Neo Sora & Sunny Gho: Kejujuran dalam Film, Animasi, dan Ekosistem Kreatif


Di Jakarta Film Week 2026, Grafis Masa Kini berkesempatan berbincang dengan Neo Sora, sutradara Happyend (2024) dan Sunny Gho illustrator sekaligus pendiri JICAF (Jakarta Illustration & Creative Arts Fair), tentang pengalaman menonton, kebebasan artistik, dan bagaimana karya visual dapat membuka percakapan tentang dunia di sekitar kita.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta Film Week, layar menjadi tempat bertemunya berbagai pengalaman dan cara pandang. Film-film dari berbagai negara hadir membawa cerita yang mungkin terasa asing, tetapi juga menyimpan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagi penonton, festival film menawarkan kesempatan untuk menemukan karya yang belum pernah mereka temui. Bagi para pembuatnya, festival menjadi ruang untuk berbagi gagasan dan melihat bagaimana sebuah cerita diterima oleh orang lain.

Tahun ini, Jakarta Film Week mengangkat tema Encounters atau perjumpaan. Tema tersebut menjadi titik awal percakapan dengan Neo Sora dan Sunny Gho. Keduanya hadir sebagai juri untuk kategori berbeda: Neo Sora di Global Short Films dan Sunny Gho di Global Animation.

Sunny Gho mengakui tidak berekspektasi apa pun tentang film yang akan ia tonton di Jakarta Film Week. Ini baru pertama kali diminta menjadi juri. Ia sempat mengira setidaknya bisa menilai dari segi visual, lalu duduk menonton sembilan film dari sembilan negara untuk kategori Global Animation. Di kategori Global Short Films, Neo Sora menjalani hal serupa dengan pengalaman yang sedikit lebih panjang. Baginya ini kedua kali ia menjadi juri, dan ia juga memilih masuk tanpa gagasan atau prasangka apa pun, membiarkan film bekerja pada dirinya. Festival tahun ini mengusung tema Encounters keduanya menjelaskan arti perjumpaan itu dengan cara masing-masing. Mereka bertolak dari satu kebiasaan yang sama, yaitu dari pengalaman sendiri dan tidak meminjam ukuran orang lain.

Neo memaknai tema itu dari sisi penonton. Sebuah film bisa ditonton berulang kali, tetapi menurutnya "perjumpaan pertama kita dengan sebuah film adalah pengalaman yang hanya terjadi satu kali". Festival memberi kesempatan agar perjumpaan itu terasa lebih khusus, karena ada antusiasme penonton dan peluang bertemu langsung dengan senimannya. Ia juga menyebut banyaknya orang dari berbagai belahan dunia yang berkumpul di Jakarta sebagai bentuk perjumpaan yang lain. Sunny menjawab lewat perannya sebagai juri. Baginya perjumpaan terjadi pada cara kreator dari latar belakang berbeda menafsirkan cerita atau tema yang sebenarnya sudah akrab. 

Perbedaan itu muncul lagi ketika keduanya ditanya tentang cara menilai, meski titik berangkatnya serupa. Neo mengukur film dengan satu pertanyaan sederhana. Untuk film apa pun, ia bertanya "apakah saya memiliki reaksi fisik", yang ia maksudkan sebagai reaksi tubuh sekaligus emosional. Ia berusaha jujur pada reaksi itu dan cenderung lebih menyukai film yang memicunya. Penilaian yang lebih intelektual datang sesudahnya, misalnya apakah film itu dibuat dengan baik, unik, atau berbeda dari yang pernah ia lihat. Tetapi hal yang paling utama baginya tetap "apakah saya merasakan sesuatu?" Ketika kami menyebut ini sebagai empati, Neo meluruskan bahwa bukan itu yang ia maksud. Yang ia cari lebih mendasar dan ia menyebutnya affect. Jika sebuah film membangkitkan affect dalam dirinya, menurutnya ada sesuatu yang sedang bekerja di sana, dan itulah garis dasarnya.

