Sekala 369: Seni Tato dan Pelestarian Budaya

Setelah bertahun-tahun tinggal dan membangun karier di Belanda, seniman tato dan pelaku kreatif Ade Itameda kembali ke Indonesia untuk membuka studio tatonya sendiri. Didirikan pada tahun 2018, Sekala 369 adalah studio tato yang terletak di daerah Kerobokan, Bali. Hal yang membedakan Sekala 369 dari banyak studio tato lain di pulau Dewata ini adalah gaya tato yang sangat terinspirasi dan menghormati warisan tradisional Indonesia yang kaya.

“Aku tadinya tinggal di Eropa, di Belanda,” Ade mulai bercerita. “Pulang ke Indonesia. Niatnya mau di Jakarta tapi enggak betah. Tapi karena banyak hal yang aku bahas dan gali ada di Bali, jadi aku setahun di sini dulu, research, cari apa yang aku mau. At the end, 2018 aku start Sekala.” Pada bulan Agustus, 2019, Eka Mardiys, sesama seniman tato, bergabung dengan studio tersebut. Ade menjelaskan bahwa dalam pengalamannya di Belanda, budaya menjadi cara baginya untuk membedakan praktiknya dari seniman tato lainnya. “Buat aku di Belanda lumayan spiritual karena kita emang mencari tahu kita sukanya apa. At the end ya aku merasa kelebihanku adalah karena aku punya budaya Indonesia, makanya [Sekala 369] fokusnya di situ,” ia lanjut menjelaskan.

Dipengaruhi oleh warisan Jawa milik Ade dan warisan Bali milik Eka, gaya tato Sekala 369 sangat bergantung pada berbagai bentuk budaya Indonesia—mulai dari batik, kain tradisional, ukiran Bali, hingga cerita-cerita wayang. Maka itu, proses desain tato di Sekala 369 seringkali memerlukan diskusi yang menyeluruh dan terbuka antara Ade dan Eka sebagai seniman dengan para klien. Ade menjelaskan bahwa penting baginya dan klien untuk bertemu di titik tengah mengenai makna dan arti dari gambar yang diinginkan, serta bagaimana hal itu diterjemahkan ke dalam desain tato itu sendiri, tetapi juga hal-hal seperti penempatan tato.

Dengan mengingat hal ini, tidak mengherankan jika sebagian besar tato dalam portofolio Sekala 369 adalah tato custom. Namun, ini tidak berarti bahwa mereka sama sekali tidak mendesain tato flash, tato yang sudah dirancang sebelumnya oleh seniman tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan klien. “Tapi mostly kita menjelaskan sih. Soalnya, selama aku di luar negeri, masalah buat aku sampai hari ini adalah tato menjadi sesuatu yang kayak, ya udah datang, dibuat, selesai, terus kita enggak diskusiin itu. Itu sah tapi buat aku langkah lebih baiknya untuk hal yang sangat personal dan ada seumur hidup [seharusnya] dibahas,” ujar Ade. Ia lanjut menjelaskan bahwa hal ini seringkali melibatkan pembahasan tabu budaya atau konteks gambar yang ingin ditato. Misalnya, Ade sering bertemu orang-orang di Belanda yang meminta tato Barong Bali yang tampak menyeramkan dengan taring panjang. Permintaan itu sendiri merupakan sesuatu yang tabu mengingat Barong merupakan makhluk spiritual yang melambangkan kekuatan kebaikan dalam budaya Bali. “Jadi seenggaknya kita ada penjelasannya,” kata Ade. Konsultasi ini sangat penting mengingat sifat tato yang tidak statis dan permanen.

Fokus dan dedikasi Sekala 369 terhadap budaya membedakan studio ini dari sebagian besar industri tato di Bali yang tampaknya terus berkembang tanpa henti. “Kita sangat tertarik dengan budaya. Misalkan gambarnya Eka ada twist antara traditional tattoo style Amerika, ada Jepangnya juga, ada Balinya juga. Kalau aku base-nya old school tattoo sama tribalcombined dengan ornamen Bali. Buat aku, saat kita ada chance untuk membuat sesuatu yang baru, kenapa enggak? Dan buat aku Bali itu sangat kaya akan budaya,” ujar Ade. Maka itu, riset menjadi kunci utama dalam menentukan cara terbaik untuk menerapkan desain tato secara tepat dan penelitian untuk mencari batasan ini sendiri menjadi usaha yang menarik bagi Sekala 369 dengan Ade dan Eka yang menerapkan keunikan Indonesia dalam desain tato mereka.

Zoom-2

Ada pula masalah tentang pentingnya tato dalam banyak budaya Asia dan Indigenos. Tato seringkali memiliki peran penting dalam banyak ritual budaya—sebuah penghargaan atas pencapaian. Ade menyadari bagaimana hal ini sering kali bertentangan dengan asal-usul budaya tato di Barat, yang mungkin memiliki konotasi yang kurang saling melengkapi. “Starting point-nya emang enggak semewah kita. Jadi cara pandangnya beda. Kalau untuk aku, banyak rules-nya, khususnya di Asia karena kita menyambung dengan budaya dan tradisi yang masih hidup,” jelas Ade.

Baik Ade maupun Eka juga menekuni proyek kreatif di luar tato. “Itu keseharian kita; kalau enggak nato, kita ngegambar. Jadi kita mencari output apa pun yang bisa dikerjakaan,” ujar Ade. Sekala 369 sebelumnya telah berkolaborasi dengan beberapa merek termasuk Compass, Asics, dan Von Dutch. Baik Ade maupun Eka sendiri juga melukis di waktu luang mereka dan berkolaborasi dengan berbagai pelaku atau merek kreatif. Eka khususnya telah menciptakan banyak karya seni dan poster konser untuk sejumlah band dan musisi termasuk Navicula, Tjok Bagus, DEVILDICE, dan banyak lagi. 

Ke depannya, Ade berharap Sekala 369 dapat menjadi wadah untuk berdiskusi tentang budaya, mengangkat tradisi ke garis depan budaya modern. Ade memahami bahwa melestarikan budaya dan tradisi dapat menjadi usaha yang kurang dihargai dan seringkali kurang menguntungkan secara ekonomis. “Makanya aku mencoba share bahwa Sekala mau jadi wadah untuk, misalnya seorang penari tradisional, bagaimana naungan Sekala ini bisa membawa mereka agar mereka juga bisa make money,” jelas Ade. Dia berharap Sekala 369 dapat menjadi sarana untuk melestarikan budaya dan adat istiadat tersebut. Senada dengan Ade, Eka pun berharap khususnya bagi generasi muda untuk lebih menghargai budaya Bali. “Orang di luar aja pada ke sini untuk belajar budaya [kita]. Masa kita enggak mempertahankan roots-nya dulu?” tegas Eka menutup perbincangan.

Slide-1-
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
Slide-9
Slide-10
About the Author

Kireina Masri

Kireina Masri has had their nose stuck in a book since they could remember. Majoring in Illustration, they now write of all things visual—pouring their love of the arts into the written word. They aspire to be their neighborhood's quirky cat lady in their later years.