Mencetak Pemimpin Lintas Sektor Lewat Design Leadership
Ketika berbicara tentang desain, ada aspek yang lebih luas dari estetika—bagaimana desain dapat mengambil peran sentral dalam berbagai sektor sosial, budaya, hingga politik. Design thinking sendiri merupakan wawasan terkait pola pikir yang tidak hanya berkutat pada keputusan artistik melainkan fungsi-fungsi krusial di kehidupan sehari-hari. Berangkat dari gagasan bahwa desain dapat berkembang menjadi praktik multidisiplin dan mengambil posisi di berbagai keputusan masyarakat, pada Agustus 2023, Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkenalkan program studi magister baru yang bertujuan untuk melahirkan pemimpin di berbagai bidang melalui pendekatan desain. Program ini, yang dinamakan Design Leadership, membuka pintu untuk berbagai latar belakang akademik untuk mempelajari dan mewujudkan kemungkinan-kemungkinan desain yang lebih luas lagi. Grafis Masa Kini berbincang dengan Prananda Luffiansyah Malasan, salah satu penggagas, untuk mengenal program studi ini lebih dalam dan karya nyatanya bagi masyarakat luas.
Kebutuhan untuk program studi Design Leadership di ITB ini muncul pada akhir 2022. Menurut penuturan Prananda, ide untuk menciptakan program ini bermula dari gagasan multidisiplin—praktik lintas jurusan di kampus. “Kami bekerja sama dengan Fakultas Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Kebijakan Kota (SAPPK) untuk membangun program studi ini. Hostnya di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), tetapi kolaborasi kami mencakup berbagai disiplin ilmu,” jelasnya. Program ini berbeda dari pendidikan desain konvensional yang biasanya berfokus pada pembuatan objek. Prananda dan timnya ingin memanfaatkan cara berpikir desain yang berfokus pada pemecahan masalah dan inovasi untuk menangani permasalahan kompleks seperti kemiskinan, bencana alam, dan banjir. “Kami ingin lulusan kami mampu membawa perubahan nyata dalam mengatasi masalah-masalah besar,” ujarnya. Melihat lebih luas, Prananda menyampaikan bahwa desain di skala global sudah memiliki peran yang lebih krusial di ranah lingkungan bermasyarakat. Menceritakan pengalamannya di tahun 2022, Prananda berbagi, “Saya waktu itu mengikuti forum beberapa universitas di bidang seni dan desain waktu di Jepang. Saat conference kita membicarakan bagaimana pendidikan seni dan desain bisa menyelesaikan masalah yang super kompleks karena saat ini banyak lulusan seni dan desain yang tidak hanya bergerak di bidangnya, “Misalnya, ada lulusan S3 Musashino Art University yang setelah lulus malah menjadi CEO Bank of America,” cerita Prananda. Posisi-posisi sentral yang duduki oleh lulusan desain di berbagai belahan dunia menjadi referensi dalam membangun program Design Leadership.
