Rege Indrastudianto Berbincang dengan Seto Adi Witonoyo soal Menjadi Creative Director di Studio Desain Hari Ini
Ketika berbicara soal peran Creative Director di studio desain, ada banyak bayangan yang muncul di kepala kita: pemimpin, owner, pengambil keputusan. Tidak sedikit dari kita yang melihat Creative Director sebagai tujuan karier, posisi terakhir paling ideal dalam perjalanan karier seorang desainer grafis. Namun, ada banyak lapisan dari kepemimpinan kreatif ini yang tidak sesederhana apa yang tertulis di atas kertas, semeriah di profil LinkedIn, atau seestetik moodboard yang dibagikan di media sosial.
Dunia kreatif yang semakin berkembang membuat peran Creative Director menjalar ke berbagai sektor, bahkan di luar departemen kreatif. Kemudian, di tengah kebebasan berkarier di industri kreatif ini, relevansi label Creative Director pun menjadi pertanyaan. Untuk menjawab semua tanda tanya ini, kami mempertemukan Rege Indrastudianto, Creative Director di Visious Studio, dan Seto Adi Witonoyo, Creative Director di Satu Collective. Dari pengalaman mengarungi pasang surutnya industri desain grafis, Rege dan Seto mengupas tantangan menjadi Creative Director di studio desain hari ini.
Rege Indrastudianto:
Mas Seto, kalau di industri desain grafis ini kan ada Founder, Co-Founder, lalu ada Creative Director. Gue kenal Mas Seto sebagai Creative Director di Satu Collective dan tahu bahwa sebelum role itu, perjalanan Mas Seto cukup panjang. Sekarang kan banyak nih yang bikin studio, menjadi Creative Director, bahkan sebelum punya pengalaman kerja. Sebenarnya, menurut Mas Seto sendiri, gimana sih realitas atau tanggung jawab dari posisi Creative Director itu yang orang-orang perlu tahu?
Seto Adi Witonoyo:
Menurut gue ya, Mas Rege, jadi Creative Director itu bukan hanya label aja, tapi pengalaman dan intuisi. Gue memulai karier juga sebagai desainer grafis, Art Director, jadi associate, kemudian Creative Director. Prosesnya itu panjang dan bukan hanya bikin konsep desain doang, tapi gimana kita manage tim, mengenal tim kita secara personal, kayak gimana skill set dia, dan gimana dia bisa berkembang. Sebagai Creative Director, kita kan bekerja sama dengan banyak talenta, makanya harus punya sense untuk memahami timnya itu kuat di bagian mana. Selain itu, Creative Director harus punya sense of business dan marketing thinking. Saat mendesain, enggak hanya berpikir soal estetikanya saja, tetapi juga tentang apa yang dibutuhkan klien.
Rege Indrastudianto:
Gimana Mas Seto sebagai Creative Director mengatur bisnis di Satu Collective?
Seto Adi Witonoyo:
Di Satu Collective, gue sebagai CEO-nya juga. Jadi, gue harus tahu bisnisnya – kayak gimana gue harus menjalankannya dan gimana menyesuaikannya dengan karakter studio gue. Gue rasa setiap studio itu punya kekuatannya sendiri, dan itu macam-macam. Saat menjadi Creative Director, gue harus bisa nge-link antara bisnis dan karakter dari studio.
Gue belajar banyak dari role model gue dulu waktu kerja di agensi. Ibaratnya, gue itu produk dari Creative Director gue sebelumnya, jadi gue contoh mereka banget. Waktu awal-awal gue bikin studio, fokusnya ya cuma gimana punya portofolio yang bagus, enggak tahu esensi jadi Creative Director. Cuma gara-gara belajar dari Creative Director gue di advertising waktu dulu, gue jadi mikir, gimana ya kasih yang total untuk klien – ternyata dengan nawarin service baru yang enggak sekadar branding. Ya kayak advertising, bisa campaign juga – ya harus bisa jadi konsultan biar bisnis juga grow.
