Silvio Gazzaniga, Di Balik Trofi Piala Dunia


Setiap empat tahun sekali, miliaran pasang mata tertuju pada satu benda kecil berlapis emas yang diangkat tinggi di tengah lapangan. Trofi Piala Dunia FIFA sudah jadi simbol puncak pencapaian dalam sepak bola, tapi bentuknya yang sekarang cuma salah satu dari dua wajah yang pernah dipakai turnamen ini sejak pertama digelar pada 1930. Ada dua desain berbeda yang membentuk sejarah panjang trofi paling bergengsi di dunia olahraga, dan keduanya lahir dari tangan dua pematung dengan cerita yang jauh berbeda.

Trofi pertama diberi nama Victory, hasil rancangan pematung asal Prancis, Abel Lafleur. Bentuknya berupa patung emas yang menggambarkan Nike, dewi kemenangan dalam mitologi Yunani, menopang cawan bersegi delapan di atas kepalanya. Terbuat dari perak murni berlapis emas dengan alas batu lapis lazuli, trofi ini punya tinggi 35 cm dan berat sekitar 3,8 kg. Pada 1946, namanya diubah jadi Trofi Jules Rimet, sebagai penghormatan kepada Presiden FIFA yang memprakarsai turnamen Piala Dunia pertama.

Aturan awal FIFA menetapkan bahwa negara yang menjuarai Piala Dunia sebanyak tiga kali berhak menyimpan trofi tersebut secara permanen. Brasil mencapai rekor itu pada 1970, setelah menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya sesudah 1958 dan 1962, sehingga Trofi Jules Rimet resmi menjadi milik mereka selamanya.

zoom-1


Perjalanan trofi ini sendiri penuh drama. Selama Perang Dunia II, Wakil Presiden FIFA Ottorino Barassi menyembunyikannya di dalam kotak sepatu di bawah tempat tidurnya agar tidak disita tentara Nazi. Menjelang Piala Dunia 1966, trofi ini sempat dicuri saat dipamerkan di London, dan baru ditemukan kembali di balik semak-semak berkat seekor anjing bernama Pickles. Nasib paling buruk datang pada 1983. Trofi yang saat itu disimpan di markas Konfederasi Sepak Bola Brasil di Rio de Janeiro dicuri lagi, dan kali ini tidak pernah ditemukan. Dugaan kuat menyebut trofi itu sudah dilebur oleh para pencuri. Brasil kini hanya menyimpan replikanya.

Kekosongan itu membuka jalan bagi wajah baru Piala Dunia. Sesudah Brasil resmi memiliki Trofi Jules Rimet, FIFA membuka kompetisi terbuka pada 1970 untuk mendesain trofi pengganti. Dari 53 desain yang masuk dari berbagai penjuru dunia, karya seniman pahat asal Italia bernama Silvio Gazzaniga terpilih sebagai pemenang.

“Idenya adalah untuk menciptakan sesuatu yang melambangkan usaha, dinamisme, dan kegembiraan seorang atlet di saat kemenangan, dengan segala kebahagiaan yang menyertainya,” jelas Gazzaniga dalam sebuah wawancara dengan FIFA beberapa tahun sebelum ia meninggal pada tahun 2016. “Sosok-sosok yang muncul dari material dasar yang kasar membangkitkan rasa sukacita dalam kemenangan. Cincin malachite di alasnya sangat cocok dengan patung tersebut karena warnanya hijau, seperti lapangan sepak bola, dan juga merupakan batu mulia.”

Desain itu menampilkan dua figur manusia yang memegang dan menopang bola dunia dengan kedua tangan terangkat ke atas, jauh dari bentuk cawan konvensional yang jadi standar trofi olahraga selama ini. Trofi ini terbuat dari emas murni 18 karat dengan alas melingkar berlapis dua cincin batu malakit hijau, berdiri setinggi 36,8 cm dengan berat total 6,175 kg. Di bagian bawah alasnya, terukir nama-nama negara pemenang beserta tahun kemenangan sejak edisi 1974.

zoom-3


FIFA juga mengubah aturan kepemilikan untuk trofi baru ini. Tidak ada negara yang boleh menyimpan trofi emas asli secara permanen, berapa kali pun mereka menjuarainya. Tim pemenang hanya memegang trofi asli selama masa perayaan, lalu membawa pulang replika berlapis emas sebagai kenang-kenangan. Trofi asli tetap disimpan dan dirawat ketat di markas besar FIFA di Zurich, Swiss.

Sosok di balik trofi ini, Silvio Gazzaniga, lahir di Milan pada 23 Januari 1921. Sejak muda ia mendalami seni patung dan seni terapan di sekolah seni terkemuka di Milan, Scuola d'Arte del Castello, dan Accademia di Brera. Kariernya dimulai sebagai desainer medali, plakat, dan lambang hiasan untuk pabrik-pabrik piala pada era 1940-an sampai 1950-an. Keahliannya mengolah logam mulia dan detail ukiran membuatnya dilirik produsen piala ternama Italia, GDE Bertoni.

Momen puncak kariernya datang saat FIFA membuka kompetisi desain trofi baru pada 1970 sampai 1971. Gazzaniga mengurung diri di studio Bertoni selama seminggu untuk membuat patung gips, dan desainnya berhasil menyisihkan 52 kandidat lain dari seluruh dunia. Ia kemudian menjadi direktur seni di Bertoni dan terus merancang trofi utama untuk federasi sepak bola lainnya. Ia wafat secara damai dalam tidurnya di rumahnya di Milan pada 31 Oktober 2016, di usia 95 tahun.

Trofi Piala Dunia hanyalah satu dari sederet warisan Gazzaniga di dunia sepak bola. Ia juga merancang Trofi UEFA Cup pada 1972, terbuat dari perak murni di atas alas marmer kuning, tanpa pegangan konvensional, tetapi menampilkan figur-figur pemain sepak bola yang saling menopang struktur piala. Setahun kemudian ia mendesain Trofi UEFA Super Cup untuk mempertemukan juara Liga Champions dan juara Liga Europa, dan pada 1978 merancang Trofi UEFA Under-21 Championship dengan garis-garis modern yang jadi ciri khasnya.

Gaya pahat Gazzaniga punya karakter yang mudah dikenali. Ia jarang memakai bentuk cawan konvensional dan lebih suka mengukir figur manusia yang bergerak dinamis, seperti atlet dalam momen puncak perjuangan mereka. Banyak karyanya juga mengusung garis melingkar atau spiral yang membumbung ke atas, melambangkan energi dan puncak emosi saat merayakan kemenangan. Warisan itu masih berdiri tegak setiap kali seorang kapten tim mengangkat trofi emas ke udara, disaksikan miliaran orang di seluruh dunia sekali dalam empat tahun.

web-17
web-18
web-20
zoom-2
web-19
web-16
web-21
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.