Pendoa & Pendosa: King Acan Merekam Dunia Kustom Kulture
Ketika saya memasuki ruangan pameran, terdengar celoteh, jepretan kamera, dan sayup-sayup lagu “Take a Picture” dari DJ set yang dimainkan Hazawude. Sekelompok orang berbaju hitam saling mengobrol. Mungkin kawan lama, atau kawan baru yang diperkenalkan oleh kawan lama. Masing-masing menggenggam segelas bir di dalam ruang pameran. Karya-karya ilustrasi bertemakan kultur otomotif terpampang di sudut-sudut dinding. Ilustrasi-ilustrasi bergaris tegas dengan warna hitam-putih menempel dalam formasi yang terasa lebih seperti dokumentasi daripada dekorasi. Satu hal tiba-tiba merebut perhatian saya; sebuah motor kustom terparkir di tengah ruang pameran, tepat di depan panggung disk jockey.
Pendoa & Pendosa adalah tajuk pameran tunggal King Acan, atau Dan Rafsan Yuono, seorang illustrator dan pegiat Kustom Kulture. Ini bukan kumpulan gambar tentang motor, ini juga bukan tentang nostalgia semata. Pameran ini seperti membuka album catatan harian, dicetak dalam gaya ilustrasi era 50-an, lalu dilempar ke tengah publik dengan campuran humor, emosi, dan obsesi terhadap detail mekanik.
“Gagasan dasarnya adalah catatan harian yang gambarkan dengan gaya ilustrasi era 50-60an. Tetapi kisah-kisahnya adalah hal yang saya alami saya pribadi di komunitas motor kustom. Gambar-gambar saya biasanya saya upload ke Instagram lalu narasinya saya tulis lewat caption. Ada juga yang kemudian saya susun jadi seri komik. Jadi, pameran ini berupaya menampilkan detail-detail yang tidak bisa dijangkau di komik media sosial,” ujar Acan.
Acan tumbuh di lingkungan yang penuh kebisingan mesin. Dari dealer kendaraan di Arteri Pondok Indah sampai bengkel-bengkel liar di Kebon Nanas, pengalamannya membentuk semacam kesetiaan terhadap kultur otomotif. Tapi alih-alih menjadi mekanik atau kolektor, ia mengambil jalur lain, mencatat semuanya lewat gambar. Ia kuliah di Institut Kesenian Jakarta, bergabung dengan kolektif Cut and Rescue, lalu aktif di Swengskoy, komunitas motor yang mainnya suka semaunya. Kecendrungan berkesenian dengan metode riset selama bersama Cut And Rescue, mempengaruhi karya-karyanya di dunia Kustom Kulture. Mencari data dan informasi seputar objek otomotif yang akan dia eksekusi sebagai karya sudah menjadi metode dasar berkaryanya.
Gaya hidup ini menjadi bahan mentah untuk semua karyanya. King Acan adalah salah satu seniman lokal yang melalui karya-karyanya sudah banyak dikenal di sirkuit kesenian Kustom Kulture lokal maupun internasional. Istilah Kustom Kulture merujuk pada sebuah budaya yang menaungi ragam subkultur roda empat, roda dua, musik, fashion, lifestyle termasuk juga seni yang saling berinteraksi di dalamnya. Publik mungkin sudah akrab dengan ilustrasi-ilustrasinya, baik dalam bentuk gambar,poster acara, kaos grafis, pameran, dan komik Pendoa & Pendosa yang diterbitkan Wahjoedi Motors sebagai proyek pribadinya.
Selain ilustrasi, motor kustom yang dipajang di tengah ruangan bukan pajangan kosong. Itu motor Acan sendiri, yang ia pakai untuk riding, touring, dan, bisa dibilang, juga berpikir. Di sekitar motor itu, ada blueprint desain, botol kopi berbentuk kemasan oli, kaos hasil kolaborasi dengan teman-teman, dan karya komisi yang pernah ia kerjakan untuk komunitas otomotif yang sudah ia geluti sejak 2009.
Kemampuannya untuk menarasikan karya-karyanya sedemikian rupa, mengemasnya dengan cita rasa lokal menjadikan karya karya Acan terasa lebih dekat dengan publiknya. Ia menghadirkan potongan-potongan kejadian sederhana yang begitu lekat dengan komunitas motor lokal seperti nongkrong di warung kopi pinggir jalan, melewati landmark Jakarta seperti Tugu Pancoran, Bioskop Metropole, dan Bundaran HI, serta menyaksikan balapan resmi di Cakung. Kehadiran lanskap-lanskap yang familiar tersebut menjadikan karya-karyanya begitu hidup. Pameran yang berlangsung 9-25 Mei 2025 di Spaccce, Grand Wijaya Center ini menjadi saksi perjalanan King Acan, dengan tangan yang tetap menggambar dan mesin yang terus menyala.