Tidak Ada Makan Siang Hari Ini: EDSU house dan Penolakan Arsitektur White Cube
Melalui konsep “white cube”, penggunaan ruang galeri biasa ditentukan oleh orkestrasi whiteness, di mana keindahan tergantung kepada olahan karya menjadi rapi, netral, dan nyaman. Susunan ini menghasilkan kurasi material dan materialitas karya yang tertata bersih dan “cantik”, menghasilkan pemaknaan estetika yang dekat dengan pakem seni rupa yang memanjakan mata (baca: seni demi seni), dibandingkan sebuah respons terhadap kondisi kultural, politik, dan sosial. Di sini, seniman, kurator, dan pihak-pihak yang terlibat dalam produksi pada galeri memiliki kuasa untuk mengarahkan cara pandang pengunjung, serta persepsi dan kehadiran mereka. Saat berada di dalam ruang pameran tersendiri, karya seni menuntut perhatian, dan kerap kali menawarkan pelarian dari realitas kita. Estetika, dengan demikian, menjadi lebih dari sekadar pokok bahasan, melainkan sebuah sistem arsitektur— yang melanggengkan penghindaran. Di tengah carut marut dalam lanskap politik hari ini, dapatkah kita membayangkan kemungkinan terjadinya sebuah retakan dalam sistem-sistem tersebut?
EDSU house menghadirkan“Tidak Ada Makan Siang Hari Ini” sebagai upaya untuk menjawab sekaligus mempertanyakan fungsi ruang galeri dan penyajian sebuah “estetika” (dibaca: estetika dapat didefinisikan melampaui keterikatannya pada konteks filosofis, serta mencakup popularitas pengunaan estetik sebagai istilah yang diasosiasikan dengan keindahan di kalangan masyarakat Indonesia). Pameran ini menyubversi karakter “seni” yang halus dan “jadi” – yang biasanya dekat dengan standar-standar institusional – dan menjadi ajang untuk merebut kembali identitas yang intim dengan kehidupan urban Yogyakarta. Dengan ini, pameran ini menjadi titik temu antara sekelompok seniman yang praktiknya berakar pada seni jalanan Yogyakarta (praktik jalanan): Begok Oner, Digie Sigit, Media Legal, Neus One, Pangestumu, Riski Reas, Sicovecas, dan Tuyuloeme.
Judul pameran “Tidak Ada Makan Siang Hari Ini” mewujudkan niat kolektif untuk mempertanyakan relasi-relasi yang membentuk cara kerja galeri pada umumnya, khususnya dengan menolak konvensi kenyamanan yang biasanya diharapkan dalam pengalaman pengunjung. Mereka mengajukan “Makan Siang” sebagai metafora nyata yang menunjukkan bagaimana kenyamanan visual biasa dihadirkan dalam sebuah pameran, dan seringkali menjadi sesuatu yang organik dalam sebuah galeri (atau institusi-institusi seni lainnya). Justru, mereka menjadikan pameran ini sebagai undangan untuk menolak ekspektasi untuk menerima tawaran tersebut.
Di EDSU house, para seniman dan penyelenggara mengajak pengunjung untuk mengalami seni, alih-alih sekadar “melihat”nya. Pengunjung menjadi saksi dari proses penciptaan yang terus berkembang, yang intim dengan sejarah seni jalanan di Yogyakarta serta interaksi personal para seniman dengan kota tersebut. Para seniman ini memberi penghormatan pada silsilah praktik mereka sekaligus pada ritme keseharian kota. Dengan demikian, galeri menjadi sebuah refleksi kolektif terhadap Yogyakarta; dimana seniman, galeri sebagai institusi, dan publik saling berdialog, bertaut dan berimajinasi bersama.
Dalam pengertian ini, Tidak Ada Makan Siang Hari Ini tidak semata menolak konvensi galeri, melainkan menyingkap kerapuhannya. Dengan mengguncang ekspektasi akan kenyamanan dan konsumsi visual, pameran ini memposisikan ulang galeri sebagai ruang interogasi, bukan tempat pelarian. Sekarang, pertanyaannya bukan hanya fokus kepada kemungkinan untuk membuat retakan, tetapi berapa lama ia dapat dipertahankan, serta apakah gestur-gestur semacam ini akan tetap menjadi gangguan yang sementara (pada dunia seni rupa), atau justru mampu mengubah kondisi di mana seni dialami dan dihidupi.