Sunny punya jalur yang berbeda. Dugaannya semula bahwa ia akan menilai dari sisi visual bergeser setelah semua film selesai ditonton. "Yang saya cari adalah seberapa baik cerita tersebut disampaikan melalui medium animasi," katanya. Film yang ceritanya dieksekusi lewat teknik yang hanya bisa dilakukan oleh animasi mendapat nilai lebih tinggi. Reaksi tubuh bagi Neo dan kesesuaian antara cerita dan medium bagi Sunny adalah dua ukuran yang berlainan, tetapi keduanya lahir dari pengalaman menonton lebih dulu alih-alih kriteria yang ketat.

zoom-1


Neo menilai film-film yang berkompetisi di program Global Short Competition kualitasnya sangat tinggi dan itu membawa konsekuensi. Ketika setiap film dibuat dengan baik secara teknis, pengalaman menonton bisa terasa monoton. Karena standar teknis hampir seragam, aspek itu menjadi pertimbangan kedua. Yang ia lihat lebih dulu adalah seberapa berani dan seberapa unik sebuah film, sebab menurutnya "hampir semua orang bisa membuat film yang sangat polished". 

Bagi Neo, keberanian dan keunikan menjadi semakin penting ketika kemampuan teknis tidak lagi menjadi pembeda utama. Film yang menarik perlu menawarkan sesuatu yang tidak mudah ditemukan di karya lain. “Yang penting untuk dilihat adalah apa yang melampaui standar teknis tersebut,” ujarnya. 

Pandangan Neo tentang visi artistik juga berubah seiring waktu. Dulu ia merasa memiliki gagasan tentang sinema yang ingin dibuktikan lewat filmnya. Sekarang ia datang dari tempat yang lebih tulus, dengan keinginan untuk "melakukan pekerjaan sebaik mungkin untuk menceritakan kisah yang dipercayakan kepada saya, atau kisah yang ingin saya ceritakan". Menurutnya, pembuat film "tidak perlu sengaja berusaha menjadi unik atau original". Ia pun mengaku banyak mengambil inspirasi dari film-film yang sudah kanon sebelumnya seperti Right Now, Wrong Then karya Hong Sang-soo, Design for Living karya Ernst Lubitsch, My Neighbor Totoro karya Hayao Miyazaki yang baru ia tonton ulang, film-film Rainer Werner Fassbinder terutama The Marriage of Maria Braun, Jacques Tati terutama Playtime, dan beberapa karya dari Douglas Sirk.

“Beberapa dari daftar ini tentu sering berubah seiring waktu,” lanjutnya. 

Hal paling mendasar dalam menyelesaikan persoalan pembuatan film baginya adalah dengan menggunakan cara paling jujur yang ia kuasai sehingga perspektif artistik akan muncul dengan sendirinya, baik disadari maupun tidak. 

Misalnya, dalam Happyend (2024) yang bercerita tentang persahabatan dua anak muda yang mulai retak karena salah satunya mengalami "kebangkitan politik" dan mulai melihat dunia di luar dirinya, sementara yang lain tetap tinggal di dunianya sendiri. Karena itu, dunia di sekitar mereka perlu digambarkan setara dengan karakternya. Ia ingin menggambarkan kota tanpa identitas spesifik, kota fiktif mana pun di Jepang. Ia sering memakai wide shot dan mengatur kedalaman bidang lensa agar semuanya tetap fokus, dari karakter sampai latar belakang. “Dalam gambar dua dimensi ini, saya kira ini penting bagaimana menggambarkan dunia di sekitar mereka dan mereka sendiri sebagai karakter secara sejajar, atau secara paralel. Kami memperlakukan keduanya dalam porsi yang sama." 

