Mendendangkan Kembali Lagu-Lagu Disko Indonesia di Senandung di Batas Mimpi
Kolaborasi membuka berbagai kemungkinan. Begitu pula yang terjadi di antara Diskoria, Irama Nusantara, Binatang Press!, dan Norrm. Dengan kepiawaian masing-masing di bidangnya, mereka berkolaborasi dan merilis sebuah publikasi dengan tajuk Senandung di Batas Mimpi. Publikasi yang diluncurkan pada 22 Desember lalu ini merupakan diskografi 100 lagu disko Indonesia dari periode 1970 sampai 1980-an.
Kilas balik pada kunjungan Diskoria ke kantor Irama Nusantara di tahun 2019. Lewat obrolan santai soal lagu “Serenata Jiwa Lara” yang akan dirilis oleh Diskoria, percakapan berlanjut pada wacana untuk membuat sebuah buku bersama. “Melewati masa pandemi, wacana ini menguap hingga di 2021. Setelah sukses merilis buku pertama Dari Ngak Ngik Ngok ke Dheg Dheg Plas melalui Printed Melodies [proyek kolaborasi Irama Nusantara, Binatang Press!, dan Norrm], kami mengangkat kembali wacana ini ke teman-teman Norrm dan Binatang Press!,” Gerry Apriryan dari Irama Nusantara mencoba mengingat kembali awal mula proyek kolaborasi ini.
Pada proyek kolaborasi ini, Diskoria bertindak sebagai kurator dalam pemilihan lagu atau album yang masuk ke dalam daftar. Fadli Aat dari Diskoria menjelaskan bahwa pemilihan berdasarkan informasi atau cerita penting yang dimiliki oleh tiap lagu atau album. “Lagu-lagu ini pun juga adalah bagian dari setlist kami dari perjalanan kami sejak 2015 silam,” tambah Aat. Sementara itu, Merdi Simanjuntak dari Diskoria mengatakan bahwa lagu-lagu yang dipilih merupakan favorit dan inspirasi personalnya. “Lagu-lagu yang secara aransemen seru, bisa untuk joget, memiliki sound yang unik dan mungkin ada cerita menarik di balik proses pembuatannya,” tuturnya.
Aat menjelaskan bahwa disko pada publikasi ini adalah penyederhanaan istilah dari musik pop Indonesia yang berirama upbeat agar mudah diingat. Ia mengatakan, “‘Kenapa genre ini yang dipilih?’ Karena sangatlah banyak lagu-lagu yang sebenarnya layak untuk dikabarkan kepada generasi sekarang yang mungkin dulunya tenggelam karena kurang mendapat tempat di market musik pop Indonesia. Namun, sekarang barulah terasa menjadi “baru” dan menyegarkan dengan tetap menampilkan ke-Indonesiana-annya. Ibarat memberi kesempatan kedua untuk lagu-lagu ini bisa diterima di generasi sekarang.”
Sementara itu, Irama Nusantara bertindak untuk mengumpulkan arsip. Gerry mengatakan, “Tidak seluruh pilihan rilisan dari Diskoria sudah ada arsip rilisannya, sehingga harapannya dengan program ini juga, Irama Nusantara dapat menambah koleksi arsip digital rilisannya melalui koleksi rilisan milik Merdi, Aat, atau bahkan teman-teman Diskoria.” Gerry menambahkan, “Selain milik teman-teman Diskoria, kami juga mendapatkan arsip rilisan dari berbagai sumber lain, seperti para kolektor, yaitu Budi Warsito, Samson Pho, teman-teman Alunan Nusantara, serta pedagang rilisan musik, seperti Andi Twins.”
Tak hanya soal arsip rilisan, Irama Nusantara juga mengumpulkan arsip dari media massa sebagai sumber data pendukung. Ia mengatakan bahwa selain diambil dari koleksi arsip digital Majalah Aktuil periode 1967 sampai 1980 yang sudah dimiliki Irama Nusantara, arsip lainnya merupakan hasil pencarian di repositori lain, seperti Perpusnas, Pusat Data dan Analisa Tempo, dan Arsip Kompas.
