Kareem Soenharjo: Fragmen Memori, Seni, dan Musik

Penciptaan adalah upaya untuk menyimbangi, menjadi perantara antara konsep dan praktik, jiwa dan raga, citra dan suara. Kerja ini adalah usaha menghubung yang mendalam maupun yang biasa untuk mencari makna. Bagi Kareem Soenharjo, mencipta sudah menjadi kebiasaan. Perjalanannya telah menanamkan keyakinan tenang terhadap gaze (artinya pandangannya) yang ia miliki–yang bersifat kontemplatif dan tajam. Ia tidak menyebut dirinya sebagai polimat, namun ia bergerak sepertinya: bereksperimentasi dengan musik, ilustrasi, lukisan, desain. Di Instagram dan X, Kareem merilis fragmen karyanya, sebagai klip demo, sketsa atau editan foto. Mereka adalah tanda, sebuah gestur oleh seorang seniman yang tidak terobsesi untuk dilihat, tetapi untuk pencarian jati. Karyanya menceritakan seorang pria yang mencari makna—bukan sebagai upaya solutif, tetapi untuk bertahan hidup.

Hal ini terutama terlihat dalam musiknya, yang telah dirilis di bawah berbagai alias: BAP., BAPAK, REEMO, YOSUGI. Setiap nama menandakan identitas baru sebagai eksperimen dalam suara dan bentuk. Telinga Kareem tertarik pada ritme–yang adalah kompasnya–dan membimbingnya melalui lingkungan sonik tanpa genre. Dalam wawancara sebelumnya, ia mengatakan bahwa konsep genre telah membatasinya, terutama sebagai respons terhadap kemajemukan dunia saat ini, yang menurutnya mencerminkan kompleksitas diri (atau apa yang disebut Kareem sebagai 'poststruktural'); sebagai bentuk yang terpecah dan hibrid. Produksinya mencerminkan bentuk ini: intuitif, bertekstur, kaleidoskopik.

Album pertamanya., MOMO’S MYSTERIOUS SKIN (2021), menandai kristalisasi persona BAP. Sampul biru Yves Klein-nya mewujudkan kekayaan simbolismenya: berani, ritmis, modernis, dan menjadi pembuka visual yang mengisyaratkan lapisan di dalamnya. Album ini bersifat kriptik dan referensial, dipenuhi dengan acuan pada Fullmetal Alchemist, Sade, Peggy Gou, Agus Suwage, Gerhard Richter, dan White Shoes & the Couples Company. Dengan merujuk pada panthenon ini, Kareem secara bersamaan menghormati pengaruhnya dan menempatkan dirinya di antara mereka. Visual yang menyertainya–kolase berulang dari wajahnya sendiri, yang berbaur dengan referensi seni–menunjukkan posisinya sebagai saksi sekaligus subjek. Dalam MOMO, ia terbentuk.

Namun, sesuatu berubah dengan m.album tiga (2024). Pemujaan yang telah dibangun BAP. mulai retak; yang muncul bukanlah citra BAP. sang rapper, tetapi Kareem sebagai visioner di puncaknya–menjauh dari keterikatannya pada hip-hop (baca: sebagai BAP.) dan mengeksplorasi genre multisemesta. Album baru ini intim, lembut, bahkan domestik. Sampulnya–gambar masa kecil oleh kakaknya, Ula Zuhra–seakan memberi tahu: kita memasuki ruang kenangan, bukan mendekati misteri. Ketika ditanya mengapa ia menggunakan gambar tersebut, Kareem tidak merasa perlu untuk merasionalisasi atau memberikan alasan. Tanggapan itu sendiri menjadi penjelasan: ia mencipta berdasarkan perasaan, bukan strategi. "Desain memiliki prinsip utilitarian," katanya. "Itu harus memenuhi tujuan tertentu." Dalam kasusnya, visual bukanlah branding, melainkan tekstur yang menghidupkan dunianya.

Ambil contoh "mimimpipi." Lagu ini menceritakan kehancuran yang tenang: hilangnya kepolosan dan kejutan saat menyadari kemanusiaan keluarga kita. Kareem menyanyikan "Now I remember crying ever since. All I got is this", diiringi oleh pemandangan awan neon yang berputar tanpa henti—mencerminkan kehampaan eksistensial yang menandai masuknya ke masa dewasa. Tidak ada titik diam saat warna-warna bertabrakan, berdarah, berdenyut; menciptakan evokasi sensorik dari keteruraian. Benang eksistensial ini berlanjut melalui "bath song" dan "hokben," di mana Kareem menemukan yang tak terbatas dalam yang biasa. Cinta, kecanduan, makanan, kosmos—semuanya menyatu. Dalam "bath song," ia menyanyikan, "the lightness of being is unbearable. I pull you closer and closer." diiringi oleh pengulangan mata, mulut, denyut cahaya. Kita naik ke dalam ketidaksadaran palsu, terjebak dalam gerakannya. "hokben" lebih dingin, lebih sepi. Kita mengikuti Kareem dalam ziarah jam 3 pagi ke Hoka-Hoka Bento. Ia menceritakan detail perjalanannya melalui puisi lisan diiringi oleh rangkaian gelas berkedip, sinar bulan, tangan. Fragmen kenangan menumpuk, bingkai demi bingkai. Dalam mencoba mengingat, ia mengabadikan.

