Refleksi Sosial Horor Absurd: Edwin & Menfo Tantono tentang Direksi Artistik Monster Pabrik Rambut


Edwin mengaku tidak pernah menyusun daftar genre apa saja yang ingin ia kerjakan. Tapi ada satu keyakinan yang ia bawa cukup lama bahwa suatu hari ia akan membuat film horor miliknya sendiri, entah kapan.

Sebelum bicara soal filmnya, ada baiknya kita mundur sedikit. Setelah mengeksplorasi genre thriller kriminal di Kabut Berduri (2024), silat di Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), kuliner di Aruna dan Lidahnya (2018), dan romansa remaja di Posesif (2017), horor memang terasa seperti langkah yang tidak terduga. Tapi bagi Edwin, logikanya sederhana. "Saya selalu membuat film dari keseharian, dan keseharian kita sekarang semakin menyeramkan. Maka dari itu, saya pikir masuk akal kalau output-nya jadi film horor," ujarnya.

Ia kemudian menarik garis ke sejarah yang lebih panjang. Di tahun 1920-an, pasca Perang Dunia Pertama, ketika industrialisasi bergerak cepat dan nilai-nilai lama mulai tergusur, muncul gelombang film horor di Eropa seperti Cabinet of Dr. Caligari (1920) dan Nosferatu (1922). Tahun 1930-an di Hindia Belanda, krisis ekonomi global membuat harga komoditas ekspor seperti karet dan gula merosot tajam. Doea Siloeman Oeler Poeti en Item (1934) dan Tie Pat Kai Kawin (1935) lahir di tahun yang sama. Selalu ada konteks di balik setiap gelombang horor. Selalu ada dunia yang sedang bergerak terlalu cepat, sampai orang-orang butuh bentuk untuk mengekspresikan ketakutan mereka.

"Film horor dirayakan karena demarkasinya yang tegas dengan dunia nyata. Meskipun kalau kita bedah, dunia itu selalu terhubung dengan dunia penonton," kata Edwin. "Itulah mengapa film horor di Indonesia selalu dirayakan. Karena sebenarnya kita nggak pernah selesai dengan masalah kita sendiri, sehingga kita jadi relate."

Dan sekarang, di era di mana internet sudah mengubah hampir semua lini kehidupan dan kecerdasan buatan mulai menggantikan kerja-kerja manusia, Edwin merasa ada bagian dari diri manusia yang tersingkirkan, sesuatu yang manusiawi. “Saya malah resah kenapa harus bikin film horornya sekarang,” katanya. Pernyataan itu terdengar seperti diagnosis. Dari keresahan itulah Monster Pabrik Rambut lahir.

Yang pertama kali mencolok dari film ini secara estetika adalah keputusannya untuk tidak mengikuti formula horor kontemporer. Monster Pabrik Rambut terasa lebih dekat dengan horor lokal tahun 1980-an, dengan elemen absurd, body horror, komedi gelap, dan efek visual yang tampak dibuat dengan tangan. 

Menfo Tantono, desainer produksi film ini, menjelaskan bahwa pilihan menggunakan efek praktikal lebih soal kepercayaan terhadap proses daripada keterbatasan anggaran. "Problemnya dengan CGI, kalau kita mengerjakannya nggak secanggih Hollywood, sangat mungkin gagal. Sementara efek praktikal ini bisa lebih nyata dan justru lebih fun. Jadi semuanya lebih bisa terukur. Kita tahu betul gambar apa yang akan kita dapatkan ketika proses syuting," katanya.

Mereka merujuk pada beberapa referensi konkret. Jaka Sembung Sang Penakluk (1981), di mana Si Hitam yang diperankan WD Muchtar kehilangan kepalanya, tapi masih bisa bergerak. Bayi Ajaib (1982) yang menggunakan kulit prostetik untuk membuat bentuk wajah yang menyeramkan. “Yang mungkin cukup baru, kami membedah film Little Otik (2000) karya sutradara Ceko, Jan Švankmajer, dalam proses pengembangan film ini,” jelas Menfo. 

Ia menambahkan, "Kebetulan Edwin orangnya sangat analog. Dia suka hal-hal yang masih bersifat manusiawi."

Edwin sendiri memperluas soal ini dengan cara yang menarik. Ia tidak anti-digital. Tapi ada sesuatu yang ia nilai dari proses yang bisa dipegang secara fisik. "Kami bekerja dengan puppeteers, dengan set desainer, dengan make-up artist, dengan SFX artist, dengan rigging team yang memilih sendiri sling baja yang kuat untuk menarik aktor, bahkan dengan tim properti yang memilih rambut-rambut asli untuk shot-shot yang detail. Semua itu bisa dipegang, tangible, prosesnya sendiri lebih meyakinkan dari mulai mendesain sampai trial error-nya bisa kami ukur, jadi tidak kaget dengan hasilnya," katanya.