Seperti namanya, Design Leadership bertujuan untuk melahirkan pemimpin yang dapat berperan sebagai agen perubahan di berbagai sektor, termasuk bisnis, kreatif, dan pemerintahan. “Desain secara alami tidak pernah berdiri sendiri. Desain selalu berkolaborasi dengan bidang-bidang lain,” kata Prananda. Oleh karena itu, program ini menekankan pentingnya bekerja lintas disiplin dan stakeholder. Pendidikan kepemimpinan juga menjadi fokus utama dalam program ini. Prananda menekankan bahwa untuk bekerja lintas disiplin dan menularkan semangat yang sama kepada orang-orang dari berbagai disiplin ilmu, diperlukan jiwa kepemimpinan yang kuat. “Sebetulnya yang kurang kita lihat adalah jiwa kepemimpinan itu karena bagaimanapun untuk bekerja lintas disiplin dan menularkan spirit yang sama ke orang yang bebeda-beda disiplin pasti butuh jiwa kepemimpinan yang besar,” ungkap Prananda. Oleh karena itu, program ini menyisipkan pendidikan karakteristik kepemimpinan melalui mentoring dengan tokoh-tokoh ternama, baik dari dalam maupun luar negeri. “Mahasiswa tidak banyak mendapatkan teori di kelas, tetapi mereka bertemu dengan tokoh-tokoh atau terjun ke lapangan untuk membuat sebuah proyek bersama masyarakat dengan pendekatan partisipatori,” jelasnya. Contohnya, batch pertama program ini memulai perkuliahan dengan pertemuan di NuArt di Bandung, di mana mereka mendapatkan mentoring dari Nyoman Nuarta dan Eisuke Tachikawa, CEO Nosigner. “Kebetulan saat itu juga ada Eisuke Tachikawa, CEO Nusainger, di Bandung. Kita ajak mentoring juga untuk mahasiswa. Eisuka tidak claim dirinya sebagai desainer atau arsitek tapi memposisikan diri sebagai design strategist karena banyak praktiknya yang dekat dengan politik, dan sekarang isu perubahan iklim,” kata Prananda. Melalui mentoring bersama Eisuke Tachikawa tersebut, mahasiswa belajar bagaimana pendekatan desain menjadi medium bekerja sama dengan berbagai ahli untuk mengatasi permasalahan iklim dengan inovasi-inovasi yang adaptis terhadap lingkungan. Pada kegiatan pembelajaran yang diadakan minimal dua bulan sekali ini, mahasiswa lebih mempelajari karakter-karakter kepemimpinan dengan pendekatan desain—mengingat pelajaran tentang teknis desain merupakan ilmu yang didapatkan mahasiswa S1.
Program Design Leadership ITB ini memiliki kurikulum yang 70% berfokus pada FSRD dan 30% pada SAPPK. Di FSRD, mahasiswa belajar teori desain dan pengembangan komunitas, sedangkan di SAPPK mereka mempelajari analisis kebijakan dan pengelolaan sumber daya alam, sosial, politik, dan budaya. “Kami ingin mereka mampu melihat permasalahan secara lebih luas, tidak hanya dari sudut pandang desain tetapi juga dari perspektif politik dan sosial. Selain itu yang saya lihat, di SAPPK mereka belajar soal analisis kebijakan, di saat bersamaan dikasih study case tertentu dan mereka harus berdebat,” kata Prananda. Mahasiswa juga diberikan tugas-tugas praktis yang menantang mereka untuk mengembangkan solusi nyata bagi masalah-masalah di masyarakat. Misalnya, program ini bekerja sama dengan UNHCR dan University of Arts London dalam proyek untuk membantu pengungsi di Indonesia. Mahasiswa Design Leadership merancang modul untuk membantu pengungsi merancang visi dan misi masa depan mereka serta menumbuhkan harapan mereka di tengah rasa kehilangan tempat tinggal. Contoh praktik lainnya adalah saat beberapa mahasiswa Design Leadership mencoba untuk mengembangkan desa produsen layangan di Padalarang. “Hampir semua layangan dibuat di situ. Ada keinginan untuk branding desanya sebagai desa layangan, membuat kagiatan, dan sampai akhirnya mendorong regenerasi dengan pemikiran ‘membuat layangan keren, lho, (membuat) layangan juga bisa hidup’,” jelas Prananda.
Meskipun program ini menawarkan banyak peluang, tantangan tetap ditemukan oleh Prananda dan rekan-rekannya dalam prosesnya. Pada awal terbentuknya program studi ini, salah satu tantangan terbesar adalah meyakinkan pihak internal ITB mengenai pentingnya program ini. “Meyakinkan teman-teman di bidang seni itu cukup sulit, tetapi setelah satu semester dan proyek-proyek nyata mulai terlihat, program ini sekarang menjadi unggulan,” ujar Prananda. Selain itu, keberagaman mahasiswa juga menjadi tantangan hingga sekarang. Saat ini, program Design Leadership masih didominasi oleh lulusan desain. “Kami ingin membuka peluang bagi orang-orang non-desain untuk belajar di sini agar pembelajaran antar mahasiswa lebih beragam,” tambahnya. Meskipun demikian, harapan besar ditaruh pada lulusan program ini. “Kami berharap lulusan-lulusan kami dapat membawa perubahan di berbagai kawasan, tidak hanya di kota-kota besar tetapi juga di daerah-daerah terpencil,” kata Prananda. Dia menambahkan bahwa proyek-proyek akhir mahasiswa diharapkan dapat memberikan dampak nyata di masyarakat. “(Kami harap) sampai 10 tahun lagi lulusan-lulusan (Design Leadership) ini memiliki posisi sentral atau strategis di institusinya masing-masing. Mungkin nanti di batch sepuluh baru kelihatan ada yang sudah jadi Dirjen, CEO, yang pasti kita ingin melahirkan leaders, pemimpin, agen perubahan.”