Saat album mendekati akhir, suara dan visual bergeser. Badai sensorik memberi jalan pada ketenangan, menuju pengabdian. "big sis," "angee song," dan "tampopo (for my mother)" datang seperti pagi setelah hujan–tenang dan jernih. "big sis" menampilkan perpanjangan dari sampul album–membentuk separuh lain dari Kareem yang kita temui di awal. Kareem menyanyikan keinginannya untuk berada di usia Ula, untuk berada lebih dekat dengannya dalam waktu. "angee song" menceritakan pengalaman nyaris mati saat turbulensi dalam penerbangan. Dalam momen itu, Kareem hanya memikirkan pasangannya, Angee. Cinta, menurutnya, adalah benang yang mengikat kita pada kehidupan, namun melalui ingatan akan kematian kita mampu menghargai mereka yang kita cintai–kilas balik ke gambar jendela pesawat yang berkilauan dengan sinar matahari dan badai. "tampopo (for my mother)," trek terakhir, adalah instrumental, ode untuk yang ambient dan sinematik. Mungkin kita bisa menerimanya sebagai referensi pada kata Jepang untuk dandelion atau film Tampopo karya Juzo Itami. Bagaimanapun, trek ini terasa seperti adegan penutup: kesaksian tenang atas perjalanan yang telah kita tempuh. Kita kembali ke biru Yves Klein, kita kembali ke awal.

"Aku lagi kayak om-om," canda Kareem. Kami berada di Jakarta Selatan, menyeruput air di bawah cahaya sore. Ia menceritakan rutinitas barunya: bangun jam 7 pagi, menyeduh kopi, melukis. Saat ia merenungkan karier musiknya, ia mengurai niatnya dalam penciptaan: "Aku tertarik pada hal-hal yang sulit. Aku menyimpan kebahagiaanku untuk diriku dan orang-orang yang kucintai."

Ilustrasi komik Ula dan praktik melukis cat air ibunya telah membentuknya, perlahan, selama bertahun-tahun, pengaruh Ula terlihat melalui pengalaman imersif yang dibawa Kareem ke dalam albumnya, di mana ia mengalirkan tekstur, penglihatan, dan lanskap ke dalam suaranya, menjadikan musik sebagai tindakan mendengarkan dan melihat. Sekarang, melukis telah menjadi ritualnya sendiri. Ia mulai membagikan karyanya secara daring–beberapa selesai, lainnya masih dalam proses. "Aku sedang mencari jati diri," katanya. Melukis telah menjadi medium untuk introspeksinya, perjalanan untuk "pencarian jiwanya”.

Banyak dari lukisan terbarunya adalah potret diri, tetapi tidak ada satupun memiliki pakem yang konvensional. Dalam disassociating (2025), profilnya larut dalam pigmen–setengah wajah, setengah warna, tertangkap dalam tindakan erosi. Pastel memudar ke dalam kegelapan: merah muda, abu-abu, ungu. Sebuah metamorfosis yang menghantui. Kanvas lain, lebih sederhana namun lebih menyeramkan, menunjukkan sosok tanpa wajah berdiri di lanskap suram, berdiri tanpa baju dan terbuka. Warna-warna; biru dingin, abu-abu, hitam–membentuk semacam kiamat yang tenang. Subjeknya (kemungkinan besar Kareem) menatap kita kembali, tanpa fitur. Ia mencampur bahan (misalnya minyak, cat air, pensil) untuk menciptakan kedalaman dalam teksturnya, mungkin sebagai upaya untuk merawat pengikatan antar realitas. Potret kedua, katanya, membuat Angee terganggu. "Dia pikir itu menakutkan. Dan tentu saja, dia benar. Dia selalu benar." Ia mengubah lukisan itu, bukan untuk menghapus kebenarannya, tetapi untuk menghadapinya kembali. Kareem merangkul revisi–terutama oleh orang-orang yang dicintainya–dalam prosesnya, saat mereka mengurai sisi-sisi yang tidak dikenalnya; menjadi latihan untuk menghadapi dirinya sendiri.

Bagi Kareem, seni adalah cara untuk menambatkan dirinya (dalam keberadaan). Ia merasa dirinya tertutup dalam penciptaan–lebih suka duduk dengan pertanyaannya dalam kesendirian. Ini adalah praktik meditatif yang menuntutnya untuk membongkar cengkeramannya pada realitas material dan menyelami yang tidak diketahui. Apa arti keberadaan kita? Jawabannya, ia percaya, lebih dekat dari yang kita pikirkan. Ia berkata: "Aku percaya bahwa kamu membuat makna–selalu. Dan makna selalu pribadi," katanya. "Jadi karyamu selalu pribadi."

Ketika kami menanyakan lagi apa yang ada di pikirannya, ia mengulangi frasa tersebut: "Apa pun yang aku buat harus terasa benar... itu harus melayani hal yang lebih besar di luar apa yang aku coba buat." Baik itu musik atau lukisan, jelas ada ketenangan dalam pandangannya. Jelas, Kareem tidak lagi membangun persona. Tidak ada alias atau audiens untuk dipertunjukkan. Ia kembali pada tindakan penciptaan itu sendiri–bukan sekadar sebagai bentuk ekspresi, tetapi sebagai cara untuk menjadi. "Selama bertahun-tahun ini, aku tidak pernah menganggap diriku sebagai manusia, dan ke depan aku ingin mencipta untuk hidup."

off-the-records---BAP-22
off-the-records---BAP-23
off-the-records---BAP-24
off-the-records---BAP-25
off-the-records---BAP-27
off-the-records---BAP-28
off-the-records---BAP-29
off-the-records---BAP-30
About the Author

Sabrina Citra

Sabrina Citra is a researcher who is based in Jakarta. She is currently interested in the intersection of aesthetics, cultural studies and language/linguistics.