Satrio Yudho: Menyelami Seni Piksel, Kemanusiaan, dan Spiritualitas
Pada layar hitam-legam, piksel-piksel putih bergerak secara konstan membentuk formasi figur-figur dua dimensi. Figur-figur tersebut memberi kesan distopian, seolah-olah mereka terburai menjadi partikel-partikel atomis yang berterbangan. Dalam beberapa tahun belakangan ini Satrio Yudho atau @yudho.xyz berfokus pada eksplorasi seni piksel yang ia sebut sebagai “Dirty Pixel”. Ia menantang aturan konvensional dengan gayanya yang menyimpang, kacau dan mentah. Pendekatannya melibatkan penggabungan dan pemindahan piksel secara acak, sehingga membentuk kedalaman dan tekstur melalui noise pointilis. Kekacauan piksel yang diciptakan Yudho mencerminkan noise digital yang kita temui setiap hari di era media sosial.
Yudho memulai perjalanannya dalam seni dari jalur yang terbilang tradisional. Ia menempuh pendidikan di ITB, mengambil jurusan Seni Rupa Murni, Studio Lukis. Selama masa kuliah, ia mengeksplorasi banyak hal, “Saat itu, saya banyak bereksperimen, melukis apa saja, mulai dari hal yang iseng, simbolik, hingga isu-isu spiritual. Semua itu saya tuangkan dalam ratusan kanvas yang membentuk semacam konstelasi karya,” Ujarnya. Setelah lulus, Yudho tetap melukis, namun lebih sering terlibat sebagai desainer, ilustrator, mural artist, hingga fotografer. Hampir sepuluh tahun ia mengisi ruang-ruang yang berbeda. Akhir 2021 menjadi momen penting ketika ia memutuskan kembali sepenuhnya ke jalur seniman. Saat itu ia mulai jatuh hati pada Web3 dan NFT.
Latar belakang melukis mendorong Yudho ke dunia digital painting. Ia terbiasa bekerja dengan detail dan komposisi yang padat. Ia selalu membayangkan karyanya suatu hari ditampilkan di layar besar. Selama dua tahun ia menekuni gaya ini secara serius, dan ia mendapatkan tanggapan yang positif. Namun, saat gelombang AI muncul dan mulai memengaruhi budaya visual di Web3, Yudho merasa harus menyesuaikan diri. Ia tidak tertarik membuat gambar lewat prompt. Bagi Yudho, bagian yang paling penting adalah proses menggambar itu sendiri. Dari kebutuhan itu, pixel art lahir sebagai pilihan.
Beberapa seri karya NFT Satrio Yudho mengalami transisi signifikan terutama dari teknik pembuatan dan juga bentuk. Pada karya-karya awal ia menggunakan teknik digital painting memiliki komposisi dan warna yang lebih kompleks dan ornamen-ornamen yang detail. Digital painting bagi Yudho adalah kelanjutan dari melukis dengan cat minyak di kanvas besar. Lantas, kompleksitas, detail, dan komposisi dibawa ke medium digital.
Ketika Yudho merambah pixel art, ia menemukan ruang baru. Ia mengungkapkan, “Transisi dari digital painting ke pixel art sebenarnya bukan soal berpindah gaya, tapi soal menemukan bahasa visual yang berbeda untuk kebutuhan yang memang berbeda juga.” Dalam karya yang bergaya pixel art terdapat gambar-gambar yang lebih simplistik dan pergerakan yang lebih dinamis. setiap piksel menjadi titik meditasi. Prosesnya kembali menjadi ritual yang intim. “Sementara pixel art lebih terasa seperti menggambar menggunakan pensil di atas kertas. Sederhana, terbatas, tapi justru di situlah saya merasa lebih bebas. Saya tidak perlu membangun dunia yang rumit, cukup satu atau dua objek dan loop. Dan dalam keterbatasan itu, saya bisa lebih jujur dan intuitif,” lanjutnya.
