Mengintip “Casual Prints”, Pameran Kolaborasi Krack! Printmaking Collective dan Getback Parlour
“Casual Prints” merupakan pameran kolaborasi antara Krack! Printmaking Collective dan Getback Parlour. Menampilkan berbagai karya sablon hasil kerja studio dan proyek kolaboratif, pameran ini menjadi perayaan dari kerja-kerja kolektif yang dilakukan dengan ritme keseharian.
Krack! adalah kolektif seni cetak yang berbasis di Yogyakarta. Selama bertahun-tahun, kolektif ini dikenal dengan pendekatannya yang terbuka dan eksperimental. Mereka tidak hanya memproduksi karya grafis, tetapi juga membangun ruang pertukaran ide, teknik, dan gagasan visual. “Casual Prints” menunjukkan hasil dari proses kerja itu. Ia bukan sekadar pameran, tetapi rekaman dari waktu, upaya, dan kolaborasi yang berlangsung secara berkesinambungan.
Pameran ini menghadirkan berbagai proyek penting Krack! dari beberapa tahun terakhir. Di antaranya, proyek Resistance is Futile (2017), Adakalanya Intelligent (2021), Studio Affair (2023), Print Season (2023), Kelas Menengah (2023), dan proyek terbaru mereka yang sedang berlangsung, Hacking Kracking (2024-2025). Setiap proyek membawa pendekatan tematik dan kolaboratif yang berbeda.
Resistance is Futile adalah proyek yang memperluas jaringan Krack! ke studio dan kolektif seni cetak lainnya, baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa yang terlibat adalah Grafis Huru-Hara dan Cut & Rescue dari Jakarta, Barasub dan Mulyakarya dari Yogyakarta, Perkasa dari Bandung, Milisi Fotokopi dari Surabaya, serta studio internasional seperti Raksasa Print dari Kuala Lumpur, Idle Beats dari Shanghai, dan Le Dernier Cri dari Marseilles. Proyek ini menjadi fondasi dari semangat lintas komunitas yang Krack! bangun sejak awal.
Di proyek Studio Affair (2023), pendekatannya lebih intim. Mereka melibatkan para seniman seperti Uji Handoko, Ruth Marbun, Malcolm Smith, Prihatmoko Moki, Nurulaila Fitriyani, dan Rizqi Maulana. Mereka bekerja bersama anggota Krack! untuk menjelajahi tema hubungan antarpraktik studio, baik secara ideologis maupun teknis.
Berbeda dengan proyek sebelumnya, Print Season (2023) memperlihatkan semangat eksperimen visual yang lebih luas. Seniman seperti Adi Dharma (Stereoflow), Indra Dodi, Iwank Yellowteeth, Meliantha Muliawan, Sinta Carolina, Surya Subratha, dan Restu Ratnaningtyas bergabung dalam proyek ini. Mereka menyuntikkan gaya masing-masing ke dalam praktik sablon yang dilakukan secara kolektif.
Dua proyek lainnya, Adakalanya Intelligent (2021) dan Kelas Menengah (2023), lebih banyak menggali amatan terhadap keseharian. Lewat dua proyek ini, para anggota Krack! mencoba merespon berbagai perbincangan tentang kreativitas, situasi sosial, dan kehidupan sehari-hari melalui medium sablon. Gaya bertuturnya lebih personal, tetapi tetap menyimpan kompleksitas visual.
Hal yang tak kalah menarik adalah proyek terkini Hacking Kracking (2024-2025). Dalam proyek ini, Krack! mempertemukan dua seniman untuk bekerja sama menciptakan satu karya sablon. Format duet ini menghasilkan sembilan karya kolaboratif. Di antaranya Rudi Hermawan x Roovie, Oik Wasfuk x Fahriza Ansyari, Alfin Agnuba x Etza Meisyara, Prihatmoko Moki x Enka Komariah, Rudy Atche x Febrian Adinata Hasibuan, Raafi Artha x Anindita, Britto Wirajati x Deni Rahman, Hafizh Hanani x Pangestumu, serta Umi Luthfiyyah x Putri Okta.
“Casual Prints” memberi ruang bagi eksplorasi personal tiga seniman Krack! yaitu Rudi Hermawan, Alfin Agnuba, dan Fahriza Ansyari. Ketiganya memamerkan karya cetak grafis yang berdiri secara mandiri. Masing-masing membawa karakter visual dan pendekatan artistik yang berbeda, mencerminkan bagaimana kerja kolektif tidak memadamkan individualitas, tetapi justru memperkayanya.
Pameran ini berlangsung dari 26 April hingga 6 Juni 2025 di Getback Parlour, ITC Fatmawati, Jakarta. Dalam acara pembukaannya, publik disambut dengan musik dari Elechoes, serta peresmian pameran oleh Yoga Pratama, co-founder Jakarta Illustration & Creative Art Festival (JICAFF). Menariknya, Krack! juga menghadirkan sesi live screenprint. Publik diajak untuk mencoba langsung teknik sablon di atas kertas, memberikan pengalaman interaktif yang menghidupkan suasana studio di tengah ruang galeri.
Pameran “Casual Prints” memperlihatkan bahwa praktik seni cetak bisa tetap relevan di tengah era digital. Sablon bukan hanya soal teknik, tapi juga soal kebersamaan, kesabaran, dan kedekatan dengan proses. Dalam ruang yang dibentuk oleh eksperimen dan percakapan, Krack! bersama dengan Getback Parlour memperlihatkan bagaimana hal-hal yang dilakukan dengan ritme kasual justru menyimpan ketekunan yang tidak main-main.