Notes on Riso: Catatan Reflektif Daud Sihombing tentang Mesin Cetak sebagai Metode dan Praktik Alternatif
Penulis: Daud Sihombing
Desainer: Eugenius Krisna
Lingkup: Penerbitan
Semua dimulai dari keingintahuan sederhana. Pada 2016, Daud Sihombing menemukan sebuah foto zine berjudul Around the Corner karya Andrea Reza yang diterbitkan oleh Binatang Press. Di suatu tempat dalam kolofon, ia membaca bahwa publikasi itu dicetak menggunakan mesin yang disebut Riso. Apa itu Riso, pikirnya. Dari pertanyaan itu berangkat sebuah perjalanan yang kemudian dituangkan dalam buku Notes on Riso: A Printing Method and a Tool for Publishing, yang diterbitkan Sojanggak, studio desain grafis dan penerbit berbasis Seoul, pada April 2026, bekerja sama dengan Eugenius Krisna sebagai desainer grafis.
Buku ini terdiri dari tiga esai utama: "Inside the Practice" yang menceritakan pengamatan pribadi Daud tentang praktik Riso, "In Indonesian Context" yang memposisikan Riso dalam lanskap penerbitan lokal, dan "Around the Machine" yang menganalisis Riso sebagai medium artistik melalui pertimbangan ekonomi dan ekologi. Selain itu, ia melacak praktik Riso yang beragam dengan serangkaian wawancara dengan penerbitan Riso dan studio grafis lintas benua seperti Knust Press, Hand Saw Press, we make it, Can Can Press, dan Sandwich Club. Di akhir buku, peneliti dari Korea Selatan, Lim Kyung Yong, juga berkontribusi dengan perspektif praktik Riso yang lebih luas.
Selain melacak praktik Riso di berbagai konteks, Daud juga menyusun rekam jejak personal tentang bagaimana sebuah alat produksi dapat menjadi medium untuk mendefinisikan ulang hubungan antara penerbit, seniman, dan pembaca. Meski mesin Riso dimulai sebagai duplikator kantor buatan Jepang yang dikembangkan atas alasan efisiensi, ia kini menjadi alat yang dipilih karena pertimbangan artistik. Teknologinya sederhana, biaya operasional rendah, dan menggunakan tinta nabati ramah lingkungan. Di Indonesia, eksplorasi terhadap mesin ini dimulai sekitar 2015 melalui Binatang Press di Jakarta.
Dari Jakarta, tren merambah ke kota-kota lain. Irfan Hendrian di Bandung memanfaatkan Riso sebagai jembatan antara cetak offset dan digital untuk dokumentasi pameran seniman. Di Yogyakarta, Kunci Copy Station melihat mesin ini sebagai alat untuk membangun ekonomi alternatif dan proses editorial yang kolektif, bukan hanya untuk keuntungan finansial.
Kini Riso bukan lagi eksperimen saja. Graphic Handler di Cirebon dan Qualita Company di Jakarta membuka layanan cetak Riso untuk pasar luas, dari seniman hingga usaha kecil. Mesin ini membuktikan bahwa teknologi sederhana, ketika dipahami dengan tepat, dapat membuka akses kreatif yang lebih luas dan berkelanjutan.
Di balik asumsi umum tentang penerbitan Riso yang terhitung murah dan ramah lingkungan, praktik Riso memerlukan keputusan desain dan strategi produksi yang rumit. Misalnya, keputusan untuk memilih publikasi satu warna atau publikasi multi-warna yang harus melalui eksperimen pemisahan warna yang memakan banyak waktu, pertimbangan jumlah master hingga pemilihan jenis dan ukuran kertas, serta aspek-aspek mendetail lainnya yang, tentu, akan sangat menentukan apakah hasil Riso benar-benar ekonomis dan berkelanjutan.
Sejak pertengahan 2000-an, Riso menjadi definisi sensibilitas art book fair global. Tinta neon, misalignment warna yang tidak disengaja, dan ketajaman tinta yang kabur di atas kertas kasar dianggap sebagai pernyataan etis terhadap presisi standardisasi offset printing berskala besar. Di satu sisi, buku ini juga mengkritisi estetika Riso yang perlahan menjadi trope visual yang dapat diprediksi serta jalan pintas yang aman ketimbang elemen yang memancing diskursus yang lebih provokatif.
Menurut Daud, dan beberapa narasumber dalam buku ini, mesin ini tidak menjanjikan transformasi besar, melainkan menurunkan hambatan produksi dan menciptakan ruang untuk praktik yang belum menjadi konvensi tetap. Dengan demikian, diskursus Riso pada akhirnya bermuara pada praktik komunitas dalam mengorganisir mode produksi sendiri.
Notes on Riso adalah sebuah catatan tentang bagaimana sebuah mesin cetak dapat menciptakan komunitas alternatif serta membuka pintu-pintu eksplorasi kreatif yang baru.