Situated Sustainability: Kardus, Kepedulian, dan Komunitas dalam Praktik Bumi Kardus
Kepedulian terhadap keberlanjutan telah lama hidup dalam industri desain, memicu urgensi bagi para desainer untuk mempertimbangkan dan melawan bencana ekologis. Fokus pada ‘bencana’ iklim, narasi non-antroposentris, serta inisiatif penghematan energi menjadi respons yang populer dalam upaya mencapai praktik desain yang berkelanjutan, yang umumnya berasal dari akademisi dan praktisi Barat. Hal ini telah membentuk sebuah “standar” keberlanjutan yang kerap mengabaikan kebutuhan nyata suatu komunitas. Bagi mereka yang mampu memenuhi standar tersebut, karya mereka sering kali dianggap memiliki nilai tambah dalam pemasaran; sementara praktik-praktik yang berada di luar konvensi tentang apa yang dianggap cukup berkelanjutan justru terabaikan.
Pada kenyataannya, keberlanjutan membutuhkan keterikatan, suatu pijakan yang responsif terhadap urgensi lokal, serta mampu menawarkan cara alternatif untuk menumbangkan kerusakan sistemik yang dibentuk oleh produksi kapitalistik. Dalam konteks ini, keberlanjutan mungkin berarti mempraktikkan kesadaran terhadap limbah, dan dalam kasus desainer, pengakuan atas kelebihan yang melekat dalam proses produksi. Melalui kardus, Baba Sanjaya merangkul potensi limbah dengan cara yang tidak hanya radikal, tetapi juga menghangatkan.
“Saya tertarik pada kemungkinan-kemungkinan dari kardus, dan saya sering memikirkan hal-hal apa saja yang bisa kita ciptakan dan lakukan dengan material ini,” ujar Baba dalam panggilan video kami, sambil duduk santai di sebuah kafe terbuka, mendengarkan suara azan. Bumi Kardus berawal dari kegiatan iseng dari menonton YouTube dan tutorial daring tentang dekorasi kardus, yang kemudian Baba mengikuti dan membuat untuk anak perempuannya. Ia bercanda bahwa sang anak adalah kritikus terberatnya, yang sering menantang kemampuannya dalam mendekorasi: “Jujur saja, saya cuma jago di produksi, jadi untuk finishing saya serahkan ke anak saya.” Bersama-sama, mereka bereksperimen dan memperlakukan kardus sebagai medium untuk berbagai mainan: kastil, rumah, taman bermain–apa pun yang diinginkan sang anak.
Suatu hari, ia memutuskan untuk mengunggah beberapa karyanya di Facebook, dan seorang teman menghubunginya untuk menanyakan apakah ia menerima pesanan. Baba menjawab ya, dan dari satu pesanan, datang pesanan berikutnya. “Semua minta dibuatkan untuk anak-anak mereka!” katanya, mengenang bagaimana setiap pesanan–dari rumah Barbie hingga mobil-mobilan–memperkuat fondasi bisnisnya. Pada 2016, Baba mengambil langkah besar dengan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai petugas keamanan untuk menjalankan apa yang kini kita kenal sebagai “Bumi Kardus”. Kisah ini juga terpatri dalam namanya: “Bumi Kardus itu sebenarnya bentuk penghormatan untuk anak saya, karena namanya Bumi dan semuanya berawal dari menggambar dan bermain kardus bersama dia.” Ia mengakui bahwa diskursus keberlanjutan relatif baru baginya dan timnya, dan niat awal mereka bukanlah untuk mempromosikan keberlanjutan atau memposisikan diri sebagai aktivis lingkungan. “Semuanya hanya… kebetulan saja, percaya atau tidak,” ujarnya sambil tertawa.
Bumi Kardus mengeksplorasi fleksibilitas kardus sebagai material yang dapat dibongkar, disusun, digambar, dan ditransformasikan. Portofolio mereka mencakup berbagai kolaborasi dengan korporasi, festival musik, hingga proyek non-pemerintah; menghasilkan beragam karya dekorasi stan dan instalasi di Jakarta, Yogyakarta, Kuala Lumpur, hingga London. Baba menjelaskan bahwa daya tahan kardus juga menguntungkan dalam hal distribusi: “Kami harus memastikan setiap pesanan bisa dirakit dengan mudah oleh klien. Kadang kami bisa membantu pemasangan, tapi sering juga kami harus membuat panduan sejelas mungkin agar mereka bisa memasangnya sendiri.”