Rege Indrastudianto:
Nah, karena lagi flashback waktu Mas Seto baru mulai, gimana caranya bikin tim waktu itu? Ngumpulin orang-orangnya, mungkin cari partner kah? Lalu, tantangannya sebagai Creative Director gimana waktu awal-awal Satu Collective berjalan?
Seto Adi Witonoyo:
Menurut gue, jadi Creative Director itu memang paling susah waktu memilih orang dan handle tim karena orang kan sifatnya naik turun, ya. Ada beberapa orang yang harus di-nurture, di-approach untuk kita bisa tahu kuatnya di mana. Jadi, paling penting sih waktu itu gimana cara Creative Director approach mereka biar bisa semaksimal mungkin keluarin performa mereka. Dan setiap generasi pasti punya cara masing-masing. Menurut gue, Creative Director itu harus punya communication skill; gimana cara presentasi yang bagus, gimana cara meyakinkan tim dan klien – itu harus dikuasai. Kita juga harus banyak referensi sih: apa yang lagi tren sekarang, musik dan film apa yang lagi bagus, fashion hari ini gimana. Gue ada teori kalau Creative Director itu bisa dibentuk; ada juga yang pure. Gue merasa pure Creative Director itu mereka yang punya taste dan knowledge. Mereka mau bikin desain, mau jadi arsitek, mau di fashion juga bagus. Mungkin orang kayak Virgil Abloh kali ya.
Rege Indrastudianto:
Belum lagi soal portofolio, ya. Dulu, kayaknya kita harus bikin yang memang berdasarkan idealisme: karya portofolio yang bagus. Tapi di satu sisi kan yang jadi tantangan paling besar adalah gimana supaya studio tetap sustain, tetap jalan. Kalau di Visious, ada portofolio yang bagus tapi nilainya kecil; ada juga yang secara kreatif kurang tapi ada nilainya. Mungkin memang harus ada keduanya biar seimbang, ya.
Seto Adi Witonoyo:
Creative Director gue dulu pernah bilang kalau milih proyek itu ada 3F: fame, fortune, fun. Setidaknya harus ada dua. Kalau enggak ada duitnya, tapi menyenangkan dan bisa kasih kita exposure, ya diambil.
Nah, kalau Mas Rege sendiri kan jadi Creative Director sudah lebih lama ya dari gue. Tantangan Creative Director setiap zaman itu juga berbeda, kan. Kayak, mungkin dulu industri masih segitu-segitu saja, sekarang sudah lebih luas. Apa sih perbedaan yang dirasakan sebagai Creative Director dulu dan sekarang?
Rege Indrastudianto:
Dulu itu gue jadi Creative Director belajar sendiri, Mas. Karena mungkin beda ya, Mas Seto dulu pernah di level Art Director yang kerjanya lumayan intens bareng Creative Director. Pas gue kerja di agensi, Creative Director itu sulit di-reach sama gue karena mereka ada di ruangan sendiri dan datang mungkin sekali-kali, kadang ikut di produksi, photoshoot. Nah, jadi belajarnya itu enggak terlalu dapet banyak. Malah, jadi Creative Director ini belajarnya benar-benar from scratch di Visious. Bedanya sekarang di Visious, ternyata sebagai Creative Director, gue butuh untuk turun gitu lho, Mas, enggak hanya konsep doang. Bahkan, saat implementasi, kita harus lihat; saat bikin deck, dari awal kita nge-direct kita ngasih tahu cara present, sampai lihat hasil final, mungkin juga sampai pilih vendor – karena kalau kita missed satu saja, output-nya sering kali enggak bagus. Walaupun kita punya Art Director, tetap saja Creative Director itu butuh ada. Di saat itu, kita juga membangun tim kita, temenin mereka, bahkan saat harus mengambil keputusan-keputusan finansial. Risikonya juga ada di tangan kita. Jadi, hal-hal detail kayak tipografi, hasil cetak, warna, itu juga sampai sekarang gue masih perhatiin. Ya memang kayaknya Creative Director yang lahir dari desainer grafis itu kayaknya enggak mungkin bisa lepas dari hal-hal yang sifatnya teknikal gitu, dan pasti akan selalu peduli detail sekecil apa pun.
