Siklus Meditatif Albert Yonathan Setyawan

"A space of a place in a space that is a place in a space of the universe. Within from without—outward to inward—inside of the outside. Past and present exist at the same time in memories of a place or any place,"  tulis Albert Yonathan Setyawan dalam sebuah pamflet kecil yang ia buat untuk pameran tunggalnya, Hypnagogia | Tracing Time. Pameran ini menempatkan pengunjung dalam ruang yang hening, mengajak mereka merenungkan repetisi, pola, dan siklus keberadaan yang tak pernah benar-benar berakhir.

ara contemporary mempersembahkan pameran tunggal seniman Indonesia yang berbasis di Tokyo ini, yang sebelumnya mewakili Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2013. Melanjutkan diskursus yang telah dibangun melalui pameran tunggalnya di Jogja National Museum (2023) dan Tumurun Museum (2024), Hypnagogia | Tracing Time mengeksplorasi pertanyaan mengenai eksistensi dalam waktu dan ruang melalui karya-karya terracotta, gambar, dan video; praktik yang dibentuk oleh repetisi, proses material, serta gestur meditatif.

Unsur meditatif meresap ke dalam praktik Albert, terlihat bukan hanya pada karya-karya fisiknya, tetapi juga pada proses repetitif dan intensif yang melatarbelakangi penciptaannya. Sejak 2018, ia bekerja secara eksklusif dengan terracotta, material yang ia anggap memiliki kedekatan dengan akar budaya dan geografisnya. Lama diasosiasikan dengan objek-objek domestik dalam tradisi gerabah di Indonesia, terracotta membawa resonansi tubuh sekaligus sejarah dalam praktiknya.

Melalui tanah liat, Albert merefleksikan pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai waktu, keberadaan, dan eksistensi. Salah satu fokus utama dalam pameran ini adalah keterlibatannya yang berkelanjutan dengan repetisi melalui teknik slip-casting, metode yang kerap diasosiasikan dengan produksi industri dan reproduksi massal. Namun, dalam praktik Albert, repetisi bergerak melampaui efisiensi dan reproduksi yang presisi. Sebaliknya, tindakan yang diulang secara terus-menerus perlahan mentransformasi bentuk itu sendiri, menelusuri ketegangan antara permanensi dan perubahan, presisi dan erosi, kehadiran dan kehilangan.

Eksplorasi ini terwujud dalam Annica, rangkaian karya yang terdiri dari lebih dari 250 objek terracotta yang direplikasi melalui slip-casting menggunakan satu cetakan yang sama. Seiring dengan setiap hasil cetakan yang perlahan kehilangan detail dan definisi akibat penggunaan berulang, karya ini merefleksikan transformasi sekaligus memperlihatkan jejak waktu melalui kehadiran materialnya. Annica menjadi alat observasi atas segala hal yang terus berubah di sekitar kita.

Melalui Hypnagogia, Albert juga memperluas eksplorasinya terhadap tema perubahan melalui komposisi modular yang berangkat dari ruang arsitektural dan interior. Bentuk-bentuk geometris yang diulang disusun menjadi fragmen-fragmen spasial yang terinspirasi dari perkembangan lanskap kota urban yang bergerak begitu cepat – struktur-struktur yang pada akhirnya kehilangan koherensinya.

Pameran ini juga menghadirkan Squaring the Circle – Circling the Square, karya video tiga kanal yang mendokumentasikan upaya Albert secara berulang untuk mengubah kubus menjadi bola dan sebaliknya. Setiap kegagalan menyoroti runtuhnya sistem ideal ketika dihadapkan pada repetisi, ekspansi, dan waktu.

Melalui karya-karya ini, Hypnagogia | Tracing Time pada akhirnya merefleksikan hakikat eksistensi dan kemustahilan untuk benar-benar lepas dari waktu dan ruang. Pameran ini dibuka untuk publik hingga 27 Juni.

web-14
web-15
web-16
web-17
web-18
web-19
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.