Prananda menekankan bahwa di banyak negara, desain telah memainkan peran sentral dalam berbagai praktik, termasuk kebijakan pemerintah, dan saat ini waktunya untuk melihat desain lebih dari sekadar estetika. Di beberapa negara, seperti Inggris dan Singapura, desain telah diakui sebagai elemen penting dalam pengembangan kebijakan dan strategi nasional. Contohnya, di Inggris, dibentuklah Design Council pada tahun 1944, pasca-Perang Dunia II, dengan tujuan menggunakan desain sebagai alat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui inovasi industri. Pemerintah saat itu memahami bahwa untuk membangun kembali dan mengembangkan industri yang kuat, desain harus memainkan peran sentral. Sementara itu, di Singapura, National Design Centre berfungsi sebagai penasihat pemerintah, termasuk Perdana Menteri dan para menteri lainnya, dalam mengembangkan kebijakan yang dapat membawa perubahan positif dalam kehidupan masyarakat. Perusahaan desain seperti Ideo telah menjadi mitra penting pemerintah dalam menyusun kebijakan di berbagai kementerian di Singapura. Contoh lainnya adalah Nosigner, yang kini menjadi penasihat Menteri Lingkungan Hidup Jepang untuk merumuskan kebijakan pembangunan yang adaptif terhadap lingkungan sosial dan budaya. Dulu, posisi semacam ini mungkin diisi oleh para ahli dari disiplin ilmu non-desain, namun kini desainer juga diakui memiliki peran strategis dalam pengambilan keputusan. Perkembangan ini juga terlihat pada organisasi desain internasional, seperti World Design Organization yang sebelumnya dikenal sebagai International Council of Societies of Industrial Design (ICSID). Jika dulunya fokus lebih terbatas pada perkembangan industri dan ekonomi, kini mereka memiliki visi yang lebih luas, yaitu bagaimana desain dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan secara keseluruhan. Hal ini menandakan pergeseran paradigma di mana desain tidak lagi hanya berkutat pada objek dan estetika, tetapi juga menjadi instrumen untuk mencapai perubahan sosial yang lebih luas.
“Artinya desain itu everywhere, desain itu ngga cuma di sektor industri, harus ada di sektor kebudayaan, ekonomi, politik, kesehatan, pertanian, dan lain-lain. Pada esensisnya, cara berpikir desain itu tidak hanya eksklusif milik desainer atau seniman tapi harus dipikirkan semua orang karena setiap orang harus aware terhadap sebuah masalah dan apa solusinya. Arah dari keilmuan atau pengertian desain itu memang harus diubah yang tadinya hanya fokus pada estetika dan fungsi, tetapi justru kita akan lama-lama tap in ke isu moralitas, etik, dan perubahan di society yang lebih luas lagi,” tegas Prananda.
Dalam mewujudkan posisi di berbagai sektor, desainer harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih dari sekadar teknis. Mereka harus memahami dinamika politik, mampu melobi, dan merumuskan kebijakan yang efektif—kemampuan yang jarang diajarkan dalam kurikulum desain konvensional. Inilah yang menjadi fokus utama dalam program Design Leadership di ITB. Mahasiswa program ini tidak hanya dibekali dengan keterampilan desain, tetapi juga diekspos pada proses merumuskan kebijakan, memahami isu-isu di sekitar, serta bagaimana memengaruhi pengambilan keputusan di tingkat yang lebih tinggi. Design Leadership adalah upaya untuk menciptakan pemimpin-pemimpin yang mampu membawa perubahan lewat desain, tidak hanya di dunia kreatif, tetapi juga dalam masyarakat secara keseluruhan.