Taro Okamoto: Seni adalah Ledakan
oleh Dhanurendra Pandji
Di tengah gemuruh Osaka Expo 1970, menjulang patung beton berkerangka baja setinggi 70 meter bak sosok mitologis yang lahir dari mimpi kolektif umat manusia. Sebagai bagian dari ekspo terbesar sepanjang sejarah dunia, sebanyak 64 juta pengunjung dari 77 negara menyaksikan “terbitnya” Taiyo no To atau Tower of The Sun karya Taro Okamoto. Merespons tema “Harmoni dan kemajuan bagi umat manusia” yang diusung Osaka Expo 1970, sang seniman merancang menara ini sebagai penyataan simbolis mengenai siklus waktu, kekuatan kehidupan, dan keberanian untuk menghadapi ketidakpastian masa depan. Setiap elemen dari Tower of The Sun adalah sebuah seruan untuk menghadapi absurditas dunia. Dalam derasnya arus zaman, Tower of The Sun tak berkompromi. Lebih dari lima dekade kemudian patungnya tetap berdiri tegak, merangsang pemikiran reflektif sekaligus memantik sensasi primitif yang universal.
Taro Okamoto adalah seniman avant-garde jepang yang menggunakan lukisan, mural, dan patung sebagai wahana utama kekaryaannya. Di dunia intelektual, Okamoto juga dikenal atas kontribusi teoritisnya akan sejarah budaya dan estetika Jepang, terutama kaitan antara seni keramik era Jomon dengan esetika seni avant-garde khas Jepang. Okamoto mendalami estetika Jepang melalui studi etnografi dan pengalamannya dengan gerakan Surealisme di Paris. Namun, daripada memandang objek-objek etnografi sebagai sesuatu yang terpisah, ia justru memanfaatkan artefak keramik era Jomon secara khusus untuk merumuskan landasan teoritis yang orisinal bagi perkembangan seni avant-garde di Jepang.
Okamoto lahir di Kawasaki, 26 Februari 1911, dari pasangan Ippei Okamoto dan Kanoko Okamoto. Ayahnya, Ippei Okamoto, adalah seorang kartunis sementara ibunya, Kanoko Okamoto adalah seorang sastrawan. Besar dalam keluarga seniman menginspirasi Okamoto muda untuk mengambil kursus melukis pada seorang pelukis gaya barat termahsyur di Jepang. Ia sempat menempuh studi formal seni lukis di Tokyo School of Fine Arts sebelum perjalanan seni dan intelektualitasnya berkembang di Eropa. Pada masanya di Paris, ia mengikuti kelas-kelas filsafat, utamanya estetika, di Universitas Sorbonne. Seperti halnya para seniman Paris di tahun-tahun itu, ia kemudian semakin tertarik untuk mempelajari sejarah estetika melalui studi-studi etnografi, yang kemudian menjadi kacamatanya dalam menganalisa budaya Jepang.
Di Paris, ia membangun jaringan dengan tokoh-tokoh seni avant-garde terkemuka seperti termasuk André Breton, Kurt Seligmann, Max Ernst, Pablo Picasso, Man Ray, Robert Capa, dan Gerda Taro. Pengalamannya melihat lukisan Pitcher and Bowls Fruit (1931) karya Pablo Picasso secara langsung dengan segera menginspirasi Okamoto untuk mengikuti arus seni Abstrak. Dari tahun 1933 hingga 1937 ia menjadi bagian dari kelompok Abstraction-Création, mengimbangi pengaruh surrealisme yang diinisiasi André Breton. Meskipun kemudian ia sering diasosiasikan dalam gerakan surrealisme dan lukisannya Itamashiki ude “Wounded Arm” secara khusus disertakan dalam Pameran Surealis Internasional di Paris pada tahun 1938.
Akibat invasi Jerman ke Prancis, ia memilih kembali ke Jepang pada tahun 1940. Di tengah masa Perang Dunia Kedua, pemikirannya tentang pertentangan mendasar antara dua aliran seni yang selama ini dianutnya mulai berkembang. Pada akhirnya, pada tahun 1947, ia merumuskan prinsip artistik baru yang dikenal sebagai Taikyoku-isme atau Polarisme. Gagasan itu lahir dari kuliah-kuliah filsafat Hegel saat ia berada di Paris. Ia mempertanyakan dialektika dan menolak untuk mendamaikan tesis dan antitesis dalam gagasan sintesis. Menurutnya, hal-hal yang berlawanan tetap dapat terpisah dalam fragmen-fragmen tanpa adanya resolusi. Penerapannya pada seni, Okamoto memandang lukisan abstrak sebagai proses sintesis yang menyatukan warna, gerakan, dan sensasi menjadi satu kesatuan ekspresi. Oleh karena itu, dalam lukisannya yang berjudul The Law of the Jungle (1950), ia mendekonstruksi prinsip ini. Lukisan tersebut memperlihatkan elemen-elemen yang terfragmentasi secara permanen — setiap garis dan warna berdiri sendiri, tanpa membentuk hubungan yang jelas satu sama lain. Tidak ada pusat atau narasi yang memandu mata penonton; sebagai gantinya, terdapat ketegangan yang konstan antara dimensi kerataan dan kedalaman, kejelasan dan ambiguitas, serta bentuk representasional dan abstrak. Karya-karya lain seperti Dawn (1948) dan Heavy Industry (1949) juga mencerminkan prinsip polarisme ini, di mana kontras visual dan konseptual menciptakan dialog dinamis yang terus-menerus menantang persepsi penonton.
