Memori, Migrasi, dan Makna Rumah yang Terus Diciptakan Ulang dalam “I will tell you when I am home”
Lewat I will tell you when I am home, yang mengambil judul dari memoar karya Hala Alyan, ara contemporary mempertemukan enam seniman dengan praktik yang mengeksplorasi kompleksitas tempat, perpindahan, identitas, dan rasa memiliki.
Pameran ini menavigasi area yang penuh ketidakpastian di antara hasrat untuk berakar pada suatu tempat dan kenyataan bahwa perpindahan merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup. Melalui lukisan, patung, instalasi, fotografi, hingga media campuran, para seniman merefleksikan pengalaman migrasi, memori, dan warisan budaya, sekaligus menelaah bagaimana pengalaman-pengalaman tersebut terus membentuk identitas, baik secara personal maupun kolektif. Karya-karya mereka memetakan gagasan tentang keteruraian dan proses menjadi, kehilangan dan penebusan, serta asal-usul yang hilang lalu dibangun kembali.
Alih-alih memandang rasa memiliki sebagai sesuatu yang tetap dan pasti, I will tell you when I am home menjadi proses negosiasi yang berulang. Melalui praktik masing-masing, para seniman menelusuri ruang di antara keberangkatan dan kedatangan, ingatan dan penciptaan ulang, untuk memperlihatkan bagaimana gagasan tentang rumah terus-menerus hilang, direkonstruksi, dan dibayangkan kembali. Bersama-sama, karya mereka menunjukkan bahwa rasa memiliki tidak semata ditentukan oleh kepulangan ke tempat asal, melainkan oleh kemampuan untuk mempertahankan kesinambungan di tengah pengalaman berpindah.
Pameran ini menghadirkan enam seniman yang praktiknya dibentuk oleh latar geografis, riset, dan pengalaman hidup yang berbeda-beda. Seniman Belanda Nazif Lopulissa mengeksplorasi isu tempat, identitas, dan warisan budaya melalui akar keturunan Maluku, sembari secara kritis mengangkat tema dekolonisasi dan multikulturalisme. Saat ini ia tengah menjalani program residensi di Rijksakademie, Amsterdam.
Seniman yang berbasis di New York, Shuyi Cao, menghadirkan praktik multidisipliner yang menelusuri persinggungan antara arkeologi, ekologi, sains, teknologi, dan kosmologi melalui riset berbasis material. Ia baru saja menyelesaikan program residensi di Ruang Arta Derau, Bali.
Sementara itu, seniman Vietnam Nguyễn Phương Linh, yang baru-baru ini berpartisipasi dalam Paviliun Uzbekistan pada Venice Biennale 2026, menampilkan karya yang berangkat dari pengamatannya terhadap keseragaman jenis pekerjaan yang tersedia bagi perempuan kelas pekerja asal Vietnam di berbagai pusat kota di dunia.
Turut berpartisipasi pula seniman Singapura Khairulddin Wahab, yang praktiknya berangkat dari kajian geografi budaya, sejarah lingkungan, dan narasi pascakolonial. Dalam pameran ini, ia menghadirkan karya-karya yang menelaah sejarah perkebunan serta struktur kekuasaan kolonial yang tertanam dalam lanskap lingkungan Asia Tenggara.
Seniman Vietnam Arlette Quỳnh-Anh Trần, penerima hibah dari Graham Foundation, mereproduksi halaman-halaman jurnal Bauhaus yang kemudian dipadukan dengan gambar tangan serta citra hasil akal imitasi (AI). Seluruh visual tersebut dihasilkan dari prompt yang disusun berdasarkan elemen-elemen yang ditemukan di lingkungan tempat tinggalnya.
Melengkapi pameran ini adalah seniman Indonesia Mar Kristoff, yang baru saja menyelesaikan program residensinya di Gasworks, London. Praktiknya banyak merefleksikan memori, arsip, serta bagaimana identitas terus dibentuk dan berubah secara cair.
I will tell you when I am home dibuka untuk umum hingga 9 Agustus 2026.