Inspirasi Yudho datang dari banyak sumber. Ia menyebut pengalaman pribadi, isu kesehatan mental, visual game masa kecil, manga, budaya internet, hingga AI cult. Semua tercampur sebagai potongan puzzle yang saling terhubung. Dalam karyanya, ide utama sering muncul berulang. Ia menyebut cara membaca karyanya seperti konstelasi, bisa dilihat sebagai rangkaian puzzle atau satu per satu.
Proses berkarya Yudho tidak hanya tentang hasil akhir. Baginya, proses adalah inti. Kesenangan terbesarnya justru lahir saat menggambar. Momen ketika satu piksel ditempatkan, satu garis ditarik, atau satu warna diisi. Semua itu menjadi ritual yang menyambung dengan napas. Dalam pixel art, Yudho menemukan bentuk lain dari meditasi. Setiap piksel seperti titik kesadaran. Ia tidak lagi memikirkan detil berlapis atau komposisi rumit. Ia hanya berfokus pada kehadiran piksel itu sendiri. Semua lahir dari dorongan untuk tetap dekat dengan esensi menggambar.
Meski sudah terjun ke Web3 dan NFT, Yudho tidak menutup kemungkinan kembali ke bentuk karya lain. Menurutnya, ruang digital dan fisik bisa saling melengkapi. Hampir setiap hari kita selalu berinteraksi dengan piksel Baginya, dunia fisik dan digital adalah bagian yang saling memengaruhi. Semua bisa mengalir sesuai kebutuhan dan momen. Hal ini tercermin dalam beberapa karya-karya Yudho juga ditampilkan dalam bentuk pameran hingga pagelaran musik berskala internasional. “Bagi saya, tidak ada batas tegas di antara keduanya. Karya pixel art saya bisa hadir di layar LED saat konser, dicetak sebagai objek fisik, atau menjadi bagian dari instalasi. Media hanyalah medium, yang penting adalah bagaimana karya itu bisa terus mengalir melintasi ruang, baik digital maupun nyata.”
Hasrat untuk terus bereksperimen dan bereksplorasi dalam diri Yudho tidak pernah surut. Saat ini Yudho bahkan tengah mempersiapkan sebuah proyek karya interaktif, di mana audiens bisa menikmati karya saya secara lebih immersive. “Tantangannya bagaimana menghadirkan pengalaman yang bukan hanya visual, tapi juga bisa dirasakan langsung oleh penonton,” jelasnya.
Ia melihat seni piksel sebagai caranya bercerita tentang relasi manusia dengan teknologi dan spiritualitas. Baginya, piksel adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Di era teknologi ini kita berinteraksi dengan piksel melalui layar gawai, TV, kamera, dan berbagai temuan-temuan teknologi terkini. Pixel menjadi media yang sempurna untuk menceritakan kisah hubungan manusia dengan teknologi, menggambarkan hubungan antara pencipta dan ciptaan. Dalam interaksi ini, kita terus-menerus membentuk dan membentuk ulang satu sama lain.
“Teknologi bisa jadi jalan kita menemukan makna dan spiritualitas dalam dunia modern. Tapi di saat yang sama, kita dapat diperbudak oleh apa yang kita ciptakan sendiri. Teknologi juga bisa membawa kita menuju pencerahan, namun kadang manusia terlalu fokus dengan kemajuan tanpa melihat efek buruk yang ditimbulkan, yang kadang lebih besar namun jauh dari pandangan,” terang Yudho.
Hari ini, pixel art Yudho bisa hidup di banyak ruang. Bisa dipamerkan di layar konser, bisa dicetak, atau tampil dalam marketplace NFT. Konteksnya bisa berubah. Namun, semangat dalam tiap karya tetap sama. Karya-karya itu lahir dari keinginan untuk menceritakan hubungan manusia dan teknologi, dan sekaligus menjadi ruang bagi Yudho untuk berdialog dengan dirinya sendiri.