“Untuk setiap rilisannya, Irama Nusantara juga melakukan riset arsip. Pertama, untuk memastikan informasi rilisannya tepat. Selain itu, juga menambahkan seluruh fakta atau informasi terkait masing-masing lagu atau rilisannya,” Gerry menjabarkan peran lain Irama Nusantara. “Yang kedua, dalam proses pembuatan, muncul ide untuk menambah kolom "Fakta Disko" yang menampilkan trivia mengenai fenomena disko di Indonesia sekitar era 1970 sampai 1980-an. Sehingga, ranah penelitian pun bertambah ke topik tersebut. Di luar yang terkait dengan daftar pilihan 100 lagu Diskoria. Seluruh output dari penelitian ini disusun editorialnya oleh Irama Nusantara ke dalam format kebutuhan buku. Begitu juga proses suntingnya.”
Sedang dari sisi perancangan buku, Binatang Press! berangkat dari lagu “Senandung dibatas Mimpi” oleh Harry Dea yang rilis pada 1979. Lagu ini pula yang dibawakan ulang oleh Diskoria, Fariz RM, dan Jamie Aditya dan dirilis bersamaan dengan buku Senandung di Batas Mimpi. Wanda Kamarga dari Binatang Press! mengatakan, “Dari riset visual kami, ada beberapa inspirasi yang kami ambil karena dirasa merepresentasikan mood dari single tersebut. Penghujung dekade 70-an ini kami pandang sebagai era kejayaan hi-fi. Kami banyak mengumpulkan brosur dan katalog hi-fi era itu, mulai dari Pioneer, Marantz, Panasonic, dan lain lain. Dari situ didapati banyak karakteristik typeface yang bersifat retro-futurisme.”
Gagasan visual dan arahan tersebut kemudian diimplementasikan ke dalam rancangan buku berdasarkan pembagian flat plan. Cara kerja tersebut membuat konten dapat didistribusikan sesuai dengan alokasi jumlah halaman. Wanda juga melihat bahwa Binatang Press! bisa membantu melengkapi narasi visual dari buku ini melalui fotografi. “Oleh karena itu, kami menambahkan beberapa foto yang sifatnya 'tematis' dan responsif terhadap topik buku ini. Gambar-gambar tersebut lalu kami sisipkan sebagai spread di beberapa bagian buku agar pembaca bisa jeda sedikit dan mendalami konteks bukunya melalui konten visual,” ia menjelaskan.
“Mungkin kita semua sadar bahwa Diskoria selalu membuka video klip mereka dengan judul dari single di video klip tersebut. Oleh karena itu, diawal kami memprioritaskan konsentrasi kami untuk font yang akan dipakai untuk menulis judul ini, apalagi karena judul single dan judul buku nantinya akan sama,” Wanda menjelaskan soal pemilihan fon pada buku ini. “Sehingga, ketika kami pertama kali menguji coba tipografi untuk judul single-nya, kami sengaja menempelkan di atas screenshot video klip Diskoria. Patokannya, kalau serasi dengan grading dan estetis video klip Diskoria secara umum, baru kami yakin bahwa font-nya sudah sesuai untuk dipakai sebagai cover buku baru ini.”
Ia melanjutkan, “Akhirnya terpilihlah suatu font lama pilihan Smita Basuki, Creative Associate kami yang in charge pada proyek ini. Karakteristik font-nya cukup rounded, namun tipis dan tidak berkait, sebuah gaya yang banyak kami temukan di beberapa arsip-arsip yang kami riset. Lalu, Smita menambahkan efek garis repetitif yang cukup banyak ditemui pada grafis-grafis futuris era tersebut. Lucunya, nama dari font yang terpilih ini adalah Harry.”
Publikasi ini menjadi salah satu proyek kolaborasi yang mampu menyatukan berbagai disiplin. Lewat musik dan kreativitas perancangan publikasi, Senandung di Batas Mimpi menjadi bentuk pengarsipan yang relevan dengan presentasi yang baik dan menawarkan pengalaman membaca yang seru. Tak hanya sebagai publikasi cetak, Senandung di Batas Mimpi juga menjadi pintu menilik kembali perjalanan populer musik Indonesia.