Ia lalu menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pertimbangan teknis. "Balik lagi ke film horor tahun 1980-an, kita sadar efeknya sembarangan banget. Tapi itu justru nempel banget di kepala. Teknisnya katro, tapi itu sangat impactful. Kita tahu itu efek yang dibuat-buat, nggak nyata, tapi saya nggak merasa ditipu dalam artian, kita tahu betul apa yang nyata dan tidak nyata. Sementara sekarang dengan CGI, seolah-olah semua itu nyata. Mungkin penonton akan merasa ini aneh, tapi ini risiko yang kami ambil karena kami membela efek yang lebih jujur."

Menfo melengkapi dengan cara yang ringkas: "Kesadaran tertinggi ketika menonton film adalah ketika kita sadar bahwa apa yang kita tonton itu tidak nyata. Justru kecacatan-kecacatan yang kita temukan itu bikin ini jadi lebih hidup."

zoom-1


Monster Pabrik Rambut menghadirkan hantu yang tidak kelihatan bentuknya: kapitalisme. Terornya bukan datang dari sosok gaib, tapi dari eksploitasi yang sistematis, dari rutinitas yang memenjarakan, dari tubuh yang dipaksa terus produktif sampai harus terus-menerus menumbuhkan sendi-sendi baru. 

Untuk membangun semua itu secara visual, Menfo dan tim melakukan riset lapangan. Mereka pergi ke pabrik rambut di Bali, mencatat detail-detail konkret: alat-alat produksi, penggunaan paku untuk menyisir rambut, hingga cara membuat busa dari bahan-bahan kimia yang dicampur. "Memang kenyataannya tidak seperti di film, tapi secara saintifik bisa dibuktikan," kata Menfo.

Masalahnya, situasi pabrik rambut di Bali terlalu harmonis. Standar produksinya baik, suasananya nyaman. Itu tidak cocok dengan kebutuhan cerita. Akhirnya mereka menemukan lokasi yang tepat: Gedung PFN, Produksi Film Negara, sebuah bangunan tua di Jakarta yang strukturnya sudah intimidatif sebelum apa pun ditambahkan ke dalamnya.

"Secara struktur, bangunan tersebut sudah intimidatif. Ini sesuai dengan apa yang ingin kami capai," ujar Menfo. "Dari situ kami menambahkan elemen-elemen lain yang menambah nuansa ruangan. Bagaimana membuatnya jadi terasa lebih berantakan, lebih menekan, lebih lembap. Kami gantung tangan-tangan manekin di langit-langit, kami susun cetakan wajah berjejer di ruangan, kami pasang jeruji dan rantai-rantai di sekitarnya. Secara psikis para tokoh ini berada dalam kungkungan, rutinitas yang memenjarakan, maka secara fisik kami coba kasih indikasinya. Elemen-elemen detail itu yang ingin kami eksplor."

Edwin punya hubungan pribadi dengan sejarah gedung tersebut. Pada tahun 2014, Edwin dan Lab Laba-Laba pernah bekerja dari arsip-arsip film seluloid mereka. PFN adalah pabrik film yang digunakan sebagai mesin propaganda Orde Baru yang memproduksi film mulai dari Pengkhianatan G30S/PKI sampai Si Unyil

"Gedung itu punya sejarah yang menyeramkan buat pembuat film; sebagai pabrik propaganda," kata Edwin. "Film itu, bagaimanapun, adalah irisan kesenian dan industri. Bagaimana pemerintah secara sadar menggunakan medium film untuk membentuk pemikiran masyarakat."

Dari konteks itu, diorama yang muncul dalam film menjadi elemen yang lebih berat maknanya. Diorama adalah benda yang lazim ditemukan di pabrik, perumahan, museum dan situs sejarah. Tapi ketika ditempatkan dalam konteks elemen propaganda, sesuatu berubah. “Diorama ini sengaja diciptakan oleh penguasa sebagai bentuk propaganda sejarah. Dan ini jadi menyeramkan ketika kita tahu agenda di baliknya,” ujarnya.

