Monez: Memadukan Tradisi dan Pop Art

Monez Gusmang adalah seorang ilustrator dan desainer grafis asal Bali yang telah berkecimpung di dunia kreatif selama lebih dari 16 tahun. Karyanya yang penuh warna sering dikenali melalui karakter monster kecil yang menghiasi kanvasnya. Banyak orang mungkin sudah melihat karyanya untuk Google Doodle HUT RI ke-79 pada bulan Agustus lalu. Dari mural skala besar hingga kolaborasi dengan merek fashion, karya Monez telah menjangkau luas dan terus berkembang seiring dengan bertambahnya audiensnya yang besar.

Monez awalnya lulus dari Institut Seni Indonesia Denpasar (ISI Denpasar), Bali pada tahun 2000. Dengan mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual, Monez memulai kariernya sebagai desainer grafis. Ia juga menghabiskan beberapa tahun di studio kartun dan sebagai desainer pola di pabrik garmen. Namun, sebagai seseorang yang lahir dan dibesarkan di Bali, di mana terdapat kedekatan dengan seni tradisional seperti tari, lukisan, gamelan, dan lainnya, ia terdorong untuk mengubah pengalaman sehari-hari ini menjadi bentuk visual yang diajarkan selama kuliah. “Yang mana itu saya bikin padukan dengan pengalaman saya waktu kecil,” jelas Monez. Ia melanjutkan bahwa ia melihat potensi menarik dalam menggabungkan kecintaannya membaca komik di tahun 80-an dan 90-an serta dongeng yang diceritakan oleh orang tuanya ke dalam karyanya. “Pengalaman-pengalaman visual itu yang saya pikir kalau digabungkan, seru juga nih. Antara seni tradisi dan digital art,” ungkap Monez.


Melihat kembali saat ia lulus universitas, Monez tidak pernah membayangkan bahwa industri ilustrasi akan berkembang menjadi seperti sekarang ini. Dengan jurusan desain komunikasi visual, Monez mengharapkan untuk bekerja sebagai desainer grafis dan membuat brosur atau bekerja di salah satu dari banyak hotel di pulau itu, mengingat sektor perhotelan merupakan salah satu industri yang lebih menonjol di Pulau Dewata. “Tapi seiring perkembangan zaman akhirnya ilustrasi itu kebutuhannya makin besar, dan dari yang kerja sendiri sampai akhirnya ada tim pun juga adalah sesuatu yang mengikuti perkembangan industri juga,” jelas Monez. Eksplorasi kreatif Monez berkembang hingga kini memerlukan tim untuk mendukungnya. Timnya kini terdiri dari lebih dari selusin orang, termasuk enam kreatif in-house. Ia juga menjelaskan bahwa pekerjaan ilustrasi saat ini jauh lebih variatif—mulai dari merancang kaos hingga menggambar aset visual untuk game atau aplikasi. “Jadi perkembangan industri ilustrasi ini di dunia kreatif ini yang membuat saya masih bertahan sampai sekarang. Karena dengan setiap proyek, kita menghasilkan karya baru,” tambah Monez.

“Orang bilang kesenian itu adalah sebuah cerminan dari gambaran perjalanan kehidupan. Begitu juga dengan apa yang saya hasilkan sekarang juga, kalau connecting the dots ke belakang juga itu adalah hubungan antara koneksi-koneksi pengalaman-pengalaman hidup saya selama ini,” renung Monez. Ia melanjutkan untuk menjelaskan bahwa karyanya adalah refleksi langsung dari pengalaman pribadinya sebagai seorang kreatif yang lahir, dibesarkan, dan masih berbasis di Bali. Pengalamannya sebelumnya di studio kartun serta waktu sebagai desainer pola juga sangat memengaruhi karyanya. Sementara latar belakangnya memengaruhi pendekatannya terhadap cerita visual serta ornamen yang ia masukkan ke dalam karyanya, pengalamannya sebagai desainer pola juga berperan dalam aspek teknis seperti pemilihan palet warna. “Saya suka mengabungkan konsep tradisi itu dengan budaya pop art.”


