Irfan Hendrian Membuka Kembali Ingatan Lewat Kertas dalam Pameran “CLOSED”

ara contemporary tahun ini dengan CLOSED, sebuah pameran tunggal Irfan Hendrian yang menempatkan karya-karya terbarunya dalam dialog dengan proses panjang di balik pembuatannya. Terbentang di Main Gallery dan Focus Gallery, pameran ini mempertemukan seri Chinatown Window Sample dengan presentasi Open Studio, mengajak pengunjung menelusuri cara berpikir dan kerja yang melandasi sang seniman.

Bagi Irfan Hendrian, kertas adalah medium dan subjek, sesuatu yang ditelaah dari dalam, alih-alih hanya dikerjakan di atasnya. Di tengah kehadiran media digital yang terus menggerus eksistensi material cetak dalam keseharian, praktik Irfan justru menegaskan relevansi kertas: kemampuannya menyimpan ingatan, sejarah, dan ambiguitas secara bersamaan. Manuskrip, surat, dan dokumen sejak lama menjadi wadah bagi sesuatu yang ingin dipertahankan, namun pada saat yang sama rapuh, sementara, dan mudah berubah–di situlah ruang bermain Irfan Hendrian.

Karya-karya dalam CLOSED berangkat dari medium yang tampak sederhana: selembar kertas. Dari titik itu, Irfan Hendrian membangun struktur yang tidak sepenuhnya bertujuan menghadirkan citra dalam pengertian konvensional, melainkan membuka apa yang ia sebut sebagai “sisi lain” dari bentuk; wilayah di mana material, ingatan, dan sejarah saling bertemu. Dalam pameran ini, gagasan tersebut terasa lebih personal sekaligus politis.

Foto-foto yang digunakan pertama-tama dicetak dalam ratusan salinan dengan teknik risografi, yang membuat setiap cetakan memiliki pergeseran kecil satu sama lain. Lapisan-lapisan ini kemudian dipotong dengan mesin sebelum akhirnya disusun ulang. Dalam struktur akhir, gambar hampir sepenuhnya lenyap; yang tersisa hanyalah jejak-jejak tipis tinta di tepi-tepi kertas yang bertumpuk. Dengan cara ini, sejarah tidak tampil sebagai narasi yang utuh, melainkan sebagai akumulasi yang rapuh; sesuatu yang lebih bisa dirasakan melalui lapisan dan “luka” ketimbang dilihat secara gamblang.

Sejumlah bentuk berulang muncul dalam karya-karya Irfan Hendrian: teralis jendela, pagar seng bergelombang, gembok, dan kunci. Ia menyebutnya sebagai “arsitektur ketakutan”, bentuk-bentuk yang memikul beban personal sekaligus kolektif. Motif-motif ini berangkat dari ingatan dan pengalamannya atas kecemasan yang membentuk kehidupan komunitas Tionghoa di Indonesia, di mana struktur-struktur yang tampak protektif kerap juga menandai batas, pengawasan, dan kerentanan. Dalam konteks ini, karya-karya tersebut hadir sebagai penanda sejarah yang terus meninggalkan jejak.

Dilihat sebagai satu kesatuan, CLOSED menolak pembacaan yang serba cepat. Pameran ini mengajak penonton untuk memperlambat langkah, mencermati apa yang nyaris tak terlihat, dan berhadapan dengan bayang-bayang yang menetap dalam luka ingatan. Alih-alih menawarkan penutupan, pameran ini justru membuka ruang kontemplasi, tempat material dan makna terus berada dalam negosiasi.

Sebagai seniman dan perupa grafis, Irfan Hendrian selama ini konsisten mengeksplorasi kualitas formal sekaligus potensi skulptural kertas. Praktiknya berkembang dari memperlakukan kertas sebagai bidang datar menuju menjadikannya sebagai pigmen sekaligus struktur, menghasilkan objek dan instalasi yang kian kompleks. Pameran tunggalnya antara lain meliputi Incognito di The Arts House, Singapura (2024); Incognito di Art Jakarta (2022); Constructed _scape di Sullivan+Strumpf Singapura (2020); Some Other Matter di Aloft di Hermes, Singapura (2019); SANS di Sullivan+Strumpf Singapura (2018); serta Terenne di Jeonbuk Museum of Art, Korea Selatan (2016). Karyanya tersimpan dalam koleksi Deutsche Bank, Singapore Art Museum, Museum MACAN, Jeonbuk Museum of Art, dan Tumurun Museum.

Melalui CLOSED, Irfan Hendrian melanjutkan jalur praktiknya dengan menggunakan kertas bukan untuk membuka kembali ingatan.

web-15
web-16
web-17
web-18
web-19
web-20
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.