Melihat Bagaimana Joyland Membangun Semestanya
Bayangkan dirimu memasuki semesta yang begitu menyenangkan – penuh dengan hal-hal yang hangat dan familiar. Bayangkan sebuah tempat yang setiap sudutnya begitu ramah dan mengundang, dan kamu bisa melihat, melakukan, dan mendengarkan semua yang kamu sukai bersama orang-orang yang kamu cintai. Di dunia yang kini terasa gusar, Joyland menawarkan semesta tersebut dari setiap aspeknya, tak terkecuali identitas visual yang menjadi “pintu masuk”.
Festival musik Joyland tahun ini hadir kembali pada 28–29 November dalam bentuk Joyland Sessions. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami selalu jatuh cinta dengan cara festival ini dikemas melalui desain identitas visual dan spasialnya. Sejak tahun lalu dan kemudian tahun ini, ada hal yang berbeda dari visual Joyland – ada semesta yang ingin diceritakan dan diabadikan. Rasa penasaran membawa kami ke dalam perbincangan bersama Namira Khansa dan Cempaka Surakusumah dari tim visual Joyland.
Selama beberapa edisi penyelenggaraannya, Joyland dikenal melalui identitas visual yang selalu berganti dari tahun ke tahun, mulai dari eksplorasi grafis hingga eksperimen artistik bersama berbagai studio desain dan ilustrator. Keragaman ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri, sekaligus menunjukkan bagaimana Joyland memberikan ruang bagi eksplorasi kreatif. Namun, di balik keberagaman tersebut, muncul sebuah pertanyaan: bagaimana jika identitas visual yang telah dibangun dengan begitu banyak eksperimen dan proses kreatif dapat memiliki kehidupan yang lebih panjang dari satu edisi festival?
“Biasanya, setiap tahun, selalu ada dua acara Joyland Festival: Jakarta dan Bali. Masing-masing acara punya identitas visual yang berbeda, dan kami selalu berkolaborasi bareng seniman visual atau studio desain. Mereka mengerjakan identitas visual Joyland benar-benar dari hulu ke hilir. Tapi sayang banget karena cuma bisa dipakai di satu waktu itu saja. Sesuatu yang dibuat dari nol hanya bisa dinikmati satu kali saja. Nah, itu sebenarnya awal dari pemikiran kenapa kami perlu bikin desain yang berkelanjutan, yang bisa kita pakai dan kembangin setiap tahunnya,” jelas Cempaka Surakusumah.
Lalu, datanglah tahun 2025 – momentum untuk mewujudkan gagasan tersebut, ketika penyelenggaraan Joyland Festival harus rehat. Jeda tersebut dimanfaatkan oleh tim untuk mengevaluasi format festival sekaligus memikirkan kemungkinan pengembangan identitas visual yang dapat digunakan dan terus dieksplorasi setiap tahunnya. Namira menjelaskan bahwa bagi tim Joyland, harus ada fondasi visual yang dibangun dan dapat diteruskan setiap tahunnya. Dengan demikian, setiap edisi tetap bisa menghadirkan sesuatu yang berbeda, tetapi memiliki benang merah yang menghubungkan.
Dari momentum tersebut, lahirlah gagasan baru: The Journey to Find Joyland. Penundaan festival menjadi bagian dari narasi “menemukan kembali Joyland” yang kemudian diterjemahkan ke dalam semesta visual.
Sebuah dunia bernama Joyland
Ketertarikan terhadap dunia fiksi dan world-building menjadi salah satu inspirasi utama di balik pendekatan identitas visual Joyland ini. Namira bersama Gigis, rekan yang terlibat dalam pengembangan konsep, memiliki ketertarikan terhadap semesta cerita fiksi seperti Marvel Cinematic Universe dan Harry Potter. Keduanya melihat bagaimana sebuah dunia fiksi mampu membangun keterikatan yang kuat dengan audiens melalui karakter dan elemen-elemen lainnya yang saling terhubung. Kemudian, muncullah pertanyaan: bagaimana jika Joyland diperlakukan sebagai dunia tersendiri yang memiliki karakter dan cerita yang bisa terus berkembang?
Dalam proses awalnya, Namira mulai memetakan apa sebenarnya makna Joyland. “Aku melihat Joyland sebagai utopia, tempat orang-orang melepaskan diri, escape dari realitas sehari-hari, tempat mereka kembali tiap tahunnya,” kata Namira. Meski secara fisik festival ini berlangsung di tengah kota, pengalaman yang ditawarkan terasa seperti memasuki dunia yang berbeda. “Seperti liburan,” kata Cempaka. Pengunjung datang bukan hanya untuk menyaksikan musisi favorit, tetapi juga untuk menikmati suasana dan merasakan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Atmosfer, kurasi musik, dan keseluruhan program menjadi bagian penting dari pengalaman yang ditawarkan festival tersebut.
Dari sana, Joyland mulai dibayangkan sebagai sebuah realitas alternatif yang dapat diakses ketika seseorang siap untuk menemukannya. Untuk memasuki dunia tersebut, tim Joyland kemudian memikirkan sebuah metafora portal. Berbagai cerita fiksi yang kita kenal hari ini memiliki cara tersendiri untuk membawa karakter menuju dunia lain: Peter Pan dengan debu ajaibnya, Narnia melalui lemari, Alice in Wonderland melalui lubang kelinci, hingga Harry Potter melalui peron 9¾. Lantas, apa yang menjadi portal menuju Joyland?