Monez telah mengumpulkan klien yang mengesankan—dari Apple, Procreate, Affinity by Serif, Bali Zoo, dan banyak lagi. Baru-baru ini, banyak orang mungkin telah melihat karyanya untuk Google Doodle pada 17 Agustus, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-79. Baginya, sebagai seseorang yang tidak berbasis di ibu kota, tawaran dari Google datang cukup tak terduga. “Kayaknya kesempatan itu jauh. Tapi setelah saya dapatkan, itu juga jadi pembuktian bahwa kita di daerah pun bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan teman-teman di pusat,” ujar Monez. Ia menjelaskan bahwa Google Internasional telah mengirimkan email secara langsung, sudah dilengkapi dengan presentasi yang dihiasi dengan karya-karyanya sebelumnya. Mereka cukup spesifik dengan aspek teknis dari presentasi mulai dari tema hingga palet warna. “Brief-nya cukup jelas dan prosesnya juga cukup cepat karena proses tektok-annya lumayan lancar,” kenang Monez. Ia menjelaskan bahwa dengan proyek berskala nasional seperti ini untuk Google, sebagai seorang ilustrator, Monez harus memahami hal-hal yang boleh dan tidak boleh dalam bahasa visual yang diterapkan. Ada beberapa simbol yang harus dihindari, seperti menciptakan karakter monster dengan tiga mata atau apa pun yang terkait dengan tabu agama. “Di Google Doodle kemarin pun juga ditekankan bahwa dihindari pemakaian simbol-simbol yang mungkin terlalu sensitif terhadap sebuah aliran kepercayaan atau kelompok tertentu,” jelasnya.

Saat ia baru memulai sebagai freelancer, seperti banyak kreatif lepas lainnya, Monez harus menangani baik sisi kreatif maupun sisi bisnis dari karirnya, tetapi ia menemukan bahwa seiring berjalannya waktu, hal ini menjadi kurang efektif. Kini, istrinya, Ami, telah bergabung dalam timnya sebagai manajer, dan mereka telah mengembangkan pembagian tugas yang lebih sehat dengan anggota tim lainnya. “Saya akhirnya sadar bahwa art as a business itu tidak bisa dikerjakan sebagaimana kita melihat seni sebagai suatu karya yang terkesan menjalankan sebuah ego saja. Bahwa art as a business itu juga memang harus dibantukan, orang-orang yang di dalamnya juga perpaduan antara art and business juga,” jelas Monez. Termasuk dirinya dan istrinya, manajer Ami, timnya memiliki total lebih dari selusin orang dengan enam ilustrator in-house.

Monez tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Ia berharap untuk terus mengembangkan studionya, Florto Studio, sebuah agensi ilustrasi dan desain grafis di Bali. Secara pribadi, Monez berharap karyanya bisa merambah ke dimensi tiga. “Kalau sekarang kan sebagian besar artwork saya 2D. Berakhir di file di iPad atau di prints. Saya pengen ke depannya, desain yang sama pun bisa diaplikasikan ke berbagai objek seperti, baik 3D, instalasi, mapping. Saya pengen membuktikan bahwa ide itu bisa diaplikasikan ke berbagai bentuk dan bisa dikolaborasikan oleh setiap orang,” ujar Monez. “Jalannya panjang tapi start small aja,” tutupnya dalam wawancara kami.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
Slide-9
Slide-10
Slide-11
Slide-12
Slide-13
Slide-14
Slide-15
About the Author

Kireina Masri

Kireina Masri has had their nose stuck in a book since they could remember. Majoring in Illustration, they now write of all things visual—pouring their love of the arts into the written word. They aspire to be their neighborhood's quirky cat lady in their later years.