Saul Bass dan Revolusi Title Sequence dalam Film


Dahulu, title sequences dianggap sebagai “waktu popcorn”. Kala layar memperlihatkan daftar nama kru film bergulir membosankan, sebagian audiens sibuk berkelakar atau mencari tempat duduk. Saul Bass mengubah kebiasaan itu. Bagi Bass, film semestinya dimulai ketika lampu padam. “Saya sudah lama merasa bahwa keterlibatan penonton dengan sebuah film seharusnya dimulai sejak adegan pertama,” ujarnya. Di tangannya, title sequences menjadi overture yang membangun atmosfer cerita selanjutnya. 

Saul Bass lahir pada 8 Mei 1920 di Bronx, New York. Momen formatif paling krusial dalam kehidupan profesional Bass terjadi di Brooklyn College, di mana ia mengikuti kelas malam di bawah bimbingan György Kepes. Kepes, seorang desainer Hungaria terkemuka dan rekan dekat László Moholy-Nagy dari New Bauhaus, memperkenalkan Bass pada prinsip-prinsip modernisme Eropa. Dari Kepes, Bass menyerap prinsip desain sebagai alat untuk penyelesaian masalah intelektual. 

Selama masa Depresi Besar, Bass bekerja di berbagai agensi periklanan untuk menabung, sebuah pengalaman praktis yang memberinya pemahaman tentang bagaimana gambar dapat memengaruhi perilaku konsumen. Salah satu pekerjaan awalnya melibatkan pembuatan poster untuk film-film Warner Bros., yang secara tidak sengaja menjadi langkah pertamanya menuju industri yang akan ia revolusi. Pada tahun 1946, didorong oleh ambisi untuk mengeksplorasi pasar baru, Bass pindah ke Los Angeles, pusat industri hiburan yang sedang berkembang pesat setelah Perang Dunia II.

zoom-1


Titik balik kariernya terjadi pada tahun 1954 ketika ia mendesain poster untuk film Carmen Jones karya Otto Preminger. Terkesan dengan kemampuan Bass untuk menyederhanakan esensi film ke dalam satu gambar, Preminger memintanya untuk menggerakkan gambar tersebut. Dalam kolaborasi berikutnya, The Man with the Golden Arm (1955), Bass menggunakan animasi potongan kertas yang menampilkan lengan seorang pecandu heroin yang bergerak secara diskordan dengan iringan musik jazz.

Inovasi ini menciptakan apa yang disebut sebagai "tipografi kinetik”, sebuah teknik di mana teks tidak lagi statis tetapi menjadi karakter aktif yang berinteraksi dengan ruang dan waktu. Melalui karyanya untuk Alfred Hitchcock, Bass membawa teknik ini ke tingkat kecanggihan yang lebih tinggi. Dalam North by Northwest (1959), teks merayap naik dan turun mengikuti garis-garis geometris yang kemudian larut menjadi fasad kaca gedung pencakar langit. Dalam Vertigo (1958), ia berkolaborasi dengan John Whitney untuk menciptakan efek disorientasi psikologis dengan spirograf yang muncul dari pupil mata manusia. Di periode ini, beberapa judul film seperti Anatomy of a Murder (1959), Psycho (1960), Exodus (1960), dan Spartacus (1960) digarapnya dengan metode yang sama.

Di luar layar perak, poster film Saul Bass mendefinisikan ulang cara film dipasarkan. Di era ketika poster biasanya menampilkan wajah-wajah bintang besar yang dikelilingi oleh ilustrasi adegan-adegan penting, Bass memilih jalan minimalisme. Filosofi desain Saul Bass dapat dirangkum dalam dua perintah utamanya: simbolkan dan ringkas. Di sana, ia melihat desain sebagai pemikiran yang dibuat visual.

Bass menerapkan prinsip-prinsip modernis yang sama pada logo perusahaan sebagaimana yang ia lakukan pada poster film. Ia percaya bahwa sebuah program identitas yang baik harus mampu membersihkan citra perusahaan, memposisikannya sebagai entitas kontemporer, dan menjaganya agar tidak pernah terlihat ketinggalan zaman. Bukti paling nyata dari keberhasilan filosofinya adalah umur panjang logo-logonya.

Pada tahun 1969, Bass mendesain ulang sistem identitas Bell Telephone Company, menggantikan logo lama yang rumit dengan lonceng yang sangat bergaya di dalam lingkaran biru. Ketika Bell System dipecah pada tahun 1983, Bass kembali ditunjuk untuk menciptakan identitas bagi AT&T yang baru lahir. Ia menciptakan logo globe yang ikonik, menggunakan garis-garis horizontal dengan lebar yang bervariasi untuk menciptakan ilusi cahaya pada bola dunia tanpa menggunakan efek 3D yang mahal atau gradien yang rumit. Beberapa logo ikonik dari brand-brand ternama seperti Minolta, Quaker Oats, United Airlines, dan Girl Scouts juga dibuat dengan filosofi desainnya yang mendasar; logo-logonya tetap dapat dikenali bahkan dalam reproduksi kualitas rendah atau dalam format satu warna.

Ia berkata, “Jika terlalu sederhana, itu membosankan…Kami mencoba menghadirkan ide yang sangat sederhana sehingga membuat Anda berpikir dan mempertimbangkan ulang.”

zoom-2


Di balik karya-karya desainnya di dunia film, ia menyimpan ambisi yang lebih besar untuk menjadi pembuat film secara keseluruhan. Pada 1968, ia memproduksi film dokumenter eksperimental berjudul Why Men Create dan berhasil menyabet Academy Award untuk Dokumenter Subjek Pendek Terbaik. Keberhasilan ini memberinya kesempatan untuk menyutradarai satu-satunya film fitur fiksi ilmiahnya, Phase IV (1974). Gaya penyutradaraan Bass yang sangat bergantung pada komunikasi grafis dan nonverbal sering kali berbenturan dengan harapan studio untuk film horor komersial yang lebih konvensional. Akibatnya, film ini mengalami kegagalan box office saat dirilis, meskipun kemudian mendapatkan status sebagai film kultus yang sangat dihormati.

Selama periode 1960-an hingga 1980-an, Saul Bass tampaknya menarik diri dari desain judul film arus utama, hingga Martin Scorsese, yang tumbuh besar dengan mengagumi karya-karya Bass untuk Hitchcock, menemukannya kembali. Scorsese mempercayakan desain judul film Goodfellas (1990), Cape Fear (1991), The Age of Innocence (1993), dan Casino (1995) sepenuhnya kepada Bass. Di sini Bass tetap mampu beradaptasi dengan teknologi baru, termasuk penggunaan efek komputer, tanpa kehilangan identitas visualnya yang unik.

web-23
web-26
web-24
web-22
web-21
web-25
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.