Ketika Ninja Menyatukan Jepang Lewat Bola Basket
Di sebagian besar cerita tentang periode Sengoku, Jepang abad ke-16 digambarkan sebagai masa peperangan yang panjang. Para daimyo saling berebut wilayah, pasukan bergerak dari satu medan tempur ke medan lainnya, dan para ninja hidup di antara strategi serta konflik. Di bawah arahan kolektif kreatif Jepang NINJA BASKETBALL ANONYMOUS yang dipimpin Takaya Mitsunaga, proyek NINJA BASKETBALL ARMY lahir dari pertanyaan spekulatif: bagaimana jika bola basket telah hadir di Jepang pada era Sengoku?
Pada 27 Mei lalu, proyek kreatif baru ini resmi diperkenalkan sebagai merek berbasis cerita yang terinspirasi secara resmi oleh NBA. Dari pertanyaan itulah lahir sebuah alam semesta paralel yang memadukan sejarah Jepang, budaya bola basket Amerika, desain, mode, dan pengembangan karakter. Di dunia ini, para penguasa wilayah yang lelah menghadapi perang akhirnya mencapai kesepakatan. Penyatuan Jepang tidak lagi ditempuh melalui pedang dan pertumpahan darah. Mereka memilih sebuah permainan bola.
Dalam narasi yang dikembangkan NINJA BASKETBALL ARMY, permainan itu berakar dari temari, permainan tradisional yang telah dikenal sejak periode Heian. Para ninja yang sebelumnya mengasah kemampuan bertarung kemudian mengalihkan latihan mereka pada keterampilan baru. Pedang dan shuriken ditinggalkan. Sebagai gantinya, mereka membawa bola.
Permainan tersebut perlahan berkembang menjadi apa yang dikenal sebagai bola basket. Para pemain mencetak angka dengan memasukkan bola ke dalam keranjang persik, simbol yang dalam tradisi Jepang sering dikaitkan dengan penolak roh jahat. Dari sana, setiap wilayah mengembangkan gaya bermainnya sendiri dengan memasukkan teknik gerak, strategi, dan kemampuan khas para ninja.
Setiap karakter ninja memiliki identitas tim dan kamon atau lambang keluarga yang dirancang berdasarkan karakteristik sejarah berbagai daerah di Jepang. Seluruh elemen visual itu dirancang untuk membuat dunia fiksi tersebut terasa memiliki akar budaya yang jelas.
Aspek tipografi juga mendapat perhatian khusus. Proyek ini menggunakan Ninja Letter yang dikembangkan bersama Kamar Dagang dan Industri Ueno di Kota Iga, wilayah yang memiliki hubungan sejarah yang kuat dengan tradisi ninja. Huruf tersebut terinspirasi dari Jindai Moji atau aksara kuno yang selama bertahun-tahun menjadi bahan perdebatan dalam studi sejarah Jepang.
Dalam semesta NINJA BASKETBALL ARMY, aksara itu digunakan para ninja sebagai sistem komunikasi rahasia. Kode-kode tersebut muncul dalam dokumen tertulis hingga tali-tali bersimpul yang berfungsi sebagai media penyampaian pesan.
Pendekatan semacam ini membuat proyek tersebut terasa lebih dekat dengan pembangunan dunia dalam film atau game ketimbang sekadar peluncuran merek fesyen. Cerita, desain karakter, simbol, hingga bahasa visual saling terhubung untuk membentuk narasi yang utuh.
Langkah berikutnya akan hadir melalui pameran bertajuk “SHOMEI” yang berlangsung di Daikanyama, Tokyo, pada 13 hingga 21 Juni mendatang. Berbagai karya seni, produk resmi, dan koleksi pakaian akan ditampilkan dalam ruang yang memadukan budaya bola basket dengan estetika Jepang. Pemanfaatan taman tradisional Jepang dan rancangan ruang pamer yang imersif menjadi bagian dari upaya menghadirkan dunia alternatif tersebut secara fisik.
Diselenggarakan menjelang musim NBA 2026-27, pameran ini akan menjadi ruang pertama bagi publik untuk memasuki dunia NINJA BASKETBALL ARMY secara langsung.