Selain pesanan, Bumi Kardus juga rutin mengadakan lokakarya yang mengajak orang dewasa dan anak-anak untuk membuat kreasi kardus mereka sendiri. Seperti halnya pesanan, kegiatan ini awalnya hanya untuk bersenang-senang, namun kini berkembang menjadi program publik yang mempertemukan peserta untuk berkreasi bersama sekaligus belajar tentang berbagai kemungkinan penggunaan kardus. Baba mengungkapkan bahwa respons tiap kelompok usia berbeda-beda: “Orang dewasa biasanya bertanya kenapa atau bagaimana kardus bisa dianggap ramah lingkungan. Saya biasanya menjelaskan bahwa ada kesalahpahaman: banyak yang mengira hanya kardus bekas yang ramah lingkungan, padahal kardus baru pun bisa didaur ulang karena merupakan material komposit dari akumulasi bahan sebelumnya.” Ia menambahkan bahwa pertanyaan dari peserta dewasa sering berkaitan dengan gaya hidup ramah lingkungan, mencerminkan meningkatnya minat terhadap isu keberlanjutan di Indonesia.
“Anak-anak, di sisi lain, jauh lebih eksploratif dalam menggunakan kardus. Mereka lebih penasaran, menjadikannya kanvas imajinasi. Berbeda dengan orang dewasa, mereka melihat kardus sebagai medium bermain, menambahkan aksesori, menghias, dan mendesainnya,” refleksi Baba. Ia menambahkan bahwa respons anaknya sendiri menginspirasinya dan menunjukkan bahwa eksplorasi anak memiliki peran besar dalam memperluas kemungkinan penggunaan kardus. Mungkin di sinilah kita belajar bahwa keberlanjutan bukan sekadar keterikatan pada sebuah ideologi, melainkan undangan untuk bermain secara aktif di mana eksplorasi dapat membentuk proses pengelolaan limbah itu sendiri. “Dari Bumi, saya sadar bahwa peran saya sebagai orang dewasa adalah melibatkan anak-anak dalam proses kreasi kolektif, dan memberi mereka ruang untuk bereksperimen. Anak-anak punya rasa kepemilikan yang hanya bisa tumbuh lewat proses mencipta.”
Kita kembali pada awal mula Baba mendirikan Bumi Kardus, di mana ia menegaskan bahwa hatinya tertambat pada proyek-proyek yang melibatkan anak-anak: “Kalau boleh jujur, saya memang suka sekali proyek yang melibatkan anak-anak, seperti membuat taman bermain. Karena bahannya kardus, kita bisa lihat anak-anak mencoret-coret atau membentuk ulang sesuka mereka.” Taman bermain menjadi inti dari misi (yang tak terucapkan) Bumi Kardus untuk mewujudkan potensi kardus sebagai medium bermain untuk aktivitas permainan, wahana, dan ruang eksplorasi.
Ketika ditanya tentang proyek favoritnya, Baba justru menyebut berbagai kolaborasi, seperti dengan Sekolah Murid Merdeka dan SmartKids Asia: “Kami banyak belajar dari kolaborasi ini, karena kami bisa membayangkan ulang konteks bermain untuk anak-anak bersama. Misalnya, di SmartKids Asia, kami menceritakan sebuah kisah sebelum anak-anak masuk ke area bermain, sehingga mereka punya narasi di kepala untuk berimajinasi dan melihat kardus secara berbeda. Lalu ketika masuk, mereka menjalankan ‘misi’ untuk menemukan harta karun di dalamnya.”
Sebagai seorang ayah, Baba menempatkan anak-anak sebagai pusat dalam praktik “desain”-nya (meski ia sendiri dengan rendah hati menolak menyebut dirinya sebagai desainer), yang sekaligus mencerminkan relasinya yang khas terhadap ekologi yang berakar pada kepedulian, permainan, dan pertukaran antargenerasi. Bersama timnya, mereka menemukan bahwa praksis keberlanjutan melalui aktivitas permainan, taman bermain, dan wahana dari kardus menjadikan proyek mereka tidak hanya hemat sumber daya secara material, tetapi juga produktif secara sosial. Apa yang bermula sebagai praktik intim antara ayah dan anak kini berkembang menjadi praktik kolektif yang mengundang partisipasi, imajinasi, dan penciptaan bersama. Dalam hal ini, Bumi Kardus tidak sekadar mendaur ulang material; ia merumuskan ulang hubungan antara manusia, limbah, dan proses penciptaan itu sendiri.
Alih-alih mengikuti standar keberlanjutan yang telah ditentukan, praktik Baba menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat lahir dari gestur sehari-hari yang kontekstual yang mengutamakan kebersamaan, kegembiraan, dan respons terhadap kebutuhan komunitas. Mungkin di sinilah keberlanjutan bergeser: dari kerangka yang kaku menjadi proses yang hidup dan terus dinegosiasikan.