Menyibak Kabut: Menemukan Garis Zaini di Dalam Suasana Lebur
Ada sesuatu yang kabur dalam lukisan-lukisan Zaini. Suasana yang melayang lewat sapuan warna tanpa rupa yang jelas. Bentuk dan warna meleburkan diri satu sama lain. Kritikus seni Bambang Bujono pernah mengidentifikasi fenomena ini di tengah dekade 1970-an. Dari identifikasi itulah pameran Menyibak Kabut mengambil inspirasi.
Menyibak Kabut berlangsung 20 Juni hingga 11 Juli 2026 di Galeri Cipta I dan II, Taman Ismail Marzuki. Pameran yang dikuratori oleh Ibrahim Soetomo ini menampilkan sekitar 50 karya terpilih yang dibuat selama tiga dekade, dari 1948 hingga 1977. Pameran ini sekaligus merayakan seratus tahun sejak kelahirannya pada 17 Maret 1926 di Kurai Taji, Pariaman, Sumatera Barat.
Zaini belajar melukis di bawah bimbingan beberapa seniman penting di eranya, mulai dari S. Sudjojono, Basuki Abdullah, hingga Affandi, pada tahun-tahun 1942-1945. Ia juga tokoh organisasi seni yang cukup signifikan. Sejak 1946, ia bergabung dengan perkumpulan seperti Seniman Masyarakat, Seniman Indonesia Muda, dan Gabungan Pelukis Indonesia. Pengalaman organisasi ini berlanjut hingga ia menjadi salah satu pendiri Dewan Kesenian Jakarta pada 1968 dan mengajar di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta dari 1971 hingga 1976. Ia juga merancang logo dan menjadi redaktur majalah sastra Horison, yang pertama kali terbit tahun 1966.
Pameran dibagi menjadi dua galeri yang membawa atmosfer berbeda. Alih-alih menyematkan keterangan pada masing-masing karya, pengunjung dibiarkan tenggelam dalam ruangan untuk mengalami “kabut” tersebut. Ibrahim Soetomo, seperti dalam pernyataannya, sengaja menghadirkan tata pajang pameran yang tidak diakronis. Menariknya, kehadiran kedua ruang galeri ini saling melengkapi karya-karya Zaini.
Di Galeri Cipta I, karya-karya lukis Zaini dibagi secara tematis—baik yang berupa figur, fauna, pemandangan, dan lukisan tentang pelabuhan—melalui warna-warna solid di dinding. Kita menelusuri perjalanan Zaini mengabstraksi objek perupaan. Palet warnanya bergeser dari pastel yang lembut menuju nuansa gelap yang lebih subtil. Di sini, pengunjung dihadapkan pada evolusi cara Zaini memandang warna dan bentuk, bagaimana ia perlahan-lahan mengorbankan detail demi suasana yang lebih luas.
Galeri Cipta II memamerkan apa yang menjadi kekuatan lain dari Zaini: garis. Di ruangan ini, sketsa, vinyet, drawing, dan eksperimen monotipenya yang spontan menunjukkan kemampuannya sebagai penoreh garis yang ulung dan tepat. Subjek yang ia geluti relatif sama, figur manusia, perahu, pemandangan, hingga hewan, tetapi setiap perwujudan dicapai lewat penguasaan penuh terhadap medium yang ia gunakan. Garis-garis ini bukan sekadar dekoratif. Mereka adalah cara Zaini mengidentifikasi objek, membantu kita keluar dari kerumitan suasana yang kabur.
Pengalaman berjalan melalui kedua galeri terasa seperti dibimbing lewat dua cara melihat yang berbeda. Di satu sisi kita dibiarkan terlarut dalam suasana yang dihadirkan oleh sapuan warna Zaini. Tapi di sisi lain, garis-garisnya mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang konkret di balik kabut itu. Keduanya, bukan berarti sama sekali terbagi. Seperti cipratan garis dalam karya lukis berjudul Udang (1975) dan goresan gambar dalam Glodok (1973) yang membantu kita menuntun pada objek referensi yang terkondensasi oleh warna-warna Zaini.
Zaini juga terkenal sebagai ilustrator yang andal. Dari 1950-an, ilustrasinya mengisi sudut-sudut halaman majalah seni dan sastra. Potongan-potongan vinyet asli dari majalah Seni 1955, yang ia asuh bersama Amir Pasaribu, HB Jassin, dan Trisno Sumardjo, ditampilkan di pameran ini. Kurator Ibrahim Soetomo juga menyisipkan stiker-stiker ilustrasi vinyet Zaini di sudut-sudut ruang pameran. Sebuah cara sederhana untuk menuntun pengunjung lewat garis, seperti garis-garis Zaini itu sendiri memandu mata kita melalui kanvas.
Salah satu yang memukau dari karya-karya Zaini adalah monotipenya. Karya monotipe Zaini seperti Fishing Boat (1967) berhasil mempertemukan arsir-arsir hitam yang tegas dengan lapisan warna solid yang tidak sempurna. Serupa dengan keputusan artistiknya dalam mengolah warna dan menata bentuk dalam lukisan cat minyaknya, namun dipadukan dengan garis-garis tegas dan impulsif dari sketsa dan gambarnya. Lalu ada karya berjudul Pohon Hayat (1976) yang lagi-lagi memadukan beberapa warna solid—terakota dan kuning—yang saling bertumpuk dengan guratan yang membentuk komposisi garis di permukaan.
Pameran ini mengajak kita menembus batas-batas samar antara yang jelas dan yang kabur. Apa yang akhirnya diwariskan Zaini adalah sebuah dunia yang bergerak di antara bentuk dan suasana.