Elemen suara juga mendapat perhatian yang sama seriusnya. Edwin bicara soal bagaimana gemanya di ruangan itu, suara kipas angin yang sayup-sayup, langkah kaki prostetik di awal film, suara api dari kompor, gemercik rebusan air. "Suara nggak kalah gila dengan visualnya. Mereka sama signifikannya," katanya. Salah satu yang paling ia soroti adalah suara pengumuman yang diulang terus-menerus oleh tokoh Bu Maryati: kutipan-kutipan motivasi yang, ketika diputar berulang, “bekerja seperti pengkondisian mental,” kata Edwin. Di asrama Putri dan Ida, ada suara pompa air yang macet, suara keseharian yang sangat terhubung dengan lanskap kemiskinan dalam sistem kapitalistik. "Mungkin kehadirannya tipis-tipis, tapi kita bisa mengalami itu untuk kemudian mempertanyakannya."

zoom-2


Secara format, Monster Pabrik Rambut berbeda dari film-film yang pernah ia buat. Tapi ketika ia mulai menarik benang merahnya, ada pola keresahan yang muncul cukup konsisten. Dalam Kara Anak Sebatang Pohon (2005) muncul persoalan tentang jerat-jerat kapitalisme yang tidak bisa kita hindari. Soal keterasingan dan hubungan disfungsional di Babi Buta Ingin Terbang (2008) dan Postcard from the Zoo (2012). Lalu soal kultur maskulinitas toksik ada di Posesif (2017) dan Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). "Walaupun tidak direncanakan, segala macam yang saya buat sebagian besar modalnya ada di hidup saya," kata Edwin. "Kebanyakan baru saya sadari setelah filmnya selesai."

Ia tidak mengklaim dirinya sebagai orang yang fasih secara ideologis. "Saya nggak berusaha menjadi politis karena saya juga nggak cukup fasih menyuarakan ideologi secara verbal. Tapi saya yakin nilai-nilai yang saya yakini akan terus punya jalan."

Menfo mengamati Edwin dari posisi yang berbeda, sebagai kolaborator yang sudah mengikuti cara kerjanya dari dekat. "Edwin adalah sutradara yang selalu ingin mencoba hal yang baru. Pengulangan atau sesuatu yang bersifat mapan justru bikin dia resah. Justru dia nggak mau di posisi yang nyaman terus-menerus. Semangat independennya mungkin ada pada daya eksplorasinya."

Edwin merespons dengan cara yang sedikit lebih personal: "Mungkin salah satu coping mechanism saya nggak ingin mengulang hal yang sama."

“Apa yang sama dari film saya, walaupun format dan genrenya berbeda, adalah pandangan saya bahwa film adalah sebuah medium pengingat, sebuah alarm,” lanjutnya. “Menyebalkannya, masalah yang kita alami tidak ada yang baru.”

Meskipun di beberapa filmnya cukup naratif, Edwin dikenal dengan cara bertutur yang penuh dengan simbol, sehingga film-filmnya terasa memiliki elemen absurd yang khas. Ia sendiri berpendapat soal bagaimana elemen absurd ini terkait dengan gejala zaman dalam mengonsumsi konten audiovisual. 

“Saya menemukan, hari-hari ini ternyata ada keperluan untuk ‘menjelaskan’. Dan ini terbentuk dari cara kita mengonsumsi cara bertutur yang semakin formulaik, sehingga apa yang ada di luar formula tersebut dianggap baru dan absurd,” terangnya. “Padahal ini bukan sesuatu yang sama sekali baru.”

Logika yang sama berlaku untuk foto analog yang beberapa tahun belakangan kembali digemari. Bagi Edwin yang tumbuh bersama teknologi analog, boleh dibilang ia mengalami kembali teknologi ini sebagai bentuk nostalgia. Namun, bagi generasi yang tidak mengalami era itu, mereka mengalami analog sebagai teknologi baru. "Ini jadi hal menarik bagaimana kita menilik ulang teknologi dan bahkan bahasa sinema yang lahirnya sudah lama, kemudian kita maknai menjadi sesuatu yang baru," terangnya.

Mungkin di situlah Monster Pabrik Rambut menempatkan dirinya: ia menyoroti persoalan laten dengan cara yang “sebetulnya” tidak benar-benar baru. Seperti Godzilla yang muncul sebagai pengingat tentang kerusakan ekologis. Medium film mencoba menggambarkan monster-monster itu dengan cara yang fun

"Pertanyaan utamanya adalah bagaimana caranya agar membuat dunia kita sekarang ini lebih manusiawi?" pungkas Edwin.

Monster Pabrik Rambut tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026.

web-17
web-19
web-23
web-20
web-21
web-18
web-22
web-25
web-24
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.