Desain “Pertunjukan Dalam Dinamika” di Tangan Djali

Pada 2025, Perunggu merilis album kedua bertajuk Dalam Dinamika. Mengusung tema transisi dan pendewasaan diri, album ini kemudian dipertemukan dengan para penggemar lewat Pertunjukan Dalam Dinamika, sebuah konser tunggal yang imersif. Kesuksesannya di Jakarta pada November 2025 mendorong Perunggu untuk membawa Pertunjukan Dalam Dinamika ke tiga kota lainnya: Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung. Namun, rangkaian konser ini tentu akan terasa “hambar” jika tidak berjalan bersama rancangan visual yang selaras dan melengkapi. Ahmad Rizzali, atau yang lebih dikenal dengan Djali, adalah sosok kreatif di balik keputusan artistik Pertunjukan Dalam Dinamika.

“(Gue) ngerjain hampir semua, sih, dari identitas, merchandising, juga visual panggungnya,” cerita Djali saat berkunjung ke kantor kami. Djali, dengan banyaknya pengalaman mendesain dan mengilustrasikan kebutuhan kreatif di scene musik, dipercaya oleh Perunggu untuk menerjemahkan musik Dalam Dinamika ke berbagai kebutuhan artistik yang mendukung rangkaian konser band tersebut. Jika melihatnya dari lingkaran luar, apa yang Djali kerjakan begitu kompleks karena “wajah” Pertunjukan Dalam Dinamikaada di tangannya. Namun, bagi Djali, kerja dengan Perunggu membuat proses kreatif yang terlihat berat ini begitu menyenangkan. “Mereka datang sudah membawa konsep yang dibikin oleh Maul (vokalis dan gitaris Perunggu). Kemudian mereka membebaskan gue untuk kembangin konsepnya,” kata Djali.

zoom-1

Tidak jauh berbeda dari proyek-proyek yang pernah Djali kerjakan sebelumnya, proses kreatif Djali diawali dengan mempelajari musik di album Dalam Dinamika dan apa yang ingin Perunggu sampaikan lewat musik-musiknya di album ini. “Mereka lagi ngomongin masa transisi ya dari kehidupan kerja, kemudian juga sebagai individual,” ungkap Djali. Tapi tantangannya adalah bagaimana konsep tersebut bisa diterjemahkan untuk kebutuhan visual sebuah pertunjukan yang bisa dibilang sangat “360” – ditambah ada tiga kota berbeda untuk rangkaian konser ini. 

Akhirnya, Djali pun mengambil inspirasi dari transisi periode prasejarah: Zaman Batu, Zaman Perunggu, dan  Zaman Besi untuk tiga kota yang berbeda, yaitu Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung. Logo Perunggu yang sebelumnya juga dikembangkan dan dirancang oleh Djali pun didesain sesuai dengan setiap zaman. “Buat risetnya itu mempelajari tekstur dari setiap zaman untuk diaplikasikan ke logo Perunggu untuk setiap kota yang berbeda,” cerita Djali. Tidak hanya tekstur, Djali juga bermain dengan warna yang berbeda untuk setiap kota. Inspirasi Djali dalam memilih warna berasal dari proses natural elemen perunggu sendiri. Seiring berjalannya waktu, warna pada perunggu akan memudar karena proses oksidasi alami, pembentukan lapisan patina, dan penurunan kualitas lapisan. Proses ini tentunya mengubah tampilan logam dengan munculnya lapisan cokelat kusam, hijau kebiruan seperti cangkang telur bebek, serta lapisan oranye pudar.

Ketiga warna tersebut dipilih Djali untuk tiga identitas visual Pertunjukan Dalam Dinamika yang kemudian diturunkan ke berbagai kebutuhan visual, salah satunya merchandise. Ada tantangan tersendiri lagi dalam mendesain merchandise untuk Perunggu yaitu ekspektasi penggemar Perunggu yang nantinya akan menjadi pembeli merchandise tersebut. “Pendapat penggemar berbeda-beda, ya, terutama yang di media sosial. Ada yang suka, tapi juga ada yang kritik,” cerita Djali. Walaupun ada kekhawatiran dan keraguan, Djali berhasil mendesain merchandise yang diminati penggemar Perunggu dan habis hanya dalam hitungan menit.

zoom-2

Kerja Djali tidak berhenti di identitas dan merchandise. Ia pun merancang visual untuk panggung Pertunjukan Dalam Dinamika yang juga tidak sesederhana itu. Mengingat visual panggung adalah sesuatu yang berbeda dari hal-hal yang pernah ia kerjakan sebelumnya, Djali memilih untuk bermain warna dengan warna yang vibran dan tipografi yang bergerak. Berbeda dengan treatment merchandise yang menggunakan warna yang cenderung pudar, untuk panggung, Djali memilih warna yang lebih berani seperti merah, ungu, dan biru elektrik. 

Apa yang Djali kerjakan untuk Pertunjukan Dalam Dinamika merupakan sesuatu yang kompleks karena ia membangun sebuah sistem visual yang mampu menjembatani narasi album, pengalaman konser, hingga buah tangan yang kemudian menjadi memori yang dibawa pulang oleh setiap penggemar yang datang dan menyaksikan. Setiap elemen yang Djali rancang berangkat dari gagasan yang sama, lalu berkembang menjadi pengalaman visual yang utuh bagi setiap kota di rangkaian tur Pertunjukan Dalam Dinamika.

web-19
web-20
web-21
web-22
web-23
web-24
web-25
web-26
web-27
web-28
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.