Seto Adi Witonoyo:
Creative Director itu kita harus nyemplung langsung sampai bawah. Kita kan juga punya visi, ingin tahu juga achieve-nya segimana, supaya pas jalan semua kita bisa jaga agar achieve visinya.
Rege Indrastudianto: Kayaknya gitu. Jadi, enggak sesimpel kayak “Oh lo direct, terus abis itu pindah ke project lain.” Tapi justru harus ada sampai selesai.
Seto Adi Witonoyo:
Nah, gue worry banget tuh kreativitas dan daya serap gue itu masih bisa keep up enggak ya di masa mendatang? Kan zaman berubah terus, sedangkan kalau kita ada di “bisnis selera”, kita harus keep up sama tren dan perubahan. Jadi gue masih bisa keep up enggak ya dengan semua kemajuan ini, misalnya sepuluh tahun lagi, umur gue udah 60 gitu. Tapi gue percaya, as a principal, gue punya prinsip-prinsip dasar, dan cita-cita gue sih pengen bikin banyak suksesor, Creative Director baru, yang bisa memimpin dan menjalankan prinsip-prinsip itu.
Rege Indrastudianto:
Kalau gue di kantor (Visious), ada partnernya, Mas Derrie. Tapi sama, gue sendiri juga punya ketakutan, walaupun ada Mas Derrie, tapi bawah-bawahnya siapa lagi gitu yang bakal melanjutkan. Sebagai Creative Director dan juga principal, gimana tugasnya bukan cuma bisa develop tim untuk kerjain sebuah kerjaan. Tapi juga gimana cara studio sustain dan ada generasi penerus. Jangan sampai, nanti generasi selanjutnya enggak bisa belajar dari generasi kita – seharusnya mereka bisa belajar kayak kita belajar gimana Pentagram berjalan. Generasi kita saja masih bisa lihat Paula Scher, padahal jaraknya jauh kan. Nah, gue mikir gimana caranya temen-temen generasi kita sebagai Creative Director sekarang bisa kasih ilmu ke bawah, ke Creative Director baru. Jadi, ilmunya turun terus.
Seto Adi Witonoyo:
Iya, dan untuk Creative Director baru itu enggak langsung jadi. Creative Director itu perjalanan, proses – harus punya visi, punya misi ke depan kayak gimana. Yang membentuk itu insting awalnya, dan insting itu kan diasah terus dari macam-macam proyek, tantangan, cobaan, jatuh bangun, fail, rejection. Semakin banyak fail, semakin kuat instingnya. Menurut gue, Creative Director juga enggak cuma eksekusi kreatif, tapi gimana dia bisa membawa impact ke semua hal. Itu semua bisa dibentuk dari diri sendiri, dari mentoring, belajar dari Creative Director lain. Menurut gue, areanya banyak banget, jadi knowledge-nya luas gitu ya karena esensi dari Creative Director itu banyak banget; dari sisi kreatif, ide, bisnis, marketing. Jadi, tetap update dan upgrade terus gitu.
Rege Indrastudianto:
Sama memang harus cinta sama desain grafis, memang harus senang. Nah, kalau dasarnya suka, pasti tetap dijalanin. Selama punya pikiran masih sayang sama profesinya, kayaknya semangatnya tuh enggak luntur gitu ya – kayak buku Pak Hermawan (Tanzil), Ditanggoeng Tida Loentoer, hahaha.
Seto Adi Witonoyo:
Nah tapi, label Creative Director penting enggak sih?
Rege Indrastudianto:
Hahaha, misalnya gue ditanya pas lagi ketemu orang, gue jawabnya sih gue Graphic Designer, tapi di kartu nama Creative Director.
Seto Adi Witonoyo:
Kayaknya sih label Creative Director tuh karena sifatnya struktural, ya, ada kebutuhan di kantor. Kalau di agensi advertising kan banyak tuh (board-nya). Kalau di studio desain, ya tergantung ya hahaha.