Menyusuri Praktik Oototol dalam Pameran “Warna Hidup” di ROH dan Komunitas Salihara
ROH dengan bangga mempersembahkan Warna Hidup, pameran tunggal karya Oototol. Presentasi pertamanya di Jakarta ini berlangsung di dua lokasi: ROH dan Komunitas Salihara. Warna Hidup menangkap pluralitas yang membentuk pendekatan seniman Bali tersebut di masa hidupnya. Berkarya menggunakan tinta Cina dengan pena dan kuas bambu, Oototol (lahir ?–2009) mengembangkan praktik yang konsisten di antara konstelasi perupa di Bali yang akrab dikenal sebagai Murni, Mokoh, dan Mondo, yang afinitas formalnya turut terbaca dalam karya-karyanya.
Sering kali dibingkai dalam pengaruh-pengaruh tersebut, pameran ini justru menyoroti keterlibatan dalam visi tunggal Oototol. Figur-figur berseragam, yang sekaligus merupakan potret diri, menjadi narator konstan yang hadir di sebagian besar lukisan–sebuah citra yang disebut terpengaruh oleh ketertarikan seniman terhadap presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Dalam lukisan-lukisannya, figur ini tampak memanen padi, berbagi makanan, berkomuni satu sama lain, melahirkan, membunuh, bermain dengan hewan, serta menyerap berbagai aktivitas manusia ke dalam logika seragam tersebut. Pada beberapa karya, makhluk non-manusia pun turut mengenakan topi dan seragam. Oototol tampaknya juga menaruh minat imajinatif pada moda transportasi: pesawat, sepeda motor, hingga makhluk mitologis yang mengangkut para figur melintasi darat dan air. Namun, dalam karya lain, relasi ini dibalik: manusia justru menggendong hewan. Dalam semesta visual ini, seolah tidak ada yang tak dapat dilakukan oleh seorang “tentara”. Kemampuan untuk bergerak luwes antara ranah personal, historis, dan kosmologis menjadi salah satu kekayaan utama dalam praktik Oototol.
Apa yang pada pandangan awal tampak sebagai pengamatan sederhana atas kehidupan sehari-hari di Bali, justru menyimpan kompleksitas komposisi dan konseptual yang mendalam. Lukisan-lukisan ini padat dengan alusi metaforis, menghadirkan polifoni antara realitas dan imajinasi dalam relasi yang setara, tanpa hierarki. Kepolosan dan keluwesan pendekatan Oototol mengingatkan pada semangat Fischli dan Weiss, yang dalam pencarian kebenaran mendalam menghadirkan bahasa visual yang dapat diakses oleh siapa saja. Meski demikian, figur-figur Oototol tetap berada dalam struktur upacara dan taksonomi sosial, setia pada kosmologi Bali yang memandang kehidupan dan kematian sebagai dua kekuatan penuntun. Di sepanjang praktiknya, figur-figur ini kerap melampaui batas bingkai, mengisyaratkan kehidupan yang berlangsung di luar norma. Potret diri berseragam yang berulang menjadi medium ketegangan tersebut—sekaligus bagian dari tatanan sosial, namun juga berbeda dalam identitas dan posisinya. Figur yang sama, dengan seragam yang sama, ditempatkan berulang kali dalam konteks yang berbeda, hingga simbol yang semula merepresentasikan kontrol justru menyingkap kelenturan yang luar biasa.
Praktik Oototol dapat dibaca sebagai bentuk subversi atau kritik, terutama melalui bagaimana kekuasaan menyerap kehidupan ke dalam logikanya sendiri hingga tampak seperti parodi. Namun, pembacaan semacam ini berisiko mereduksi aspek kejanggalan yang sejatinya tak mudah diasimilasi dalam karya-karyanya. Di masa kini, ketika ikonografi semacam itu semakin lekat dengan berbagai visi masa depan politik yang saling bersaing, penting untuk menelusuri kembali apa yang ditinggalkan Oototol, yang belum sepenuhnya dapat kita cerna, serta pertanyaan-pertanyaan yang terus ia ajukan kepada kita hari ini.
Judul pameran Warna Hidup tampak paradoksal jika dikaitkan dengan pilihan Oototol yang bekerja secara eksklusif dalam tinta monokrom. Namun, di balik keterbatasan tersebut, karya-karyanya justru menghadirkan spektrum kehidupan dan budaya yang luas, baik dari Pengosekan dan Bali, tempat ia lahir, maupun dalam kaitannya dengan kebenaran universal yang resonan bagi banyak orang. Ketiadaan warna menjadi bentuk kelimpahan tersendiri: sebuah batasan yang memaksa kompleksitas hadir melalui interaksi antara goresan, permukaan, dan ruang. Lukisan-lukisan Oototol merefleksikan pikiran dan semangat yang transgresif, radikal, sekaligus kontemporer, sehingga tetap beresonansi dan relevan sebagai cerminan situasi hari ini.
Pameran ini turut disertai esai dari Hera Chan, Roger Nelson, dan Ibrahim Soetomo, yang masing-masing memperluas kajian mengenai kehidupan dan pemikiran Oototol dari berbagai perspektif. Program publik yang dikurasi oleh Putu Sridiniari juga membuka ruang untuk merenung bersama karya-karya yang dipamerkan. Keseluruhan ini menjadi langkah awal dalam upaya berkelanjutan untuk memusatkan perhatian pada praktik seorang seniman yang, dalam imajinasi pengembaraannya, terus “menyimpang” (meminjam istilah dari esai Nelson) dari jangkauan kita.