Tya Amelia: Desain dan Kepemimpinan Perempuan
Hari ini semakin banyak perempuan mengambil peran sebagai pemimpin di tengah industri desain yang masih didominasi oleh laki-laki. Tak sedikit desainer perempuan yang telah melewati jalan terjal dalam mendapatkan pengakuan, mendobrak hierarki, dan mendefinisikan kepemimpinan yang nyata. Salah satu perempuan yang membuktikan jejak karyanya di industri desain global adalah Listya Amelia, akrab disapa Tya, Design Director dan Partner di OlssønBarbieri, Norwegia. Grafis Masa Kini berkesempatan untuk berbincang dengan Tya mengenai budaya kerja dan posisi perempuan di industri desain berdasarkan pengalamannya selama ini.
Perjalanan Tya di desain sangatlah berwarna dan penuh kejutan. Lulus sebagai desainer di Jakarta pada 2008, Tya selalu berpegang teguh pada mimpinya untuk menjelajahi dunia, hingga ia berkesempatan untuk bekerja di India, Singapura, dan berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah Norwegia untuk melanjutkan studi magister di Royal Academy of Art di Bergen. Meski ada banyak tantangan yang harus dihadapi selama masa studinya, Tya mampu lulus dan merintis karier di industri desain Norwegia. Dari Bleed Design Studio di Oslo, Tya melanjutkan perjalanan ke Bakken & Bæck, di mana ia mengambil peran kepemimpinan dalam membangun dan memimpin Tim Brand Design. Tya kemudian melanjutkan perjalanan kepemimpinannya sebagai Design Director di Bold Scandinavia, mengeksplorasi dan mempelajari tantangan baru. Semua pengalaman tersebut membawanya ke posisi saat ini di OlssønBarbieri, sebuah studio desain yang menjadi tempat Tya bertumbuh dan berproses. Lebih dari sepuluh tahun bekerja di Norwegia, Tya telah bertemu banyak kreatif profesional dan mengambil banyak pelajaran. "Saya memulai perjalanan sebagai seorang desainer yang penasaran, dan sampai sekarang pun saya masih penasaran. Pembelajaran tidak pernah berhenti, dan itu yang membuat saya tetap bersemangat terhadap desain," ujar Tya.
Di OlssønBarbieri, Tya sebagai Design Director ikut terlibat langsung dalam suatu pekerjaan atau proyek—mengambil keputusan kreatif dan berkolaborasi dengan para kreatif lainnya. Peran Tya sangat dekat dengan setiap proyek dan proses kreatifnya, mulai dari merancang konsep hingga eksekusi desain. Mengingat jumlah tim yang kecil, Tya menceritakan bahwa OlssønBarbieri menerapkan struktur kerja yang didasarkan pada rasa saling percaya dan kolaborasi, bukan hierarki yang kaku. Studio ini juga merayakan budaya kerja kolaboratif—membuka kesempatan dan kemungkinan dalam proses kreatif dengan berbagai pihak. Dengan saling bekerja sama, desainer belajar untuk mengomunikasikan gagasan dari awal hingga akhir. Budaya kerja ini tentu berbeda dengan yang diterapkan di Indonesia, terutama menyoal pendekatan terhadap hierarki dan kepercayaan. Tya sendiri mengalami dua budaya kerja yang berbeda dan berdampak, terutama pada perempuan. “Saya memiliki penampilan yang muda dan sifat yang santai, sebuah karakteristik yang sering membuat orang meremehkan saya,” Tya memulai ceritanya. “Di Indonesia, saya menemukan bahwa berpakaian dan bersikap santai serta tidak mengikuti ekspektasi tertentu, ada risiko tidak dianggap serius.” Saat bekerja di Jakarta sebagai Art Director, Tya pernah disangka sebagai anak magang. Setelah ia memimpin presentasi dengan klien di minggu pertama, orang-orang baru menyadari bahwa asumsi mereka salah, kemudian memperlakukan Tya secara berbeda.
