Mungkin Kita Memang Perlu Menilai Buku dari Sampulnya: Penguin Books dan Desain Sastra Klasik Modern

Mungkin, kita memang sebenarnya harus menilai buku dari sampulnya – setidaknya itu yang dipercaya oleh penerbit buku Penguin Books yang namanya tidak asing lagi, bahkan di telinga orang-orang yang tidak hobi membaca buku. 

Ketika kita mengunjungi toko buku hari ini, terutama yang menawarkan beberapa rak khusus penerbit internasional, ada sederet judul terbitan Penguin dari seri Modern Classics seperti Frankenstein (Mary Shelley) atau Jane Eyre (Charlotte Brontë) dengan desain sampul yang seragam: judul, nama penulis, dan lukisan. Tak bisa dipungkiri, desain sampul buku-buku tersebut seakan memanggil pembeli untuk mengambil, mempelajari, lalu membelinya – begitu sederhana, elegan, dan minimalis. Keputusan desain sampul itu tidak datang begitu saja. Ada catatan sejarah dan gagasan kreatif yang membuat desain-desain buku Penguin Modern Classics tersebut tak lekang oleh waktu. 

zoom-1

Periode Germano Facetti 

Seri Modern Classics pertama diluncurkan pada tahun 1961 sebagai respons Penguin Books atas kesuksesan besar seri Classics. Pada seri yang lebih “muda” ini, karya-karya sastra abad ke-20 dikemas ulang dengan sampul elegan rancangan Hans Schmoller yang menjabat sebagai kepala produksi pada saat itu. Perubahan besar datang setelah Direktur Artistik Germano Facetti bergabung pada 1960. Sebagai seorang kreatif yang modernis – berbanding terbalik dengan Hans yang tradisional – Germano Facetti mulai memperbarui desain sampul dengan memanfaatkan Marber Grid dari Romek Marber, desainer grafis asal Polandia. Marber Grid sendiri memungkinkan struktur yang fleksibel bagi elemen-elemen sampul.

Pada 1963, Germano telah menerapkan sistem grid tersebut, namun belum berhasil mendapatkan persetujuan dari pihak penerbit untuk konsep sampul yang lebih modern. Salah satu keinginan besar Germano adalah mengganti rupa huruf Joanna yang selama ini digunakan karena menurutnya, “tidak cocok untuk kebutuhan tampilan yang lebih tegas.” Butuh tiga tahun bagi Germano Facetti untuk berhasil membawa desain Modern Classics ke dalam bahasa visual yang benar-benar modern. Redesain drastisnya tentu sempat menghadapi resistensi internal, terutama pada keputusan penggunaan dominan warna hitam – walaupun ia memadukannya dengan putih dan hijau pucat khas Modern Classics yang dikenal sebagai eau de nil. Keberatan lainnya ada pada keputusan Germano untuk mengubah tipe huruf  ke Helvetica Bold dan ilustrasi yang berbiaya mahal. 

zoom-2

Berbeda dengan desain Modern Classics sebelumnya, Germano Facetti ingin ada unsur warna yang signifikan. Akhirnya, ia memilih lukisan klasik alih-alih ilustrasi. Karya-karya yang dikurasi untuk sampul buku diambil dari arsip museum. Pendekatan ini lebih ekonomis dibandingkan dengan ilustrasi pesanan, meskipun proses cetak penuh warna tetap mengambil biaya yang cukup besar pada tahun 1960-an.

Di waktu yang sama, Germano juga mengarahkan desain untuk seri Classics dan English Library dengan pendekatan serupa. Lukisan yang dipilih oleh Germano tidak hanya untuk kebutuhan estetika, tetapi juga menyiratkan dan menggambarkan cerita di dalamnya. Pada akhirnya, lukisan tersebut berfungsi sebagai visual yang berjalan paralel dengan teks.  