Neo menaruh banyak perhatian pada karakter-karakter di filmnya, baik secara visual, termasuk aspek auditif. “Saya ingin membuat alur cerita atau alur emosi yang berlangsung secara auditif dan memisahkannya dengan alur cerita yang berlangsung secara visual di dalam film,” ujarnya. Musik, diegetic dan non-diegetic di filmnya mempunyai fungsi yang berbeda. Misalnya, musik techno yang didengarkan oleh karakternya berfungsi sebagai semacam metafora gempa bumi yang acap berlangsung di dalam film, “sebab techno memiliki dentuman bass yang sangat kuat yang menciptakan gaung.” Sementara musik score yang digubah oleh Ryuichi Sakamoto berfungsi untuk membangun ketegangan antara dua karakter dalam filmnya. Komposisinya disusun dari perspektif kedua karakter ketika mereka membayangkan kembali ingatan dan nuansa yang terjadi pada linimasa film yang berlangsung. 

Kejujuran adalah hal yang penting. Perspektif Neo selalu berangkat dari bagasi pengalaman, imajinasi, dan referensi yang ia miliki. Meski tokoh-tokoh Happyend adalah karakter fiktif di masa depan dekat yang tidak ada di hari ini, tetapi ia menerjemahkan sebagian perasaannya sewaktu muda ke dalam cerita, sehingga baginya film itu lebih menyangkut dirinya sendiri dan bayangannya tentang Jepang di masa depan.

zoom-2


Sementara itu, menilik kembali proses penjurian untuk program Global Short Animation Competition, Sunny Gho menemukan keragaman dari arah lain. Ia jarang menonton animasi di luar arus utama, sehingga kekayaan teknik yang dipakai oleh sineas dalam program tersebut cukup mengejutkannya. Selain gambar tangan, ada stop-motion dan berbagai jenis material. Ia menyebut satu film yang kalau tidak salah berjudul Carla and Her Legs (2026)karya Christoph Büttner, yang menyerupai teknik cukil kayu, dan ia tertarik melihat begitu banyak cara yang dipakai untuk bertutur.

Sunny kemudian mengingat masa ketika film arthouse dianggap sulit sukses secara komersial, sementara karya arus utama dianggap bernilai artistik lebih rendah. Menurutnya, batas itu kini mengabur. Animasi yang sangat personal bisa sukses secara komersial tanpa kehilangan dampak kultural. Ia menyimpulkan bahwa "batasan antara ranah komersial dan artistik saat ini sudah jauh lebih cair". Kekuatan animasi, menurutnya, ada pada kenyataan bahwa animasi berawal dari gambar. Cerita sudah bisa dimulai dari cara menarik garis dan membentuk karakter. Kamera live-action dibatasi realitas fisik, sedangkan animasi punya kemungkinan yang jauh lebih luas. Ia mencontohkan School Show (2026) karya Ana Horvat, film di festival ini yang memakai goresan gambar anak-anak untuk menyampaikan cerita politik yang cukup unik.

Menyangkut ekosistem kreatif yang sehat bagi kreator lokal, Sunny menjawab dengan lugas. Menurutnya kita harus berhenti melihat cara negara lain membangun industrinya. Kita sering terjebak pada pola pikir untuk membuat gaya Korea atau mengikuti cara Jepang, lalu menjadikan keberhasilan mereka sebagai tolok ukur. "Kita harus memiliki definisi kesuksesan kita sendiri," katanya, dan kita perlu menyusun playbook sendiri. Indonesia, menurutnya, "sama sekali tidak kekurangan talenta". Persoalannya, para pemangku kepentingan menganggap kesuksesan harus sama dengan negara lain, padahal Indonesia tidak punya sejarah industri yang sama seperti industri komik di Amerika Serikat atau manga di Jepang. Memaksakan standar luar akan terasa berat dan mendorong kita pada hal yang mustahil untuk bersaing. Karena itu, di film, komik, maupun ilustrasi, industri lokal perlu memetakan jalan suksesnya dengan tolok ukur yang berbeda.

About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.