Randa Tapak dan Kisah-Kisah Pertumbuhan Kolektif Bersemi Berseni Berbagi
Siklus pertumbuhan randa tapak – atau yang selama ini kita kenal sebagai dandelion – berawal dari benih-benih yang bertebaran ditiup angin, jatuh, kemudian tumbuh berakar kuat bahkan di tanah yang terganggu. Melihat kesamaan antara siklus tersebut dan manusia, kolektif seni Bersemi Berseni Berbagi merefleksikan pertumbuhan, perubahan, dan jejak-jejak yang terbawa sepanjang kehidupan lewat pameran Randa Tapak yang digelar pada 14 Juni lalu di SpaCCCe Jakarta, Grand Wijaya.
Kami pertama kali bertemu dengan Bersemi Berseni Berbagi di akhir tahun lalu, saat mereka menjadi salah satu peserta Press Print Party, tanpa mengetahui bahwa kolektif ini merupakan sekumpulan siswa Batch 11 Erudio Indonesia High School. Melihat praktik yang beragam, perspektif yang mendalam, dan eksplorasi artistik dari sekumpulan pelajar melalui medium cetak merupakan pengalaman yang berbeda dan fresh – yang kemudian mereka kembangkan lagi dalam pameran ini. Randa Tapak sendiri merupakan presentasi karya-karya Naznin Khairunnisa, Dru Prawiro, dan Kelvin Kuwantto, sebagai puncak dari Final Major Project mereka dan sekaligus menandai tahap akhir perjalanan pendidikan ketiga seniman muda ini.
Di ruang yang dikelilingi tembok putih, ada tiga ragam karya dengan praktik berbeda-beda dan secara kuat menunjukkan keresahan setiap seniman. Lewat Persembahan untuk Binar Surya, Naznin Khairunnisa menampilkan film stop-motion eksperimental yang diputar di dalam instalasi kamar mandi. Karya ini berbicara soal pertumbuhan melalui upaya memutus siklus. Naznin menyoroti fase pelepasan ego, trauma, hingga kepasrahan manusia kepada alam semesta. Dengan judul yang meminjam frasa “binar surya”, praktik cyanotype yang dilakukan Naznin pada karya ini menjadi sebuah sinkronisasi yang puitis, mengingat bahwa “surya” menjadi unsur penting dalam praktiknya.
Dru Prawiro, dengan karya Memeluk, Menyelimuti, menampilkan instalasi selimut berbobot modular yang lahir dari praktik cetak saring. Lewat selimut yang “seharusnya” memberikan kenyamanan, Dru berbicara tentang rasa sebaliknya: ketidaknyamanan dan ketidakpastian, apalagi di dunia yang terus bergerak dengan cepat. Instalasi Dru Prawiro berbentuk keseluruhan kasur, tempat yang sangat personal bagi manusia. Dengan itu, karya ini menjadi simbol kerentanan manusia saat bertumbuh di tengah kehidupan yang tidak pasti – layaknya benih randa tapak yang hanya bisa berpasrah saat dibawa angin.
Sebelumnya, kami bertemu dengan praktik Kelvin Kuwantto lewat debut publikasinya: GUERRILLA. Dalam karya Sound Body di pameran ini, Kelvin secara konsisten kembali mengangkat soal identitas dengan praktik pengarsipan. Namun, kali ini, apa yang Kelvin buat menyoroti perjalanan dan koneksi dengan sesama manusia yang membawa pengaruh pada pertumbuhan. Ia menggabungkan fotografi analog, esai reflektif, dan benda-benda pribadi yang dikumpulkan selama perjalanannya di Indonesia dan Korea Selatan. Lewat semua itu, Kelvin menelusuri bagaimana identitas dibentuk lewat setiap hubungan yang kita temui di perjalanan hidup ini.
Ketiga karya di pameran Randa Tapak merupakan cerminan dari lika-liku pertumbuhan setiap seniman yang kemudian bertemu sebagai fragmen-fragmen dari narasi yang lebih besar. Alih-alih hanya menampilkan karya; Naznin, Dru, dan Kelvin memperbolehkan audiens “membaca” catatan-catatan pertumbuhan mereka dan semua pasang surut di setiap prosesnya.