Pengaruh Krisis Ekonomi Global pada Desain Kemasan

Penutupan Selat Hormuz menandai awal dari krisis ekonomi global, yang diperkuat oleh lonjakan harga minyak dan terhentinya aktivitas pengiriman. Belum ada solusi maupun strategi yang benar-benar terlihat jelas di antara negara-negara maupun institusi internasional, memperlihatkan fragmentasi tatanan ekonomi-politik-sosial transnasional sekaligus memicu keresahan publik. Ketidakpastian kini mengakar sebagai “normalitas” baru dalam menavigasi reruntuhan tatanan global, ketika masyarakat mulai berupaya menyelamatkan diri melalui penimbunan kebutuhan pokok maupun pengorganisasian komunitas, dan pola pikir kita dipaksa untuk selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Ketegangan ini semakin diperparah oleh terus meningkatnya biaya produksi dan harga barang maupun jasa, terlihat dari banyaknya bisnis lokal yang mulai mengumumkan daftar harga “penyesuaian” untuk mengakomodasi kenaikan biaya bahan baku, di tengah keluhan masyarakat terhadap membengkaknya pengeluaran belanja mingguan. “Saya tidak tahu kenapa sekarang perlu Rp250.000 hanya untuk membeli kebutuhan dasar. Saya cuma membeli buah, sayur, daging, dan perlengkapan mandi. Ini membuat saya merasa tidak bisa lagi berharap keadaan akan membaik,” ujar seorang teman.

Di tengah gelombang inflasi, harga kemasan dan plastik turut mengalami kenaikan, mendorong bisnis dan industri untuk memangkas biaya serta menyusun ulang strategi produksinya. Di Indonesia, masyarakat mengambil langkah sendiri dengan mencari alternatif bahan kemasan, seperti daun pisang dan serat singkong yang digunakan sebagai wadah makanan dan minuman. Respons ini memicu diskusi daring karena dianggap menunjukkan “semangat inovatif” masyarakat Indonesia, sekaligus kemampuan untuk menemukan solusi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan — menjadi secercah harapan di tengah suramnya situasi global.


Di Jepang, Calbee menjadi salah satu perusahaan berskala internasional pertama yang menerapkan langkah drastis pada kemasan produknya. Sebagai merek makanan ringan yang populer, Calbee telah membangun “kehangatan khas” melalui desain kemasannya yang ramah dan sangat bergantung pada penggunaan warna-warna blok serta ilustrasi visual. Namun, Calbee baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan kemasan baru dengan desain hitam-putih mulai 25 Mei 2026. Keputusan ini diumumkan sebagai bagian dari inisiatif perusahaan untuk “mengurangi beban lingkungan akibat plastik berbasis petroleum”, yang diterapkan pada lini produk mereka, mulai dari keripik dalam kemasan hingga standing pouch.

Perubahan ini sepenuhnya menggeser citra visual Calbee, yang selama ini dikenal lewat sistem desain yang mengasosiasikan warna-warna solid dengan varian rasa, serta kehadiran maskot kentang Calbee dan visual produk yang menampilkan detail tekstur maupun bentuk camilan mereka.

Saat ditanya mengenai perubahan mendadak tersebut, juru bicara Calbee menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh kenaikan harga “bahan baku”, khususnya Naphtha, yaitu produk sampingan petroleum yang digunakan dalam proses produksi tinta. Pernyataan ini menunjukkan ketergantungan ekonomi global terhadap petroleum bukan hanya sebagai bahan bakar transportasi, tetapi juga sebagai komponen penting dalam proses manufaktur.


zoom-2
Image Credit: CNN

Bahkan, sebelum Selat Hormuz ditutup, diketahui bahwa 40% pasokan Naphtha di Jepang berasal dari Timur Tengah, dan kini pemerintah Jepang mulai mengambil langkah untuk mengalihdayakan pasokan tersebut dari Amerika Serikat.

Jika direfleksikan lebih jauh, rangkaian situasi ini memperlihatkan betapa saling terhubungnya sistem ekonomi global kita, yang mungkin sekaligus membuka kesempatan untuk meninjau ulang strategi perdagangan luar negeri serta mendorong solusi optimal demi memperkuat dan mempertahankan ekonomi lokal. Tidak ada pendekatan tunggal yang dapat diterapkan secara universal, tetapi yang paling mendesak saat ini adalah implementasi kebijakan yang responsif terhadap konteks masing-masing negara. Ekonom, pengusaha, pejabat pemerintah, dan pembuat kebijakan memegang tanggung jawab terbesar untuk memitigasi perubahan ini semaksimal mungkin, serta membawa perekonomian menuju pemulihan.


About the Author

Sabrina Citra

Sabrina Citra is a researcher who is based in Jakarta. She is currently interested in the intersection of aesthetics, cultural studies and language/linguistics.