Jawabannya adalah sebuah mixtape atau playlist. Namun, untuk benar-benar memasuki Joyland, seseorang tidak cukup hanya mendengarkan musik sebagai latar belakang. Mereka perlu hadir, mendengarkan, dan merasakan musik tersebut hingga tanpa disadari telah menemukan jalan menuju dunia Joyland.
Metafora ini sekaligus merepresentasikan pengalaman nyata yang ingin dipertahankan oleh festival. Mulai dari kejutan dalam kurasi lineup, suasana yang inklusif, hingga kesempatan bagi keluarga untuk menikmati konser bersama.
Mengenal siapa saja yang hidup di dunia Joyland
Dengan mempelajari audiens yang datang ke setiap panggung dan yang mengikuti setiap program Joyland, tim kemudian menciptakan tujuh karakter hibrida dengan Joy sebagai karakter utama. Joy digambarkan sebagai sosok yang cool namun menyenangkan, dikelilingi oleh enam karakter unik yang “menjaga” setiap sudut Joyland. Masing-masing terinspirasi dari musik, tempat, serta kepribadian yang merepresentasikan berbagai pengalaman di Joyland. Pengembangan karakter ini juga berangkat dari upaya tim untuk menerjemahkan karakteristik berbagai panggung dan program yang telah menjadi bagian dari festival: Plainsong Stage memiliki Echoa, Lilypad memiliki Lily, White Peacock memiliki Pico, dan karakter-karakter lainnya yang kini sedang dipublikasikan perlahan lewat media sosial Joyland.
“Kenapa harus ada perwakilan satu karakter yang melambangkan stage yang ada di Joyland? Karena kita pengen story ini tuh menggambarkan bahwa ini loh Joyland dan dunianya, dan ini adalah cara kita bersama-sama untuk menemukan Joyland kembali,” kata Cempaka.
Proses perancangan karakter-karakter yang hidup di dunia Joyland ini digambarkan oleh Namira dan Cempaka begitu rumit nan menyenangkan. Sebelum karakter-karakter ini diwujudkan dalam bentuk ilustrasi oleh Yoel Kristiandi, yang kemudian diturunkan ke identitas visual oleh Cempaka dan Yudit Halim, tim harus “membedah” identitas setiap karakter dan identitas Joyland tersendiri sedetail mungkin untuk memudahkan ilustrator mewujudkan setiap karakternya. Tidak ada patokan bentuk; karakter-karakter ini seperti terbang bebas di imaji Cempaka, Namira, dan tim Joyland. Maka itu, penting bagi mereka untuk menerjemahkan personality dan nuansa untuk setiap karakter, sehingga ilustrator dapat menghidupkannya.
Di sisi lain, tim Joyland mencoba meninjau kembali perjalanan identitas visual festival dari edisi ke edisi, mulai dari 2019 hingga 2022 dan seterusnya. Proses ini dilakukan untuk menemukan benang merah yang selama ini membentuk DNA Joyland, sekaligus mengidentifikasi elemen-elemen yang perlu dipertahankan dan dikembangkan lebih jauh. Dari pengamatan tersebut, mereka melihat bahwa identitas visual Joyland selama ini memiliki karakter yang colorful, playful, festive, dan dinamis. Namun, terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian, salah satunya adalah kecenderungan visual yang terkesan terlalu kekanak-kanakan (too kiddish).
Berangkat dari evaluasi tersebut, tim kemudian mulai merumuskan persona Joyland melalui diskusi internal. Mereka juga mencoba mengartikulasikan kepribadian yang sebenarnya ingin direpresentasikan oleh karakter-karakternya juga, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari palet keyword, selera musik, bahasa visual, hingga animal spirit yang ingin dibawa. Proses ini menjadi fondasi untuk membangun identitas visual baru dan karakter-karakter secara lebih utuh dan konsisten dari tahun ke tahun.
Mengapa harus desain yang berkelanjutan?
Pergantian key visual setiap tahun juga membuat identitas visual sulit dikembangkan secara berkelanjutan. Belum sempat membangun karakteristik yang kuat dan melekat di benak audiens, visualnya sudah berganti dengan pendekatan baru. “Satu-satunya elemen yang konsisten menghubungkan setiap edisi cuma logo Joyland,” kata Namira.
Bagi tim Joyland, keberlanjutan identitas visual berarti membangun sebuah fondasi yang dapat terus dieksplorasi dan dikembangkan. Dengan adanya sistem karakter dan dunia yang saling terhubung, proses kreatif pada edisi berikutnya dapat berangkat dari sesuatu yang sudah kuat sebelumnya.
Joyland adalah sebuah festival yang memiliki hubungan personal dengan komunitasnya. Sistem identitas visual yang baru diharapkan dapat menjadi bentuk apresiasi sekaligus cara untuk membangun kedekatan yang lebih jauh dengan para pengunjung. Karakter-karakter yang diciptakan tidak hanya dilihat sebagai branding. Mereka dapat merepresentasikan orang-orang yang selama ini menjadikan Joyland sebagai semesta yang menyenangkan, tempat untuk kembali setiap tahunnya.
Team Credit
Art Direction & Lead Designer: Cempaka Surakusumah
Illustrator: Yoel Kristiandi
Graphic Designer & Illustrator: Yudit Halim
Graphic Designer & Motion Designer: Ravlykha