bekerja jarak jauh dengan studio luar negeri. Sering menunggah karyanya di Instagram, termasuk hasil pekerjaannya di SHOTOPOP, Lutfi pun secara iseng mengikuti desainer-desainer di ILOVEDUST. Tak disangka, respons yang didapatkan Lutfi sangat positif hingga ia berkesempatan untuk berinteraksi dengan desainer di studio tersebut.

“Kami jadi sering berinteraksi tentang beberapa hal, dari desain hingga sepak bola. Saya juga mulai berdoa dalam ibadah saya, mudah-mudahan Allah membukakan jalan agar bisa bekerja di ILOVEDUST,” cerita Lutfi.

Kerja keras dan doa yang tak pernah henti Lutfi panjatkan pun berbuah manis saat Creative Director ILOVEDUST, Mark Graham, mengikuti akun Instagram Lutfi Aufar and mengajaknya untuk bergabung ke studio tersebut. Lutfi pun harus melewati serangkaian negosiasi karena Mark Graham menginginkan Lutfi untuk bekerja di Inggris, sedangkan Lutfi merasa keberatan untuk berangkat karena banyak hal yang harus dipertimbangkan. Akhirnya, keputusan kedua belah pihak menemukan titik tengah. Lutfi Aufar pun mendapatkan kesempatan untuk bekerja secara remote di ILOVEDUST. Bekerja jarak jauh dengan agensi internasional merupakan tantangan yang disyukuri oleh Lutfi. Walaupun harus menjalani hari dengan jam kerja yang sedikit terbalik karena harus mengikuti jam kerja di Inggris, Lutfi merasa senang karena bisa bekerja dan belajar dengan lingkungan yang saling mendukung satu sama lain serta apresiatif.

“Menurut saya play wild dan efektivitas adalah kuncinya. Di ILOVEDUST, kami dituntut untuk bermain seliar mungkin, eksplor segala potensi untuk menghasilkan karya yang tak hanya spot on untuk klien tapi juga mampu meng-inject identitas ILOVEDUST ke dalamnya,” cerita Lutfi.

Dalam proses kerjanya bersama ILOVEDUST, Lutfi mengatakan bahwa dirinya sebisa mungkin menjaga efektivitas dengan membuat rough compose terlebih dahulu. Hal ini menjadi bukti progres awal yang diberikan ke klien. Menurut Lutfi, proses ini sangatlah membantu dirinya dalam menghemat waktu dan membuatnya serta rekan-rekan kerjanya mampu mengeksplorasi kemungkinan lain yang dapat memperkuat karya yang sedang diproduksi. Selama di ILOVEDUST sendiri, Lutfi pernah mengerjakan desain untuk klien-klien impiannya seperti Nike, EA Sport, MTV, NBA, dan Premier League.

“Sempat merasa minder di awal, namun saya merasa bersyukur karena akhirnya bisa beradaptasi dan membunyai rekan kerja yang suportif dan apresiatif walaupun sejauh ini kami hanya berinteraksi secara daring. Saya juga bersyukur bisa mendapatkan kesempatan mengerjakan beberapa klien yang sedari dulu saya impikan,” ungkap Lutfi Aufar.

Aktif bekerja di agensi desain luar negeri tidak membuat Lutfi melupakan perkembangan industri kreatif di Indonesia. Lutfi mengutarakan rasa bahagianya melihat ekosistem seni yang semakin sehat dengan seniman-seniman yang saling mendukung. Karya seniman-seniman lokal lainnya pun menjadi inspirasi dan dorongan bagi Lutfi untuk tersebut berkarya.

“Saya senang melihat para desainer dan seniman yang akrab dan saling support di Indonesia. Mereka banyak membuat acara yang men-showcase karya dari mereka sendiri atau sesama seniman. Karya-karya mereka jugalah yang menjadi inspirasi saya hingga sekarang ini,” ungkap Lutfi Aufar.

Lutfi sendiri mencoba untuk mengubah pandangan “persaingan ketat” di industri kreatif lokal maupun internasional. Bagi Lutfi, label tersebut terdengar melelahkan bagi pekerja kreatif dan menurutnya, setiap desainer atau seniman memiliki ciri khas sendiri yang tidak bisa dibandingkan. Bagi Lutfi Aufar, “belajar” adalah kata kerja yang tepat untuk menggambarkan proses yang ditempuhnya di industri kreatif. Keinginan untuk mempelajari sesuatu menjadi pendorong utama bagi Lutfi dalam berkarya.

“Saya berusaha untuk terus belajar dari mereka yang sudah berpengalaman di industri kreatif, baik di dalam maupun luar negeri. Mudah-mudahan, nantinya saya bisa membagikan ilmu yang didapat untuk mereka yang ingin belajar dan mendalami seni desain dan kreatif, terutama di Indonesia,” tutup Lutfi Aufar.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.