Kehadiran Modern Classics ini bertepatan dengan masa transformasi di Penguin Books. Melalui redesain yang dilakukan di bawah arahan Germano Facetti pada lini Fiction, Crime, Classics, hingga Pelican, identitas visual penerbit menjadi jauh lebih berani. Segala keraguan dari penerbit pun pergi setelah desain baru ini coba dipasarkan. Ada lonjakan positif pada penjualan buku-buku Modern Classics. Keseimbangan tata letak grafis dan kualitas desain ternyata menjadi pertimbangan pembeli. Sejak saat itu, Penguin Books menjadikan desain sampul sebagai faktor penting dalam penjualan buku.

zoom-3

Periode Cherriwyn Magil

Pada Juli 1981, di bawah arahan direktur artistik baru, Cherriwyn Magill, Penguin Modern Classics memperkenalkan wajah barunya; format buku lebih besar dengan warna oranye-putih dan lukisan masih ditampilkan, tapi kini di dalam bingkai inset; judul ditempatkan di tengah, sementara logo penerbit berada di bawah nama seri. Kritikus desain Phil Baines menyebut periode ini sebagai titik terendah bagi desain Penguin Books. 

Perubahan berikutnya hadir pada Mei 1989 saat seri ini berganti nama menjadi Twentieth-Century Classics. Sampul belakang dan punggung buku berwarna biru-hijau terang. Sampul depan didominasi oleh foto hitam-putih. Terdapat kotak judul berwarna putih dan rupa huruf Sabon pun menggantikan Helvetica. Rupa huruf tersebut dirancang oleh Jan Tschichold, tipografer legendaris Penguin. Seperti biasa, karya visual tetap menjadi elemen utama desain Modern Classics. Pada Januari 1990, gambar berwarna mulai diperkenalkan ke dalam seri ini dan desain ini kemudian bertahan hampir tanpa perubahan selama satu dekade.

zoom-4

Periode 2000an: Pascal Hutton dan Jim Stoddart

Memasuki milenium baru, nama Penguin Modern Classics pun kembali. Di bawah arahan artistik Pascal Hutton, seri ini memperoleh identitas visual baru hasil rancangan desainer Jamie Keenan. Warna perak menjadi dominan dalam desain sampul buku. Jamie Keenan pun menggunakan berbagai jenis huruf untuk sampul: Franklin Gothic, Trade Gothic, dan Clarendon. Kemudian, pada Januari 2004, desain ini disempurnakan dengan tambahan pita putih di antara panel perak dan gambar sampul berisi logo Penguin dan tulisan “MODERN CLASSICS”. Perubahan ini mencerminkan arah baru desain dari seri ini.

Saat ini, Jim Stoddart menjabat sebagai direktur artistik – memberikan transformasi besar yang dimulai pada September 2007. Finishing matte menjadi perubahan yang signifikan pada sampul buku seri Modern Classics dan penggunaan rupa huruf Avant Garde untuk judul dan nama. Grid yang digunakan Stoddart tetap fleksibel, memungkinkan karya seni kembali digunakan sebagai gambar sampul. Panel putih disediakan di bagian atas sampul bak jeda napas.

zoom-5

Transformasi ini menjadi rujukan untuk berbagai perubahan desain Penguin Modern Classics ke depan hingga hari ini. Sejak awal, seri ini selalu menjadi rumah bagi penulis besar yang mampu menangkap semangat zaman dan menantang pemahaman pembaca soal karya klasik. Desain seri ini pun terus berevolusi mengikuti karakter buku dan zaman – menyesuaikan dengan apa yang dibutuhkan oleh pasar.

Dinamika perubahan desain Penguin Modern Classics ini menjadi bukti pentingnya peran desain sampul buku. Jadi, ketika nanti ada orang yang bilang “jangan nilai buku dari sampulnya”, bawa ia ke toko buku untuk menemui berbagai seri Penguin Books yang selalu didesain dengan apik.

zoom-6
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.