Di penghujung era 50-an, Taro Okamoto mulai mengeksplorasi dunia patung tiga dimensi. Karya-karyanya menghadirkan bentuk-bentuk unik dan menggugah, seperti Alien Named Paira (1956), Young Clock Tower (1996), Tree of Children (1985), Sun Tower (1985), dan The Gate to the Dynamism (1993). Dalam menciptakan patung-patung ini, Okamoto terinspirasi oleh artefak arkeologis dari periode Jōmon, terutama gerabah dan figur dogū yang khas. Gagasan ini dituangkannya dalam esai berjudul “Jōmon Doki Ron: Shijigen to no Taiwa” atau “On Jomon Ceramics: Dialogue with the Fourth Dimension”, yang memperkenalkan pandangan estetikanya secara mendalam.
Menurut Okamoto, pola-pola ekspresif pada gerabah Jōmon mencerminkan energi mentah yang penuh gairah, jauh dari kesan terkendali. Bagi Okamoto, ini adalah ekspresi otentik yang telah menghilang dalam seni Jepang modern. Sebaliknya, estetika era Yayoi, yang datang setelah Jomon, cenderung menampilkan kesederhanaan dan harmoni yang tenang. Meskipun gaya Yayoi kerap dikaitkan dengan konsep tradisional Jepang, Okamoto justru melihat potensi revolusi artistik dalam kekuatan liar khas Jōmon. Pandangan ini membawanya pada pendekatan primitivisme, sebuah konsep yang ia tarik dari studi etnografi dan wacana Surealisme tentang “The Other” atau “Liyan.” Bagi Okamoto, seni primitif mewakili bentuk ekspresi yang mendahului logika, sesuatu yang pra-logis dan penuh intuisi. Dengan mengadopsi semangat ini, ia percaya bahwa seniman muda Jepang dapat membebaskan diri dari belenggu estetika masa lalu. Melalui penghancuran batas-batas tradisional dan membangun ulang ekspresi artistik yang baru, Okamoto mengusulkan sebuah jalan untuk menjadikan seni Jepang sejajar dengan seni modern Barat.
Menilik kembali Tower of the Sun yang dibangun untuk menyambut Osaka Expo 1970, warisan Taro Okamoto tidak hanya terpatri dalam ranah seni avant-garde, tetapi juga meresap ke dalam kultur pop. Pada tahun 1997, gitaris Naoko Yamano dari band pop/punk Shonen Knife merilis lagu "Tower of the Sun" sebagai tribute kepada ikon Osaka tersebut. Dalam manga 20th Century Boys karya Naoki Urasawa, menara ikonis itu menjadi simbol utama "cult of the friend", sebuah organisasi jahat yang berusaha menguasai dunia. Di dunia Pokémon, desain Menara Sunyshore tampak sebagai penghormatan langsung terhadap Tower of the Sun. Bahkan dalam dunia anime Naruto, karakter Deidara, seorang seniman dengan obsesi terhadap kehancuran, menggemakan esensi karya Okamoto melalui serangan ledakan bunuh dirinya yang menyerupai Tower of the Sun.
Pada akhirnya, Taro Okamoto bukan sekadar seniman yang menciptakan karya-karya monumental, tetapi juga seorang pemikir yang menantang cara pandang kita terhadap seni. Baginya, seni bukanlah sekadar objek estetis yang diamati, melainkan ledakan ekspresi yang lahir dari benturan gagasan, emosi, dan kontradiksi. Ungkapan legendarisnya, "Seni adalah ledakan!" bukanlah sekadar metafora kosong, melainkan pernyataan tegas tentang semangat kreatif yang meledak-ledak, menolak stagnasi, dan terus merayakan kekuatan hidup. Dalam setiap ekspresi visual, dalam setiap simbol yang terinspirasi olehnya, gema dari ledakan seni Okamoto masih terasa hingga hari ini.