Identitas ARTSUBS: Visualisasi Pertemuan dan Relasi
Pada hari Sabtu (26/10), ARTSUBS akan resmi dibuka untuk umum di Pos Bloc Surabaya. Acara ini dipelopori oleh Direktur Utama pameran dan pemilik Jagad Gallery, Rambat. ARTSUBS berposisi sebagai pameran seni yang inklusif dan mengedepankan perkembangan seni. Tim ARTSUBS mencakup beberapa nama yang familiar, termasuk kurator-kurator ternama Asmudjo J. Irianto yang juga menjabat sebagai Direktur Seni, dan Nirwan Dirwanto, serta Andi Rahmat, Direktur dan Desainer Utama di studio desain Nusaé, yang berperan sebagai Direktur Visual. Andi dan tim Nusaé dipercaya untuk menciptakan identitas visual edisi perdana pameran seni ini.
Andi pertama kali terlibat dengan ARTSUBS ketika Rambat membentuk tim untuk mewujudkan visinya tentang pameran seni yang berbasis di Surabaya. Sebagaimana diingat Andi, ia dan timnya direkomendasikan kepada Rambat oleh beberapa orang. Saat Rambat mengunjungi kantor Nusaé di Bandung, ia menyatakan keinginannya Nusaé terlibat dalam ARTSUBS, dan juga menekankan pentingnya keterlibatan Andi sebagai bagian dari tim internal untuk memastikan persiapan acara dilakukan dengan baik.
“Dalam brief awal, dia pengen visualnya, pertama, untuk merepresentasikan Surabaya, karena konteks lokasi sangat penting, dan kedua, bagaimana kita memastikan identitasnya kuat?” jelas Andi. Ia melanjutkan bahwa tim ARTSUBS menyadari mereka adalah pendatang baru di dunia pameran seni Indonesia, dengan Art Jakarta dan ARTJOG sebagai dua pameran seni tahunan yang paling dinanti di negara ini. “Jadi, secara visual, bagaimana kita mengkomunikasikan kepada publik bahwa, ini adalah acara pameran seni, tetapi kami menyajikan sesuatu yang berbeda?” ujar Andi. Secara pengadaan acara, ARTSUBS mirip dengan ARTJOG, karena mereka langsung mengundang seniman untuk terlibat, berbeda dengan Art Jakarta yang mengundang galeri. Namun, ARTSUBS juga membanggakan diri sebagai ruang yang lebih inklusif. Andi menjelaskan bahwa peserta ARTSUBS dapat dibagi menjadi tiga kategori; seniman baru, seniman mapan, dan seniman master. “Agenda lainnya, kita juga ingin menunjukkan bagaimana Surabaya, yang lebih dikenal sebagai kota niaga, secara budaya kini kesenian juga menjadi hal yang penting dan populer lagi,” imbuh Andi.
Identitas visual yang dikembangkan oleh Andi dan tim Nusaé mencerminkan bagaimana ARTSUBS menempatkan inklusivitas sebagai salah satu nilai inti. Konsep keseluruhan menyoroti pameran seni ini sebagai titik pertemuan beberapa pihak dalam ekosistem seni Indonesia—sebuah ungkapan bahwa ekosistem ini melampaui profesi seniman dan menekankan keterkaitan antara seni dan profesi serta disiplin ilmu lainnya. Nusaé memiliki dua poin prioritas dalam proses desain mereka: bagaimana mengembangkan identitas visual yang khas untuk pameran seni secara keseluruhan dan bagaimana mengkomunikasikan tema acara, “Ways of Dreaming”?
“Secara visual, kami fokus mengekspresikan pertemuan berbagai kelompok di ARTSUBS. Acara ini mengumpulkan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat dan profesi melalui seni untuk membangun relasi, berdiskusi, dan berdialog. Karena, acara ini sejatinya bertujuan untuk menyoroti bagaimana seni dapat memberikan dampak positif dan meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari, khususnya di Indonesia. Jadi, ini adalah tempat untuk bertemu dan membangun relasi melalui seni,” jelas Andi. Ini adalah ide utama di balik penggunaan elemen titik sebagai elemen visual utama. Titik-titik ini merepresentasikan kelompok atau bidang yang berkumpul di ARTSUBS untuk meningkatkan dampak seni terhadap masyarakat.
Fleksibilitas elemen titik atau bulat sangat efektif dalam penggunaannya sebagai elemen tipografi dalam semua komunikasi acara—sebagaimana terlihat di media sosial ARTSUBS. Titik-titik ini juga berperan dalam mengkomunikasikan tema “Ways of Dreaming” melalui titik-titik raster dalam ilustrasi beberapa profesi. “Kami tidak ingin terlepas sepenuhnya dari realitas kehidupan sehari-hari di Indonesia, khususnya di Surabaya, dalam cara kami menerjemahkan ‘Ways of Dreaming’. Karena merekalah orang-orang yang mempraktikkan berbagai cara untuk bermimpi. Karena tema ini berkaitan dengan mimpi, kami tidak ingin visualnya terlalu literal atau eksplisit. Karena mimpi berada di antara yang nyata dan tidak nyata... antara yang jelas dan tidak jelas,” jelas Andi.
Dengan menggunakan titik-titik, Andi bertujuan untuk meninggalkan kesan yang berbeda yang sangat terkait dengan ARTSUBS, terutama karena ini akan menjadi edisi perdana pameran tersebut. “Saya ingin mereka berpikir, ‘Oh, yang dots-dots, ARTSUBS kan?’” ungkap Andi. Menegaskan perbedaan ini sangat penting untuk mengatasi salah satu tantangan utama dalam merancang identitas visual ini—menetapkan ARTSUBS sebagai acara yang berdiri sendiri di samping pemain lain yang sudah ada dan mapan seperti Art Jakarta dan ARTJOG. “Bagaimana caranya kami membuat sesuatu yang simple tetapi tetap merepresentasikan Surabaya?” tanya Andi. Ini adalah alasan di balik penggunaan warna merah di identitas visual ARTSUBS. “Surabaya itu, kalau saya tanya ke orang-orang di sana, ‘Surabaya itu apa kalau disebut dengan satu kata kunci?’ ‘Wani!’,” jelas Andi. Karakter wani inilah alasan mengapa Andi merasa bahwa penggunaan merah yang mencolok sangat penting dalam merepresentasikan kota ini, dan dengan demikian, Andi menjelaskan bahwa skema warna ini akan dipertahankan dalam edisi-edisi mendatang acara tersebut.
Identitas visual ARTSUBS yang dirancang oleh Nusaé memiliki tanggung jawab besar untuk mengenalkan acara ini di ruang publik sebagai kendaraan visual yang merepresentasikan pameran seni dalam edisi perdana. Acara ambisius ini dengan identitas visual yang bahkan lebih ambisius merepresentasikan beberapa ide luas sembari tetap berakar pada komunitas di kota tuan rumah mereka.