Berbanding terbalik dengan Jakarta, di Norwegia, alih-alih bertumpu pada hierarki, peran justru menentukan tanggung jawab tanpa mendefinisikan superioritas. “Budaya kerja di sini (Norwegia) terasa lebih dewasa, dan pendapat setiap orang, terlepas dari ‘pangkatnya’, dianggap berharga.” Walau begitu, sebagai perempuan, Tya tetap menemukan tantangan, tak terkecuali di Norwegia. Berdasarkan pengalamannya, Tya melihat bahwa perempuan dengan pendirian kuat terkadang dianggap “sulit”, sementara laki-laki yang menyampaikan pendapat serupa justru dipandang berwibawa. “Ini adalah tantangan yang masih harus kami hadapi, juga menjadi sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan,” tegas Tya. Di tengah isu tersebut, Tya menganggap dirinya cukup beruntung karena berada di lingkungan yang terbuka dan mendukung—memberikan ruang bagi perempuan untuk berbicara, didengar, dan dipercaya. Tya pun belajar untuk menerima kekurangannya, memberikan kepercayaan kepada dirinya sendiri agar dapat merangkul ketidaksempurnaan tanpa menganggapnya sebagai kelemahan.
Sebagai seorang perempuan Asia Tenggara yang bekerja di industri desain global, pengalaman lintas budaya juga memengaruhi cara Tya melihat desain dan proses kepemimpinan. Tak berbeda dengan kebanyakan perempuan di Indonesia, Tya tumbuh dengan ekspektasi lingkungan yang sering kali membatasi ambisi perempuan. “Saya sendiri mengalami pergulatan antara ekspektasi lingkungan dan aspirasi pribadi; menyeimbangkan kedua hal ini membutuhkan waktu,” cerita Tya. Seiring pertumbuhan diri, Tya belajar untuk merangkul kerentanan dan mengubah ketakutannya menjadi langkah konkrit dalam mengejar impian. “Perjalanan ini juga membentuk perspektif saya tentang kepemimpinan, menantang apa yang secara tradisional diharapkan dalam budaya Indonesia,” imbuhnya. Dalam sistem yang sudah mengakar di Indonesia, pemimpin sering diasosiasikan dengan sosok yang vokal, hierarkis, bahkan menakutkan—stereotip maskulin yang sulit dihindari di lingkungan patriarkis ini. Sementara gaya kepemimpinan Tya—selaras dengan pendekatan leading from behind—lebih mengutamakan bimbingan, dukungan, dan pemberdayaan alih-alih komando dan kontrol. “Gaya kepempimpinan ini terasa lebih autentik bagi saya serta mendorong cara kerja yang lebih kolaboratif dan efektif,” ungkap sang desainer. Kepemimpinan ini juga menciptakan ruang aman bagi semua orang yang terlibat—mendukung proses kerja yang sehat dan inklusif. Pola pikir tersebut juga memengaruhi proses desain Tya, mendorong rasa ingin tahu yang tinggi dan keterbukaan, di saat yang sama membantu Tya terus mengeksplorasi solusi desain dengan fleksibilitas dan kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan. “Salut untuk semua rekan perempuan hebat di luar sana,” seru Tya.
Di luar bias gender yang masih menjadi isu besar di dunia desain, Tya menemukan bahwa tren desain juga menjadi tantangan sendiri, terutama dalam proses kreatif. Media sosial yang membuka akses yang luas ke dunia luar memang dapat mendorong perkembangan desain, namun Tya merasa terganggu dengan bagaimana “inspirasi” sering kali berubah menjadi imitasi. “Sebagai desainer, kita perlu lebih kritis dan reflektif terhadap isu ini. Memang, tidak ada yang benar-benar orisinal, tetapi saya percaya ada banyak cara untuk mengambil inspirasi dengan cara yang lebih bijaksana dan kontekstual, berakar pada referensi yang autentik daripada sekadar meniru,” tegas Tya. Sayangnya, isu ini tak hanya menjadi tantangan di dunia desain grafis, melainkan berdampak pada disiplin desain lainnya.
Di tengah berbagai tantangan di industri desain global, Tya memilih untuk tetap memupuk rasa ingin tahu yang tinggi, sikap baik, dan menikmati setiap prosesnya. Bersama OlssønBarbieri, ke depannya, Tya ingin mendorong perubahan, menantang pola konsumsi berlebihan, dan menciptakan karya yang bermakna—berkontribusi pada gerakan positif melalui desain. Bagi Tya, desain bukan hanya soal menciptakan sesuatu yang indah, tetapi juga bagaimana desain bisa membentuk pola pikir dan meningkatkan kesadaran terhadap dunia di sekitar kita. "Kita punya peran lebih besar dari sekadar estetika. Kita bisa menjadi bagian dari perubahan, dari sesuatu yang lebih bermakna." Di tengah industri yang masih berusaha lebih inklusif bagi perempuan, Tya Amelia adalah bukti bahwa kepemimpinan perempuan di dunia desain bukan hanya mungkin, tetapi juga mampu membawa perubahan yang lebih luas dan berdampak.
Credit for cover image: Anne Valuer